Menuju konten utama

Kala Bencana Memutus Komunikasi di Antara Orang Terkasih

Selain gangguan komunikasi, akses ke beberapa wilayah bencana pun masih sulit ditembus oleh BNPB.

Kala Bencana Memutus Komunikasi di Antara Orang Terkasih
Kondisi rumah warga yang rusak akibat banjir bandang di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). BPBD Tapanuli Selatan mencatat hingga Jumat (28/11/2025) sebayak 32 orang meninggal dunia diwilayahnya akibat banjir bandang pada Selasa (25/11/2025). ANTARA FOTO/Yudi Manar/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Empat hari sudah berlalu sejak terakhir kali Kiki berkomunikasi dengan suaminya, Adi, yang saat ini tengah berada di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sejak Selasa (25/11/2025) lalu, komunikasi Kiki dan Adi terputus karena wilayah tempat tinggal mereka di Tapanuli Tengah terdampak oleh bencana banjir dan longsor.

Kiki sedang berada di Bogor, Jawa Barat, untuk menghadiri sebuah acara ketika kondisi cuaca di Tapanuli Tengah mulai memburuk. Seharusnya, pada Selasa lalu, Kiki sudah harus kembali pulang ke rumahnya.

Namun, karena kondisi cuaca terus memburuk dan berujung pada bencana, sang suami memintanya untuk menunda perjalanan sampai kondisi kembali membaik.

“Akses jalan dari rumah ke bandara itu udah cukup lumpuh karena ada longsor sama banjir di beberapa lokasi. Terus ya udah, akhirnya saya berkabar ke suami,” tutur Kiki kepada Tirto, Sabtu (29/11/2025).

“Nah terus, intinya suami nyuruh saya cancel dulu [perjalanan pulang ke Tapanuli Tengah],” lanjutnya.

Rupanya, panggilan telepon dengan Adi pada Selasa malam lalu adalah menjadi momen terakhir ia berbicara dengan sang suami. Dalam panggilan telepon itu, Adi menyampaikan kepada Kiki bahwa kawasan tempat mereka tinggal belum terdampak bencana banjir maupun longsor secara langsung.

Namun, tak berselang lama dari panggilan telepon itu, Kiki melihat unggahan di media sosial yang menunjukkan sebuah tempat pemandian di dekat rumahnya sudah terdampak oleh longsor.

“Bendungan air yang dekat dari tempat longsor udah enggak muat untuk ngebendung katanya. Akhirnya, banjir bandang ke mana-mana, termasuk ke daerah jalan utama perumahan kami,” kata Kiki.

Dampak banjir bandang di Tapanuli Selatan

Warga mendorong sepeda motor melintas di area banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). Banjir bandang yang terjadi pada Selasa (25/11/2025) di daerah tersebut mengakibatkan 32 orang meninggal dan sejumlah rumah warga rusak, jalan berlumpur, kendaraan rusak dan berdampak kepada 250 kepala keluarga. ANTARA FOTO/Yudi Manar/YU

Setelahnya, pesan Kiki kepada sang suami tak pernah terbalas lagi. Dia mengaku sangat khawatir dengan kondisi suaminya, juga dengan ancaman longsor yang bisa saja menerjang rumah mereka setiap waktu. Pasalnya, rumah Kiki dan Adi disebutnya berada di bawah sebuah bukit.

“Cuma yang bikin deg-degan adalah karena hujan nonstop, takutnya tiba-tiba bukit belakang rumah juga ikut longsor. Naudzubillahimindzalik, itu yang jadi overthinking-nya saya,” ucapnya lirih.

Kiki pun tak tinggal diam. Secara terus-menerus, dia berupaya menggali informasi terkait kondisi terkini di Tapanuli Tengah. Dia juga telah menghubungi pihak berwenang untuk mencari kabar suaminya.

Namun, seluruh upayanya itu tak berbuah hasil. Kiki tidak berhasil menguhubungi pihak Polres Tapanuli Tengah sampai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah untuk mencari jawaban.

Bukan hanya secara psikis, fisik Kiki ikut terserang menghadapi situasi sulit ini. Berhari-hari tidak mendengar kabar sang suami, tubuh Kiki sempat mengalami demam.

Berulang kali tangisnya pecah, ketika membayangkan seperti apa kondisi suaminya di tengah bencana. Saat bercerita kepada Tirto, suara Kiki terdengar serak, bukti bahwa beberapa saat sebelumnya dia habis menangis.

“Saya sampai demam, Mas. Mas mungkin bisa ngedengar sendiri ya dari suara saya. Udah serak-serak basah kayak habis konser. Dari yang nangis, sampai kering, sampai nangis lagi,” katanya.

Kiki berharap, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah bisa dengan sigap menangani bencana banjir dan longsor yang terjadi, salah satunya dengan memulihkan kembali jaringan telekomunikasi.

“Setidak-tidaknya yang utama adalah akses internetnya dulu deh, sama jaringan listriknya tolong nyalain. Biar kami setidaknya perantau-perantau tuh bisa ngasih kabar kami gitu,” ujar Kiki penuh harap.

Menanti Kabar dengan Cemas dari Perantauan

Situasi serupa menimpa Sahara, perempuan asal Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, yang kini tinggal di Bogor. Sahara menetap di Bogor semenjak dirinya memutuskan untuk mencari nafkah di Jakarta. Meski begitu, seluruh keluarga besarnya masih tinggal di Aceh Tengah.

Setelah melihat berbagai unggahan di media sosial yang menunjukkan perkembangan situasi bencana di kampungnya, Sahara lantas menghubungi ibunya untuk menanyakan kabar.

Pada Rabu (26/11/2025) sekira pukul 08.00 pagi, ibu Sahara mengabarkan lewat panggilan telepon bahwa kawasan tempat tinggal mereka terus-menerus diguyur hujan deras.

“Ibuku tuh ngabarin kalau di sana lagi hujan. Terus, ada beberapa jalanan yang udah banjir, terus longsor juga,” jelas Sahara saat dihubungi Tirto pada Sabtu.

Setelah menutup panggilan telepon itu, dia tidak bisa lagi mendengar kabar dari sang ibunda. Berdasarkan kabar yang dia terima, kawasan rumahnya di Bebesen kini sudah tidak lagi menerima aliran listrik dan jaringan telekomunikasi.

Oleh karenanya, Sahara hanya bisa mengandalkan media sosial dan portal berita untuk memantau kondisi di kampung halamannya. Menurutnya, akses jalan menuju Aceh Tengah kini juga sudah terputus.

“Jalan menuju ke Takengon itu memang terputus. Jadi, jalan nasionalnya itu dari Medan, dari Banda Aceh, dan dari Meulaboh. Setahu saya itu emang terputus semuanya. Kalau saya lihat di sosial media ya,” terangnya.

Banjir melanda Aceh

Foto udara permukiman penduduk yang terendam banjir di Desa Teupin Peuraho, Arongan Lambalek, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025). Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalop PB) Badan Penanggulangan Bencana Aceh menyatakan sebanyak 16 kabupaten/kota di Aceh terdampak banjir dengan rincian 33.817 kepala keluarga atau 119.988 jiwa terdampak serta 20.759 jiwa mengungsi dan tiga orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.

Sahara mengaku sangat cemas dan terus menanti kabar dari keluarganya di Aceh Tengah. Pasalnya, rumah keluarganya di sana berada pada posisi yang berdekatan dengan beberapa sungai dan pegunungan.

Sahara sungguh tak sanggup membayangkan jika longsor menghantam rumah keluarganya itu. Terlebih, dalam beberapa hari terakhir, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang bisa dihubungi.

“Yang saya khawatirkan sebenarnya longsor. Seandainya mereka enggak ketolong, itu sih yang saya pikirkan. Dan ini udah berapa hari enggak bisa dihubungi. Namun, saya masih positive thinking mereka sehat di sana,” ucapnya penuh harap.

Saat mencoba bertanya kondisi terkini ke pihak BPBD dan tim Search and Rescue (SAR), Sahara hanya diberi tahu bahwa mereka saat ini juga tengah mengalami kesulitan mengakses informasi dari kawasan Aceh Tengah.

“Tim SAR kayak di Banda Aceh atau Kutacane kemarin aku udah hubungi. Mereka juga mengakui juga kesulitan untuk menghubungi teman-teman SAR-nya yang di Aceh Tengah,” kata Sahara.

Sahara hanya memiliki satu harapan: bisa segera berkomunikasi dengan keluarga tercinta di sana. Dia mengaku sangat sedih menghadapi situasi ini. Jika biasanya keluarganya secara rutin melakukan panggilan suara maupun video, kini semua terasa hampa.

“Tanpa kabar dari keluarga, tanpa suara dari mereka, kayak gitu. Biasanya video call, biasanya nelpon, terus tiba-tiba ngilang, enggak ada kabar, enggak tenang,” sebutnya.

Kondisi Terkini Bencana di Aceh

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat perkembangan terbaru terkait bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Hingga Jumat (28/11/2025) sore, total korban meninggal dunia di Aceh tercatat mencapai 35 orang, sementara 25 orang masih hilang dan 8 orang luka-luka.

“Sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia, 25 hilang, dan 8 luka-luka,” ucap Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat sore.

Suharyanto merincikan jumlah korban bencana di beberapa wilayah di Aceh. Untuk Kabupaten Bener Meriah, ada 11 korban meninggal dan 13 korban hilang. Kabupaten Aceh Tenggara ada 6 korban meninggal, 7 hilang, dan 5 luka-luka.

“Aceh Tengah, 15 meninggal dunia. Gayo Lues, 1 meninggal dunia dan 2 hilang. Aceh Tamiang, 3 luka-luka. Kemudian Kota Subulussalam, 1 meninggal dunia. Dan Kota Lhokseumawe, 1 meninggal dunia dan 3 hilang,” jelas Suharyanto.

Suharyanto menyebut pendataan korban di sejumlah wilayah lainnya masih berlangsung karena akses ke beberapa kabupaten/kota belum dapat ditembus.

“Kami datang dari utara, dari Lhokseumawe maupun dari Banda Aceh, ini masih belum bisa tembus sampai seluruh kabupaten/kota di wilayah Aceh, Provinsi Aceh,” ujarnya.

Selain itu, Suharyanto menjelaskan bahwa gangguan jaringan komunikasi di Aceh cukup parah sehingga BNPB harus memasang perangkat komunikasi darurat.

“Untuk jalur komunikasi, sama dengan Sumatera Utara, ini relatif terganggu dan kami juga harus memasang alat komunikasi darurat, pakai Starlink,” kata Suharyanto.

Sejumlah bantuan disebutnya saat ini juga sudah masuk ke wilayah Aceh. Bantuan-bantuan esensial yang diberikan di antaranya adalah sembako, makanan siap saji, selimut, matras, mie instan, hingga genset.

“Ini merupakan kebutuhan dasar dari para masyarakat atau manusia yang terkena bencana. Yang sudah masuk adalah Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, dan Langsa,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi