Jabar Tempati Provinsi dengan Kasus Intoleransi Tertinggi

Oleh: Alexander Haryanto - 3 Oktober 2016
Dibaca Normal 1 menit
Direktur The Islah Center (TIC), Mujahidin Nur mengatakan, penelitian sejumlah lembaga swadaya masyarakat dalam beberapa tahun terakhir selalu menempatkan Jawa Barat di urutan pertama provinsi yang paling intoleran.
tirto.id - Hasil riset baru-baru ini mengatakan, Jawa Barat (Jabar) adalah salah provinsi dengan angka kasus intoleransi tertinggi di Indonesia, hal itu dianggap kontradiktif dengan budaya masyarakat Sunda yang terkenal sangat toleran.

Direktur The Islah Center (TIC), Mujahidin Nur mengatakan, penelitian sejumlah lembaga swadaya masyarakat dalam beberapa tahun terakhir selalu menempatkan Jawa Barat di urutan pertama provinsi yang paling intoleran.

"Tingginya angka intoleransi di Jawa Barat menjadi kontradiktif dengan kultur dan budaya masyarakat Sunda sebagai 90 persen suku yang tinggal di Jabar yang terkenal sebagai masyarakat yang toleran, optimistis, periang, sopan, dan bersahaja," kata Mujahidin di Jakarta, Senin (3/10/2016).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, sejumlah lembaga seperti Setara Institute pada 2015 lalu menempatkan Jawa Barat sebagai daerah yang paling banyak kasus pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) yakni sebanyak 44 kasus. Sementara Wahid Foundation juga menyebutkan hal yang sama.

Selama 2015, kata Mujahidin, lembaga itu menyebutkan kurang lebih 46 peristiwa pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang terjadi di Jabar.

Selain kedua lembaga itu, hasil monitoring dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung sepanjang 2005 hingga 2011 juga mengatakan, terdapat 383 peristiwa tindak kekerasan dan intoleransi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang terjadi di Jawa Barat.

Riset lain juga menyebutkan, sejak Januari 2013 hingga Januari 2014 terdapat kurang lebih 76 peristiwa intoleransi di beberapa daerah Jawa Barat seperti, Depok, Bekasi, Cianjur, Sukabumi, Cirebon, Bogor, dan Kabupaten Tasikmalaya.

Padahal, kata Mujahidin, masyarakat Sunda dalam sejarahnya dikenal sebagai masyarakat yang sangat toleran.

"Seorang penulis berkebangsaan Portugis, Tome Pires dalam laporannya kepada Raja Emanuel, Summa Oriental Que Trata Dar Maroxo Ate Aos Chins atau ikhtisar wilayah timur dari laut merah hingga negeri Tiongkok menyebut masyarakat Sunda sebagai masyarakat yang toleran, jujur, dan pemberani," katanya.

Selain itu, kata dia, masyarakat Sunda juga memiliki falsafah hidup yang toleran dan termasuk penganut ajaran agama Islam yang taat.

"Karenanya, sungguh miris apabila di tengah masyarakat Sunda yang mempunyai kekayaan warisan leluhur itu justru intoleransi berkembang pesat," katanya.

Sejumlah intoleransi itu, kata dia, juga dilakukan dalam bentuk 41 perda yang dianggap diskriminatif dan intoleransi seperti penyegelan, penutupan rumah ibadah, pembubaran ibadah kelompok atau agama tertentu, hingga kekerasan fisik.

Oleh karena itu, Mujahidin mengajak semua pihak untuk membangun kembali semangat toleransi terutama di kalangan masyarakat Jawa Barat.

"Dengan begitu keharmonisan dan keindahan dalam perbedaan tercipta dalam struktur masyarakat yang kaya akan tradisi ini," kata Mujahidin.

Baca juga artikel terkait INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight