Penyumbang Inflasi Maret 2020: Emas, Telur Ayam hingga Gula

Oleh: Hendra Friana - 1 April 2020
Dibaca Normal 1 menit
BPS mencatat sejumlah komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi di bulan Maret 2020, mulai dari emas hingga gula.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah kelompok pengeluaran yang menyumbang kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi sebesar 0,1 persen di bulan Maret 2020.

Inflasi terbesar disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,06 persen. Sepanjang bulan lalu, kelompok ini sendiri mengalami inflasi sebesar 0,99 persen.

"Penyumbangnya adalah kenaikan emas perhiasan sehingga andilnya terhadap inflasi 0,05 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Rabu (1/4/2020).

Kelompok lain yang memiliki kontribusi tertinggi adalah kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran. Kelompok ini mengalami inflasi 0,36 persen dengan andil 0,03 persen sepanjang Maret.

Kemudian, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,1 persen dengan andil 0,03 persen.

"Telur ayam ras, itu menyumbang andil inflasi sebesar 0,03 persen, kemudian juga adanya kenaikan harga bawang bombai sehingga menyumbang inflasi 0,03 persen, kemudian juga gula pasir di mana andil inflasinya 0,02 persen, rokok filter dan kretek putih 0,01 persen," imbuh Suhariyanto.

Ada juga inflasi kelompok inflasi kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,28 persen dengan andil 0,02 persen.

Lalu, ada kelompok kesehatan sebesar 0,21 persen dengan andil 0,01 persen, inflasi kelompok pakaian dan alas kaki 0,12 persen dengan andil 0,01 persen.

Sementara itu, inflasi kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sepanjang Maret lalu tercatat 0,02 persen dengan andil nol persen,

Andil nol persen juga berasal dari kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya dan kelompok pendidikan. Meski demikian, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami inflasi 0,02 persen sepanjang maret, sementara pendidikan mengalami deflasi -0,11 persen.

Penyumbang Deflasi

BPS juga mencatat dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi dan menahan laju inflasi sepanjang bulan lalu.

Pertama, kelompok transportasi yang mengalami deflasi 0,43 persen dengan andil minus 0,05 persen. "Andil deflasi dari penurunan tiket transportasi udara sebesar 0,26 persen," urainya.

Kedua, adalah kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi 0,09 persen dengan andil minus 0,01 persen.

Berdasarkan komponennya, inflasi terjadi berkat sumbangan dari inflasi inti sebesar 0,29 persen dan andil 0,19 persen. "Inflasi komponen inti disumbang oleh harga emas 0,05 persen dan bawang bombai 0,03 persen," tuturnya.

Sementara itu, jika dilihat dari komponennnya, administered price (harga diatur pemerintah) tercatat mengalami deflasi 0,19 persen dan andil minus 0,03 persen.

Volatile foods (Komponen bergejolak) juga tercatat mengalami deflasi 0,38 persen dengan andil minus 0,06 persen. Komponen ini terdiri dari komponen energi dengan inflasi 0,04 persen dan andil nol persen serta komponen bahan makanan dengan deflasi 0,15 persen dan andil minus 0,03 persen.


Baca juga artikel terkait INFLASI atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight