Menuju konten utama

Isi Lengkap Pidato Ketua MPR Ahmad Muzani di Sidang Tahunan 2026

Ketua MPR Ahmad Muzani menyampaikan pidato di Sidang Tahunan MPR 2026, menyoroti persatuan, Pancasila, demokrasi, MBG, ekonomi, hingga Palestina.

Isi Lengkap Pidato Ketua MPR Ahmad Muzani di Sidang Tahunan 2026
Ketua MPR Ahmad Muzani menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga/app/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menggelar Sidang Tahunan MPR Tahun 2026 hari ini, Jumat (14/8/2026), di Gedung Nusantara, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta.

Sidang tahunan tersebut digelar dalam satu rangkaian dengan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI. Berikut isi lengkap pidato Ketua MPR RI Ahmad Muzani.

Dalam pidatonya, Muzani menekankan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta membangun budaya politik yang lebih beradab di tengah perbedaan pandangan.

Ia juga menyoroti sejumlah isu nasional, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam, hingga kedaulatan dan politik luar negeri Indonesia.

Sidang Tahunan MPR RI dimulai pukul 08.30 WIB dan dijadwalkan selesai sebelum pelaksanaan Salat Jumat. Selain pidato Ketua MPR RI, agenda sidang mencakup Pidato Ketua DPD RI serta Pidato Kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto yang sekaligus menyampaikan laporan kinerja lembaga-lembaga negara.

"Agenda Sidang Tahunan MPR RI meliputi Pidato Ketua MPR RI, Pidato Ketua DPD RI, serta Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia yang sekaligus menyampaikan laporan kinerja lembaga-lembaga negara," ujar Ahmad Muzani, dikutip laman resmi MPR RI, Kamis (13/8/2026).

Isi Lengkap Pidato Ketua MPR di Sidang Tahunan 14 Agustus 2026

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Shalom,

Om Swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajikan,

Yang kami hormati dan kami banggakan,

Presiden Republik Indonesia, Bapak Jenderal TNI (Purnawirawan) H. Prabowo Subianto;

Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Gibran Rakabuming, beserta Ibu Selvi Gibran Rakabuming;

Presiden Republik Indonesia Kelima, Ibu Prof. Dr. (Honoris Causa) Hj. Megawati Soekarnoputri;

Presiden Republik Indonesia Keenam, Bapak Prof. Dr. Jenderal TNI Purnawirawan H. Susilo Bambang Yudhoyono;

Presiden Republik Indonesia Ketujuh, Bapak Ir. H. Joko Widodo;

Wakil Presiden Republik Indonesia Kesepuluh dan Keduabelas, Bapak Dr. (Honoris Causa) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla;

Wakil Presiden Republik Indonesia Kesebelas, Bapak Prof. Dr. H. Boediono;

Wakil Presiden Republik Indonesia Ketigabelas, Bapak Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin;

Istri Presiden Republik Indonesia Keempat, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid;

Istri Wakil Presiden Republik Indonesia Keenam, Ibu Tuti Try Sutrisno;

Istri Wakil Presiden Republik Indonesia Kesembilan, Ibu Soraya Hamzah Haz;

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Ibu Dr. (Honoris Causa) Hj. Puan Maharani;

Ketua Dewan Perwakilan Daerah, Bapak Dr. (Honoris Causa) H. Sultan Bachtiar Najamudin;

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Ibu Dr. Ir. Isma Yatun;

Ketua Mahkamah Agung, Bapak Prof. Dr. Sunarto;

Ketua Mahkamah Konstitusi, Bapak Dr. Suhartoyo;

Ketua Komisi Yudisial, Bapak Dr. H. Abdul Chair Ramadhan;

Para Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);

Para Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR);

Para Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD);

Para Pimpinan Lembaga Negara;

Para Ketua Umum Partai Politik, izinkan kami menyebutkan satu-persatu:

Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Prof. Dr. (Honoris Causa) Megawati Soekarnoputri

Ketua Umum Partai Golkar, Bapak H. Bahlil Lahadalia

Ketua Umum Partai Gerindra, Bapak H. Prabowo Subianto

Ketua Umum Partai NasDem, Bapak Dr. (Honoris Causa) Drs. Surya Dharma Paloh

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Bapak Dr. (Honoris Causa) Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar

Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Bapak Dr. H. Almuzzammil Yusuf

Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Bapak Dr. (Honoris Causa) H. Zulkifli Hasan

Ketua Umum Partai Demokrat, Bapak Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono

Para Anggota MPR, yang terdiri atas anggota DPR, dan anggota DPD;

Para Pimpinan MPR, Pimpinan DPR, dan Pimpinan DPD Periode Sebelumnya;

Yang Mulia Para Duta Besar Negara-Negara Sahabat;

Para Menteri Kabinet Merah Putih;

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI);

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (KAPOLRI);

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN);

Jaksa Agung Republik Indonesia;

Para insan pers, media cetak dan elektronik, dalam dan luar negeri;

Para perwakilan teladan dari seluruh penjuru tanah air;

Para tamu undangan, serta teristimewa, seluruh rakyat Indonesia yang berbahagia, di mana pun Saudara berada.

Sidang Majelis dan hadirin yang kami muliakan,

Sesuai catatan daftar hadir yang disampaikan oleh Sekretariat Jenderal MPR, sampai saat ini telah hadir 629 anggota, dari 732 Anggota MPR, yang terdiri atas Anggota DPR dan Anggota DPD.

Dengan demikian, berdasarkan ketentuan Pasal 99 huruf c Tata Tertib MPR, dan Pasal 281 ayat (1) Tata Tertib DPR, serta Pasal 256 ayat (5) Tata Tertib DPD, sidang telah memenuhi syarat untuk dibuka.

Maka, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Sidang Tahunan MPR Tahun 2026 dan Sidang Bersama DPR dan DPD Tahun 2026, dengan agenda Laporan Kinerja Lembaga-Lembaga Negara yang akan disampaikan oleh Presiden, dan Pidato Kenegaraan Presiden dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

KETUK PALU 1 KALI

Sidang Majelis, hadirin yang kami muliakan,

Marilah kita menundukkan kepala sejenak, seraya memanjatkan doa ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh bangsa Indonesia.

Doa akan dipimpin oleh Saudara Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., kami persilakan.

DOA DIPIMPIN OLEH Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Terima kasih kepada Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. yang telah memimpin doa.

Sidang Majelis, hadirin yang kami muliakan, dan saudara-saudara sebangsa se-tanah air,

Marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya karena anugerah-Nya-lah, pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menyelenggarakan Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD Tahun 2026.

Shalawat kita sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beserta keluarganya, dan para pengikutnya.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Pada hari Senin, tanggal 17 Agustus, seluruh bangsa Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di forum yang terhormat ini, kita bukan sekadar menghadiri sebuah upacara konstitusional. Kita sedang meneguhkan janji kepada Republik kita tercinta.

Janji bahwa kemerdekaan yang kita warisi dari para pendiri bangsa akan terus kita jaga. Janji bahwa perbedaan politik tidak akan memecah belah persaudaraan kebangsaan.

Bangsa ini dibangun oleh tokoh-tokoh hebat yang berintegritas. Mereka bahkan beberapa kali terlibat dalam perdebatan yang keras mengenai dasar negara, mengenai bentuk pemerintahan, tentang wilayah negara, dan tentang hubungan yang harmoni antara agama dan negara.

Negeri ini bukanlah tanda kemenangan satu golongan atas golongan yang lain.

Negeri ini hasil kesediaan semua golongan untuk memperjuangkan cita-cita yang lebih besar.

Dari kebesaran jiwa-jiwa yang mulia itulah Republik Indonesia dilahirkan.

Republik ini dapat bertahan bukan karena kekayaan yang melimpah, bukan pula dukungan internasional yang sejak awal telah tersedia, tapi karena kekuatan rakyat yang bersatu. Bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang layak diperjuangkan.

Persatuanlah yang menyebabkan kemajuan terjadi. Bila persatuan melemah, energi besar bangsa ini akan habis untuk saling curiga dan saling meniadakan. Namun, bila persatuan kita kokoh, perbedaan dapat kita ubah menjadi sumber energi dan kemajuan.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan titik-temu terbesar yang pernah dicapai bangsa Indonesia.

Pancasila lahir bukan dari ruang hampa. Ia tumbuh dari pengalaman sejarah, kebudayaan, agama, dan kearifan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Ia dirumuskan melalui perdebatan, perenungan, serta kesediaan untuk menemukan jalan yang dapat diterima oleh semua golongan.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pancasila telah berkali-kali mengalami ujian. Bangsa kita pernah menghadapi pergolakan politik, konflik ideologis, ketegangan antarkelompok, krisis ekonomi, kekerasan komunal, ancaman separatisme, terorisme, bahkan pandemi.

Namun, setiap kali bangsa ini kembali kepada Pancasila sebagai titik-temu, kita mendapatkan energi besar dan jalan untuk bangkit bersama.

Pancasila harus terlihat nyata dalam cara negara melindungi rakyatnya.

Dalam cara hukum ditegakkan, termasuk upaya untuk terus memberantas korupsi menjadi prioritas.

Dalam cara kekayaan nasional dikelola.

Dan dalam cara kita bersatu di tengah perbedaan.

Itulah nilai dan semangat Pancasila.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kita telah memilih jalan demokrasi dalam mengelola aspirasi dan pandangan yang berbeda.

Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu hendaknya disampaikan dengan budi dan bahasa yang baik.

Lebih dari satu setengah abad yang lalu, pujangga besar Melayu dari Pulau Penyengat, Raja Ali Haji, menulis dalam Gurindam Dua Belas:

“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.”

Demokrasi tidak akan menjadi lebih kuat karena kita semakin keras mencela.

Demokrasi akan menjadi kuat jika kebebasan berbicara disertai tanggung jawab; jika kemerdekaan bicara disampaikan dengan argumentasi; dan jika perbedaan tidak dijadikan alasan penghinaan.

Kini teknologi digital telah memperluas ruang demokrasi. Setiap warga dapat menyampaikan pendapat, memperoleh informasi, dan terlibat dalam perdebatan publik.

Namun, teknologi yang sama juga dapat menyebarkan kebencian, fitnah, manipulasi, dan kabar bohong dalam kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Kita tidak boleh membiarkan ruang publik dipenuhi bahasa yang merendahkan martabat manusia. Kita tidak selayaknya membiarkan perbedaan politik merusak persahabatan, memecah keluarga, atau menanamkan kebencian di antara sesama anak bangsa.

Karena itu, marilah kita membangun budaya politik yang lebih beradab, yang berciri: keras dalam gagasan, tapi santun dalam penyampaian; teguh dalam pendirian, tapi terbuka terhadap musyawarah; berani mengkritik, tapi tidak kehilangan penghormatan kepada sesama.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Delapan puluh satu tahun setelah merdeka, kita patut bersyukur atas kemajuan yang telah dicapai.

Bangsa kita telah membangun infrastruktur, memperluas pendidikan, meningkatkan layanan kesehatan, mengembangkan industri, memperkuat pertanian, memperluas perlindungan sosial, dan mengangkat jutaan warga dari kemiskinan.

Namun, masih ada anak-anak kita yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Masih ada keluarga yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar pengobatan.

Dalam kerangka itulah kita memandang program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai terobosan dalam mewujudkan Generasi Emas 2045. Program tersebut bukan semata-mata pembagian makanan. Ia merupakan bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa serta membangun manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas.

Adalah mimpi kita semua memiliki anak-anak yang unggul dan bisa bersaing secara kompetitif.

Pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok yang membutuhkan merupakan investasi jangka-panjang bagi masa depan bangsa.

Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tujuan yang baik itu dilaksanakan dengan tata kelola yang baik: tepat sasaran, dan akuntabel.

Demikian pula dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Konstitusi kita menegaskan bahwa; perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan.

Amanat ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia tidak boleh semata-mata diserahkan kepada persaingan bebas yang membuat pihak kuat semakin perkasa dan pihak lemah semakin tersisih.

Koperasi merupakan salah satu sarana untuk menghadirkan demokrasi dalam kehidupan ekonomi.

Melalui koperasi yang dikelola secara sehat dan profesional, petani dapat memperkuat posisi tawarnya, nelayan dapat memperoleh akses pasar, pelaku usaha mikro dapat berkembang, distribusi kebutuhan pokok dapat diperpendek, dan nilai-tambah ekonomi dapat dinikmati masyarakat.

Koperasi bukan sekadar badan usaha.

Koperasi adalah semangat untuk maju bersama.

Karena itu, keberhasilan koperasi diukur dari tumbuhnya kegiatan ekonomi produktif, meningkatnya pendapatan anggota, kuatnya tata kelola, serta bertambahnya kemandirian masyarakat.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Konstitusi Pasal 31 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk kesungguhan pemerintah menjamin akses pendidikan bagi masyarakat, termasuk masyarakat kurang mampu.

Demikian juga dengan Sekolah Unggul Garuda yang memiliki tugas utama mencetak talenta unggul di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM).

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas mengamanatkan: bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Amanat inilah yang kemudian dijabarkan secara strategis melalui Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Pengelolaan sumber daya alam kita harus berlandaskan pada keadilan, keberlanjutan, dan kelestarian ekologi.

Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan tentang tata kelola ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Hadirnya PT DSI ini sangat jelas: untuk meningkatkan penerimaan negara, memperkuat pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE), mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing atau praktik curang yang dilakukan di bawah tangan, serta memperkuat posisi tawar negara dalam perdagangan global.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kedaulatan adalah kemampuan bangsa menentukan jalannya sendiri, menjaga wilayahnya, melindungi rakyatnya, mengelola kekayaannya, serta mengambil sikap berdasarkan kepentingan nasional dan prinsip-prinsip yang diyakininya.

Konstitusi kita memberikan arah yang sangat jelas. Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Karena itu, politik luar negeri bebas-aktif berarti bebas menentukan pendirian berdasarkan kepentingan nasional. Tidak memihak salah satu blok manapun.

Indonesia harus tetap konsisten menolak perang sebagai cara menyelesaikan perselisihan antarnegara.

Dalam bahasa yang sederhana sering disampaikan oleh Presiden Prabowo seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Serangan terhadap negara yang berdaulat, tidak dapat dibenarkan. Kedaulatan wilayah dan kemerdekaan politik setiap negara wajib dihormati.

Tidak boleh ada negara mana pun yang merasa berhak untuk menentukan nasib bangsa lain.

Karena itu melalui mimbar yang terhormat ini, kami menyerukan penghentian perang di kawasan Timur Tengah dan belahan dunia lainnya.

Mengutamakan diplomasi sebagai jalan untuk membicarakan semua perbedaan.

Kita tidak boleh kehilangan kata dan kesabaran untuk mencari jalan perdamaian melalui meja perundingan.

Perdamaian adalah keberanian untuk menahan diri, kesediaan mendengar, dan kemampuan menempatkan kehidupan manusia di atas ambisi kekuasaan.

Dunia tidak membutuhkan perang, dunia membutuhkan keberanian untuk berdamai.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Perang juga membawa korban bagi pemimpin Iran. Karena itu, dalam forum yang mulia ini, kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Rahbar Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Perkenankan pula kami menyampaikan bela sungkawa dan simpati yang setulus-tulusnya atas wafatnya Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Dalam persoalan Palestina, sikap Indonesia tidak pernah berubah dan tidak bergeser. Dukungan atas Perjuangan Palestina bukanlah permusuhan terhadap suatu agama atau bangsa.

Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina berakar pada sejarah perjuangan bangsa dan konstitusi.

Bangsa Indonesia mengalami sendiri pahitnya penjajahan panjang. Karena itulah kita tidak dapat berdiam diri ketika bangsa lain masih hidup di bawah pendudukan dan kekerasan.

Kita mendukung hak rakyat Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan hidup secara bermartabat di tanah airnya sendiri.

Rakyat dan bangsa Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Persatuan harus dirawat dari hari ke hari melalui keadilan, keteladanan, dialog, dan rasa saling percaya.

Karena itu, menjaga persatuan berarti menjaga keadilan.

Kritik tidak boleh digunakan untuk merobek persatuan, sebaliknya persatuan juga tidak boleh digunakan untuk meredam perbedaan pendapat.

Dalam falsafah Jawa kita diingatkan untuk bersikap, Nglurug Tanpo Bolo, Sekti Tanpo Aji-aji, Sugih Tanpo Bondho, Menang Tanpo Ngasorake.

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang meninggalkan luka pada saudara sebangsa.

Kemenangan sejati adalah kemenangan yang tetap menjaga persaudaraan, yang tidak menghina, tidak merundung, dan tidak mempermalukan mereka yang berbeda pandangan.

Pesan inilah yang harus kita pegang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita hanya duduk menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Mereka harus tampil menjadi penggerak perubahan.

Kita harus mendidik mereka bukan sekadar menjadi pintar, tetapi berintegritas. Bukan sekadar bersaing, tetapi tetap menjunjung tinggi gotong royong.

Kita harus menguasai teknologi, tanpa kehilangan kemanusiaan.

Kita harus menguasai ekonomi, tanpa mengorbankan lingkungan.

Kita terbuka pada dunia, dengan tetap menjaga kedaulatan.

Anak-anak kita harus tumbuh dalam karakter beriman, bertakwa dan memiliki akhlak mulia.

Inilah makna kemajuan sejati yang berakar kuat pada Pancasila. Kemajuan yang tidak hanya memakmurkan kita hari ini, tetapi juga menjaga kelestarian bumi untuk anak cucu kita esok.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Menjelang peringatan kemerdekaan, marilah kita merenung kembali makna Sang Saka Merah Putih yang berkibar sebagai lambang pemersatu bangsa.

Di bawah naungan Sang Saka Merah Putih, para pahlawan kita meneriakkan kemerdekaan yang gemanya kita rasakan sampai sekarang. Dan hari ini, tetap di bawah Sang Saka Merah Putih, kita merajut masa depan.

Jangan biarkan Merah Putih hanya berkibar di ujung tiang, hidupkanlah semangat dalam keberanian membela kebenaran.

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Sejarah telah membuktikan, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang kebal dari kesulitan, melainkan mereka yang tidak pernah kehilangan harapan, dan selalu memilih untuk bersatu.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum kemerdekaan ini untuk meneguhkan tekad kebangsaan kita yang luhur.

Mari kita sekuat tenaga menjaga Republik Indonesia sebagai rumah bersama, merawat Pancasila sebagai titik temu kita semua, dan menjalankan Demokrasi dengan semangat kekeluargaan.

Kita akan terus membangun ekonomi yang berkeadilan, mempersembahkan seluruh daya upaya demi terwujudnya cita-cita mulia Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Dan menjadikan negara kita menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!

Bersatu, berdaulat, adil, dan makmur!

Sekali merdeka, tetap merdeka!

Sidang Majelis, Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Sebelum kami mengakhiri pidato ini, izinkan kami membacakan 3 (tiga) buah pantun:

Burung Dara Burung Merpati

Terbang Tinggi ke Langit Timur

Kita Optimis Wujudkan Negeri

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

Kuda Sumba Kuda Terkuat

Dibuat Lomba Dapat Piala

Kebijakan Presiden Yang Merakyat

Menjadikan Indonesia Makin Menyala

Buah Nangka Buah Alpukat

Manis Rasanya Bikin Terpikat

Ini Pesan Untuk Seluruh Rakyat

Mari Bersatu Jangan Saling Hujat

Demikianlah Pidato Pengantar Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2026. Semoga Allah Subhanahu Wata‘ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Selanjutnya saya persilakan kepada Ketua DPD RI, Bapak Dr. (Honoris Causa) H. Sultan Bachtiar Najamudin, untuk memimpin Sidang Bersama DPR dan DPD Tahun 2026.

Wabillahi taufiq walhidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KETUK PALU 1 KALI

Jakarta, 14 Agustus 2026

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

KETUA,

H. AHMAD MUZANI

Baca juga artikel terkait SIDANG TAHUNAN MPR atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra