tirto.id - Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian sulit dikendalikan, kolaborasi antara media nasional dan new media lokal dinilai menjadi salah satu kunci dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat.
Hal ini menjadi fokus utama dilaksanakannya kegiatan Jangkar Media Day bertajuk “Suara Lokal di Ruang Digital”. Kegiatan ini diselenggarakan Tirto.id bersama International Fact-Checking Network (IFCN), serta turut didukung oleh Danone Indonesia, PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero).
Acara yang berlangsung di Hotel Muraya, Banda Aceh, pada Kamis (23/4/2026) ini dihadiri lebih dari 80 peserta yang merupakan pelaku industri new media, konten kreator, dan komunitas lokal untuk membahas tantangan misinformasi, keberlanjutan media lokal, serta strategi komunikasi publik yang bertanggung jawab.
Rangkaian acara dibagi ke dalam tiga sesi utama, yakni Talkshow Memahami Algoritma, Memperkuat Narasi Lokal bersama News Partnership Lead TikTok Indonesia, Tika Primandani; Workshop Periksa Fakta dan Sharing Bersama Meta dengan narasumber Head of Public Policy Meta Indonesia, Berni Moestafa; dan ditutup dengan Talkshow New Media Berdaya di Era Digital dengan dua narasumber, yakni Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, serta Media Communication Manager PT Pertamina (Persero), Dewi Sri Utami.
Memahami Algoritma dan Menangkal Hoaks di Ruang Digital
Dalam sesi talkshow pertama, Tika membahas pentingnya memahami cara kerja platform digital dalam mendistribusikan informasi dan menekankan pentingnya menjaga ruang yang aman untuk semua. Pedoman untuk memastikan ruang aman tersebut diatur dalam Community Guidelines yang disusun dengan mempertimbangkan regulasi yang berlaku, norma budaya, serta dinamika masyarakat.
Pedoman tersebut kemudian diterapkan melalui sistem moderasi yang memadukan teknologi mesin dan peninjauan manusia untuk memastikan penegakan aturan berjalan lebih efektif.
Kemudian, peserta juga diajak untuk memahami bagaimana Meta (Facebook dan Instagram) berkembang menjadi ruang jurnalisme lokal, serta bagaimana platform dapat mendukung keberlanjutan media baru agar tetap mandiri.
Berni juga menjelaskan sejumlah community guidelines yang perlu dipahami pengelola media agar jurnalisme warga dapat tumbuh secara sehat dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Content Manager Tirto.id, Rina Nurjanah, menekankan pentingnya verifikasi informasi di tengah maraknya penyebaran hoaks. Ia menjelaskan bahwa banyak konten palsu memanfaatkan emosi audiens dan minim sumber yang jelas.
“Pada saat postingan tidak ada sumber jadi dipertanyakan kredibilitas dari satu unggahan. Satu unggahan sangat dipertanyakan apabila tidak ada sumber. Sampaikan sumbernya," ujarnya pada Kamis.
Ia juga menegaskan pentingnya sikap kritis sebelum membagikan informasi.
“Kita harus memahami alasan kenapa kita bisa mudah percaya hoaks, harus ada jeda. Kita harus periksa dulu,” ujar Rina.
Menurutnya, masyarakat perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum bereaksi terhadap informasi yang beredar, terutama jika konten tersebut dirancang untuk memancing emosi.

Menjaga Keberlanjutan New Media
Pada sesi talkshow penutup, Dewi menyoroti pesatnya pertumbuhan media baru di ruang digital yang mampu menjangkau audiens lebih cepat dibanding media konvensional.
“Media baru ini ibarat laron, ketika ada informasi langsung rame,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa media lokal memiliki peran penting dalam meluruskan informasi yang keliru.
“Ketika ada kabar-kabar hoaks, harus kita isi melalui medsos untuk meng-counter itu,” lanjutnya.
Arif juga memiliki pandangan serupa. Ia menyoroti kerentanan sektor FMCG terhadap hoaks, terutama isu kesehatan maupun boikot yang kerap tidak berbasis fakta. Ia menilai perkembangan teknologi membuat siapa pun kini bisa menjadi penyebar informasi.
“Sekarang semua bisa jadi publisher, semua isu bisa nyebar dalam 1 jam," ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya narasi berbasis fakta dan keterlibatan narasumber ahli dalam produksi konten media.
Menutup rangkaian diskusi, Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rahmadin Ismail, menegaskan bahwa fondasi utama industri media tetap terletak pada kepercayaan publik.
“Kepercayaan adalah hal yang sangat mahal dalam membangun sebuah industri media," ujarnya.
“Kepercayaan dibangun dengan konten yang kredibel."
Ia juga menekankan pentingnya fokus dan spesialisasi dalam pengembangan new media agar mampu menjaga loyalitas pembaca serta kredibilitas informasi.
Melalui Jangkar Media Day, para pelaku new media diharapkan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga garda depan dalam melawan disinformasi serta membangun ekosistem media yang lebih sehat, kredibel, dan berkelanjutan di era digital.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Dwi Ayuningtyas
Masuk tirto.id





































