Ironi Harga Telur Ayam: Melambung di Pasaran, tapi Peternak Buntung

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 5 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Harga telur ayam di pasaran melonjak drastis, bahkan di DKI Jakarta tembus Rp30 ribu per kg. Ironisnya, harga di peternak justru anjlok. Kok bisa?
tirto.id - Harga telur ayam di pasar mengalami lonjakan signifikan pada awal Ramadan 2020. Di sejumlah pasar dan pusat perbelanjaan di DKI Jakarta, harganya bahkan tercatat menyentuh Rp30 ribu per kg. Pedagang di Grogol misalnya, menjual telur Rp30 ribu per kg dan Gerai Hero Ciputra Mall menjual Rp36-38 ribu per 10 butir.

Nilai itu naik dari harga telur yang biasa dibanderol Rp26 ribu per kg selama 1 bulan terakhir, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET)-nya hanya Rp24 ribu per kg.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri menyatakan tren harga telur di kisaran Rp28 hingga Rp30 ribu per kg terjadi lantaran persoalan distribusi. Pasalnya, hampir seluruh telur di Jakarta berikut daerah sekitarnya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dalam prosesnya tidak bisa dipungkiri ada rantai cukup panjang dari peternak, pengepul daerah, pengepul kota tujuan, dan pedagang pasar. Di sela-selanya terbuka peluang ada permainan mafia pangan di dalam rantai itu, kata dia.

Situasi tersebut, kata Mansuri, diperburuk dengan keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengalihkan distribusi ke ritel modern sehingga ia khawatir ada pemusatan penguasaan pasokan.

Menurut Mansuri, kenaikan harga telur ayam saat ini perlu diwaspadai. Pasalnya, setahu Mansuri, saat ini stok masih tersedia dan permintaan sendiri sedang turun karena ada pelemahan daya beli serta dampak pembatasan aktivitas karena corona atau COVID-19.

“Sangat punya potensi tata rantai distribusi kita banyak problem. Banyak masalah,” ucap Mansuri saat dihubungi reporter Tirto, Senin (4/5/2020).


Mansuri juga menyoroti peran Kementerian Perdagangan yang lamban dalam merespons lonjakan harga di pasar. Maka, tak heran pada 21 April 2020, Presiden Joko Widodo sampai harus menyindir Kemendag secara terbuka karena harga sejumlah komoditas pangan tetap tinggi. Menteri Perdagangan sekarang dijabat Agus Suparmanto, politikus Partai Kebangkitan Bangsa.

Kalaupun berbicara kepada publik dalam konferensi pers maupun keterangan pers, ia menyebutkan ada kebiasaan klaim “Stok aman”. Namun, begitu harga tinggi menjadi ramai di masyarakat, Kemendag justru kelabakan.

Gara-gara ini juga, Mansuri melihat peran Satgas Pangan yang seharusnya jadi ujung tombak ikut tumpul karena informasi yang diterima dari Kemendag kurang sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Belum lagi, kata dia, Kemendag juga masuk dalam struktur Satgas Pangan. Alhasil, harga bahan pokok seperti telur keburu melambung saat pemerintah terlambat mengintervensi dan Satgas Pangan terhambat birokrasi Kemendag.

Ironisnya, tingginya harga di pasar tak ikut dirasakan para peternak ayam petelur. Mereka justru mengeluh karena harga telur yang peternak jual di bawah ketentuan harga eceran tertinggi yang dirumuskan Kemendag.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan perbedaan harga cukup tajam di peternak dan pasar itu disebabkan lambannya intervensi Kemendag di lapangan.


Beberapa minggu lalu, Singgih mencatat harga telur ayam di Blitar, Jawa Timur, yang notabene adalah pusat produksi sempat, jatuh di titik terendah, yaitu hanya Rp12.500 per kg.

Harga jual itu jauh dari Rp26 ribu di tingkat konsumen maupun harga acuan telur peternak yang ditetapkan sebesar Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per kg. Di Jawa Tengah saja, kata Singgih, harga telur ayam sempat menyentuh Rp14.500 per kg.

Anjloknya harga ini, kata Singgih, disebabkan karena penurunan serapan telur ayam peternak sampai 30 persen. Ini terjadi menyusul turunnya permintaan telur sekaligus sulitnya memasok telur ke pasar karena konsumen dan pedagang tidak bisa bertemu lantaran dilarang demi mencegah penyebaran COVID-19.

Di sisi lain, perbedaan harga terjadi karena pengiriman pasokan telur dari daerah penghasil terkendala oleh terbatasnya akses distribusi, baik karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah maupun keterbatasan angkutan logistik, ujar Singgih.

Praktis telur peternak sulit didistribusikan keluar, sementara di daerah tujuan pasokan terkendala sehingga terjadi disparitas harga, kata Singgih.

Untungnya, kata Singgih, harga telur saat ini sudah kembali ke Rp16 ribu per kg dan ia optimistis bisa mencapai harga acuan untuk 1 hingga 2 minggu ke depan. Namun, itu pun karena peternak berinisiatif menyelesaikan sendiri kendala distribusi dan penyerapan ini.


Singgih sudah sempat mengusulkan agar distribusi telur digencarkan secara online agar bisa langsung sampai ke konsumen.

“Kemendag saya lihat tidak berfungsi. Kalau ada disparitas dia kurang sensitif, gimana memotong rantai distribusi? Kemarin kami alami saja, menyelesaikan sendiri padahal kalau Kemendag lebih aktif ini tidak akan terjadi,” ucap Singgih saat dihubungi reporter Tirto, Senin (4/5/2020).

Kebiasaan kerja lamban Kemendag ini juga terjadi pada persoalan harga ayam.

Saat harga ayam peternak anjlok antara Rp9.000 bahkan Rp5.000 per kg, tak kunjung ada langkah konkret dari pemerintah, ujar Singgih. Harusnya, pemerintah segera mengantisipasi agar stok cepat terserap demi stabilisasi harga sesuai acuan, yakni Rp19.000-21.000 per kg.

Reporter Tirto telah berupaya menghubungi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto untuk diminta konfirmasi. Namun, baik pertanyaan tertulis dan upaya menghubungi via telepon, tidak kunjung direspons hingga artikel ini rilis.

Adapun dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, 23 April lalu, Suhanto sempat mengklaim bahwa 11 komoditas bahan pokok yang dipantau Kemendag terutama telur ayam ras stabil harganya.


Baca juga artikel terkait HET TELUR atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight