Kalah Pamor Lulusan SMK, Salah Siapa?

Sejumlah siswa melakukan uji kompetensi keahlian tata boga di smk negeri 1 bawen, kabupaten semarang, jawa tengah, kamis (25/2). selain untuk persyaratan ujian nasional (un) 2016, uji kompetensi tersebut juga menjadi syarat siswa untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga sertifikasi profesi (lsp) kepariwisataan badan nasional sertifikasi profesi (bnsp) agar pasa siswa siap menghadapi era masyarakat ekonomi asean (mea). antara foto/aditya pradana putra/foc/16.
- 6 April 2016
Dibaca Normal 2 menit
Persentase lulusan SMK yang menganggur melebihi lulusan SMA. Perlambatan ekonomi dituding sebagai penyebabnya. Padahal, bisa jadi karena pemerintah gagal membentuk lulusan SMK berkualitas.
Lulusan SMK yang tidak berkualitas ini tentu menjadi masalah tersendiri. Pemerintah tidak berhasil melakukan sinkronisasi antara lulusan SMK dengan dunia kerja. Kini kualitas adalah harga mati bagi lulusan SMK yang akan memasuki dunia kerja.
tirto.id - Persentase lulusan SMK yang menganggur melebihi lulusan SMA. Perlambatan ekonomi dituding sebagai penyebabnya. Padahal, bisa jadi karena pemerintah gagal membentuk lulusan SMK berkualitas.

Awal April merupakan hari yang mendebarkan bagi para siswa menengah atas. Sebanyak 3.302.673 siswa Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti Ujian Nasional (UN) pada 4 – 7 April 2016.

Kelulusan merupakan hal yang mendebarkan bagi mereka yang lepas dari bangku sekolah atas. Mereka yang memiliki kemampuan, masih harus mencari jenjang sekolah lanjutan. Sementara bagi yang tidak memiliki kemampuan, pilihannya adalah mencari kerja atau menganggur. Opsi yang terakhir ini terutama ditujukan kepada para siswa SMK, yang memang disiapkan untuk terjun ke dunia kerja setelah lulus. Meskipun tidak tertutup kemungkinan para siswa lulusan SMK melanjutkan ke perguruan tinggi.

Pemerintah memang pernah beriklan besar-besaran untuk menarik minat siswa masuk SMK. Tujuannya, membuat angkatan kerja yang siap masuk ke dunia kerja. Pada 2009, Departemen Pendidikan Nasional (Kini Kemendikbud) gencar mengeluarkan iklan “SMK Bisa”.

“SMK bisa! Siap kerja, Cerdas dan kompetitif.” Begitu jargon pemerintah tentang SMK yang diluncurkan beberapa tahun silam.

Sayangnya, jargon itu lambat laun menghilang. Gembar-gembor soal SMK menciptakan lulusan siap kerja sudah sepi. Seiring dengan itu, jumlah pengangguran lulusan SMK malah terus meningkat. Pemerintah tidak berhasil melakukan sinkronisasi antara lulusan SMK dengan dunia kerja.

Pengangguran SMK Meningkat

Lulusan SMK memang masih dianggap sebelah mata. Gengsinya dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan lulusan SMA. Itulah mengapa minat siswa masuk SMK masih lebih rendah. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menunjukkan, jumlah siswa SMA lebih besar dibandingkan SMK. Untuk tahun ajaran 2015/2016, jumlah siswa SMA sebanyak 4.442.835 siswa, sementara SMK 4.419.423 siswa.

Kurangnya minat siswa salah satunya karena ada anggapan bahwa lulusan SMK sulit mendapatkan pekerjaan yang baik. Level pekerjaannya dianggap kurang bergengsi untuk kaum muda. Data ILO menunjukkan, jumlah angkatan kerja dari SMA lebih banyak jika dibandingkan SMK. Pada tahun 2014, jumlah angkatan kerja lulusan SMA mencapai 20,5 juta, SMK hanya 11,8 juta orang.

Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah pengangguran lulusan SMK ternyata lebih besar jika dibandingkan lulusan SMA. Dalam tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran SMK menunjukkan tren meningkat. Pada Agustus 2012 pengangguran tingkat SMK hanya 9,87 persen. Setahun kemudian, angkanya melonjak jadi 11,19 persen, dan meningkat lagi jadi 11,24 persen per Agustus 2014.

Bandingkan dengan tingkat pengangguran SMA yang kenaikannya hanya tipis. Pada Agustus 2012, jumlah pengangguran SMA hanya 9,6 persen. Setahun kemudian angkanya meningkat menjadi 9,74 persen, dan turun menjadi 9,55 persen pada Agustus 2014.

Kelesuan Ekonomi dan Kurang Daya Saing

Banyaknya pengangguran dari lulusan SMK ini kemudian dikaitkan dengan kelesuan ekonomi. "Ini karena ekonomi melambat, sehingga terjadi peningkatan pengangguran," kata Kepala BPS Suryamin, ketika merilis data tentang pengangguran pada 2015 lalu.

Hal senada disampaikan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Anies Baswedan. Menurut Anies, pengangguran di Indonesia bukan semata karena faktor keahlian yang kurang memadai, melainkan juga kesempatan kerja.

"Ketika kita bicara pengangguran sebenarnya kita bicara ketersediaan dan kebutuhan, ketika kebutuhan tetap maka akan terjadi terjadi penurunan. Maka harus dilihat dua faktor itu, jangan hanya dari SMK saja," kata Anies.

Jika merunut data resmi pemerintah, maka pernyataan Kepala BPS dan Mendikbud ini sepertinya ada benarnya. Terhitung sejak 2012 hingga 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus mengalami pelemahan. Pada saat yang sama, jumlah pengangguran dari SMK terus meningkat.



Benar adanya jika siswa SMK diberikan keterampilan sesuai jurusan mereka. SMK di Indonesia setidaknya menyediakan berbagai macam jurusan mulai dari Teknik, Akuntansi, Tata Boga, Agribisnis, Pariwisata, bahkan Seni. Arah SMK jelas menciptakan tenaga terampil yang siap kerja. Sayangnya, tambahan keterampilan ini ternyata tak membantu penguatan daya saing lulusan SMK. Buruknya kualitas sebagian lulusan SMK dianggap sebagai salah satu penyebabnya.

"Peralatan-peralatan yang ada di SMK harus dibenahi dan diperbaharui agar sesuai dengan kebutuhan industri," papar Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mustaghfirin Amin.

Ada pula kesenjangan antara SMK negeri dan SMK swasta. SMK negeri biasanya punya fasilitas belajar, tenaga pengajar, dan jaringan kerja yang lebih baik. SMK negeri lebih mudah mendapatkan guru kejuruan yang lebih berkualitas ketimbang SMK swasta, sebab dibantu oleh pemerintah dengan rekrutmen CPNS.

Seringkali sebagian besar guru swasta tak begitu baik kesejahteraannya dibanding sebagian guru negeri. Tak hanya itu, SMK negeri lebih sering dipercaya oleh banyak perusahaan. Semakin banyak perusahaan yang bisa diajak bekerja sama oleh suatu SMK, semakin banyak yang bisa dipelajari oleh siswa-siswanya.

SMK negeri dianggap lebih unggul dari swasta. Sayangnya, jumlah SMK negeri sangat jauh dibandingkan SMK swasta. Perbandingannya 30:70. Meski demikian, dari sisi jumlah murid, perbandingannya berkebalikan yakni 75:25.

Lulusan SMK yang tidak berkualitas ini tentu menjadi masalah tersendiri. Apalagi ada Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan aliran barang dan jasa secara bebas. Untuk itu, kualitas adalah harga mati bagi lulusan SMK yang akan memasuki dunia kerja.

Baca juga artikel terkait MASYARAKAT EKONOMI ASEAN atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis:

DarkLight