Menuju konten utama

Israel Tutup Perbatasan Rafah, Tuding Hamas Langgar Kesepakatan

Netanyahu menambahkan, pembukaan kembali perbatasan Rafah akan bergantung pada penyerahan jenazah para sandera Israel oleh Hamas.

Israel Tutup Perbatasan Rafah, Tuding Hamas Langgar Kesepakatan
Warga Palestina yang mengungsi meninggalkan daerah Rafah di Jalur Gaza. (Photo by Bashar TALEB / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa perlintasan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Netanyahu menambahkan, pembukaan kembali perbatasan Rafah akan bergantung pada penyerahan jenazah para sandera Israel oleh Hamas, karena kedua belah pihak terus saling menyalahkan atas pelanggaran gencatan senjata.

Pernyataan Netanyahu muncul tak lama setelah Kedutaan Besar Palestina di Mesir mengumumkan bahwa perlintasan Rafah, pintu gerbang utama bagi warga Gaza untuk keluar dan masuk wilayah tersebut, akan dibuka kembali pada hari Senin (20/10/2025) untuk memasuki Gaza.

Diketahui, pemerintahan Netanyahu dan Hamas saling menyalahkan atas pelanggaran gencatan senjata yang dimediasi AS selama berhari-hari.

Pada Sabtu malam (18/10/2025) di Washington, Departemen Luar Negeri AS mengatakan telah menerima laporan kredibel yang mengindikasikan pelanggaran gencatan senjata, yang akan segera terjadi oleh Hamas terhadap rakyat Gaza.

Departemen Luar Negeri mengatakan, serangan yang direncanakan terhadap warga sipil Palestina akan menjadi pelanggaran langsung dan berat terhadap perjanjian gencatan senjata.

"Jika Hamas melanjutkan serangan ini, berbagai langkah akan diambil untuk melindungi rakyat Gaza dan menjaga integritas gencatan senjata," kata departemen tersebut dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, Minggu (19/10/2025).

Saat ini, Trump tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan pasukan Israel melanjutkan pertempuran di Gaza jika Hamas gagal memenuhi kesepakatan gencatan senjata yang ditengahinya. Namun, Hamas tidak segera menanggapi permintaan komentar tersebut.

Kelompok militan tersebut telah melancarkan operasi keamanan di wilayah perkotaan yang dikosongkan oleh pasukan Israel, yang menunjukkan kekuatannya melalui eksekusi publik dan bentrokan dengan klan bersenjata setempat.

Hamas, dalam sebuah pernyataan pada Sabtu malam, mengatakan bahwa keputusan Netanyahu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata dan penolakan terhadap komitmen, yang telah ia buat kepada para mediator dan pihak penjamin.

Hamas juga menyatakan bahwa penutupan perlintasan Rafah yang berkelanjutan akan mencegah masuknya peralatan yang dibutuhkan untuk mencari dan menemukan lebih banyak jenazah sandera di bawah reruntuhan, yang akan menunda proses pemulihan dan penyerahan jenazah.

Israel sebelumnya mengatakan telah menerima dua jenazah lagi pada Sabtu malam, yang berarti 12 dari 28 jenazah telah diserahkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dan penyanderaan yang ditengahi AS antara Israel dan Hamas pekan lalu.

Perselisihan mengenai pengembalian jenazah, dan pengiriman bantuan kemanusiaan, menggarisbawahi rapuhnya gencatan senjata dan masih berpotensi mengganggu kesepakatan tersebut, bersama dengan isu-isu besar lainnya yang termasuk dalam rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Hamas membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup yang telah ditahannya selama dua tahun, dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina dan narapidana yang dipenjara di Israel.

Namun, Israel mengatakan bahwa Hamas terlalu lambat menyerahkan jenazah sandera yang masih ditahannya. Sementara kelompok tersebut mengatakan bahwa menemukan beberapa jenazah di bawah reruntuhan akan membutuhkan waktu.

Kesepakatan tersebut mengharuskan Israel mengembalikan 360 jenazah militan Palestina untuk para sandera Israel yang telah meninggal, dan sejauh ini telah menyerahkan 15 jenazah sebagai imbalan untuk setiap jenazah Israel yang diterimanya.

Sebagai informasi, Rafah sebagian besar telah ditutup sejak Mei 2024. Kesepakatan gencatan senjata juga mencakup peningkatan bantuan ke wilayah kantong tersebut, tempat ratusan ribu orang dipastikan terdampak kelaparan pada bulan Agustus, menurut pemantau kelaparan global IPC.

Setelah memutus semua pasokan selama 11 minggu pada bulan Maret, Israel meningkatkan bantuan ke Gaza pada bulan Juli, dan meningkatkannya lebih lanjut sejak gencatan senjata.

Rata-rata, sekitar 560 metrik ton makanan telah masuk ke Gaza per hari sejak gencatan senjata yang ditengahi AS, tetapi jumlah ini masih jauh di bawah skala kebutuhan, menurut Program Pangan Dunia PBB.

Kendala berat bagi rencana Trump untuk mengakhiri perang masih tetap ada. Pertanyaan-pertanyaan kunci tentang pelucutan senjata Hamas dan bagaimana Gaza akan diperintah, pembentukan "pasukan stabilisasi" internasional, dan langkah-langkah menuju pembentukan negara Palestina masih belum terselesaikan.

Baca juga artikel terkait PERANG ISRAEL-PALESTINA atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Flash News
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Andrian Pratama Taher