Pemerintah Diminta Waspada Usai Kalah dari Brasil Soal Impor Ayam

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 9 Agustus 2019
Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia menilai kemenangan Brasil ini diduga karena mereka mampu memenuhi standar halal yang ditetapkan Indonesia.
tirto.id - Indonesia terpaksa membuka keran impor daging ayam dari Brasil. Hal ini terjadi usai kekalahan Indonesia di World Trade Organization (WTO) untuk kedua kalinya usai putusan pada tahun 2017 yang memenangkan pemerintah Brasil.

Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Samhadi mengatakan Indonesia tetap perlu waspada usai kemenangan Brasil ini.

Menurut Samhadi mudah ditemukan kasus adanya ketidakkonsistenan standar suatu produk yang masuk usai pertama kali berhasil memenuhinya.

Ia mencontohkan adanya barang dari Amerika yang dikirim ke Rusia yang ditolak karena alasan standar yang tidak terjamin. Padahal katanya, produk itu sudah pernah masuk dalam beberapa kesempatan impor sebelumnya.

Menurutnya, kejadian ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Meskipun Indonesia kalah telak dari Brasil, ia mengatakan hal ini tetap menjadi kekhawatiran karena bisa terjadi dalam jangka panjang.

“Barang yang dikirim kan perlu memenuhi standar kehalalan secara kontinu. Pertama mungkin memenuhi tapi selanjutnya belum tentu sesuai kesepakatan atau standar,” ucap Samhadi.

Sebelumnya, Samhadi menilai kemenangan Brasil ini diduga karena mereka mampu memenuhi standar halal yang ditetapkan Indonesia.

Pasalnya, usai putusan pada tahun 2017, impor daging ayam Brasil masih kerap dihambat dengan alasan adanya ketidaksesuaian standar sanitasi dan halal.

“Mereka karena bisa membuktikan produk yang dihasilkan halal itu yang bikin kami kalah. Ya mereka kan bekerja sama dengan MUI untuk audit di sana. Ini memenuhi kehalalan dan menurut MUI memenuhi,” ucap Samhadi saat dihubungi reporter Tirto pada Kamis (8/8/2019).


Baca juga artikel terkait IMPOR AYAM atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight