Menuju konten utama
Ibadah Haji 2023

Infeksi Paru & Gangguan Ingatan Kerap Dialami Jemaah Haji Lansia

Infeksi paru hingga saat ini menjadi penyebab terbanyak jemaah haji Indonesia dirawat di  Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Arab Saudi.

Infeksi Paru & Gangguan Ingatan Kerap Dialami Jemaah Haji Lansia
Seorang peserta ibadah haji menggendong jamaah lansia usai melakukan umrah di pelataran Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, Selasa (6/6/2023). Kemenag memprioritaskan pelaksanaan lansia pada pelaksanaan haji 2023 dimana jumlah lansia berjumlah sekitar 66 ribu atau 30 persen kuota haji Indonesia. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.

tirto.id - Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, Arfik Setyaningsih menyebutkan dua penyakit yang kerap dialami oleh jemaah haji lansia, yaitu infeksi paru dan gangguan ingatan.

Menurut Arfik, banyaknya jemaah haji lansia tahun ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan ibadah haji di bidang kesehatan.

“Penanganan infeksi paru pada lansia, dokter geriatri akan berkolaborasi dengan dokter spesialis paru, dan dokter spesialis lainnya jika ada penyakit kronis lain untuk menetapkan tujuan terapi kepada pasien tersebut,” kata Arfik di Makkah, Jumat (9/6/2023).

Arfik menyatakan infeksi paru hingga saat ini menjadi penyebab terbanyak jemaah dirawat di KKHI Makkah.

“Saat terjadi infeksi paru-paru maka akan kami berikan antibiotik, obat batuk, oksigenasi dan lain-lain,” sambungnya.

Gejala infeksi paru, kata Arfik, tidak spesifik berupa batuk karena masalah perubahan imunitas.

Pada Lansia keluhan umumnya dapat diawali dengan penurunan nafsu makan, lemas, kurang energik, tidak mau berinteraksi atau menyendiri, sering jatuh, rasa dingin, gangguan kencing, nafas terasa berat, mudah lelah, mendadak lupa bahkan penurunan kesadaran.

“Beberapa pasien Lansia yang kami rawat tidak selalu batuk namun hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, pasien terkena infeksi paru-paru,” ucap Arfik.

Selain infeksi paru, jemaah haji lansia sering menderita pikun atau penurunan daya ingat. Arfik menjelaskan kondisi ini sering membuat jemaah haji lansia merasa gelisah, marah-marah hingga mengamuk, tersesat, gangguan tidur, menjadi pendiam dan menyendiri serta kebingungan.

“Banyak ditemui kasus jemaah Lansia pikun di Tanah Suci dimana sebelumnya di tanah air tidak mengalami hal ini. Gangguan pikun akut yang dialami jemaah haji dalam bahasa medis dikenal dengan istilah delirium,” tutur Arfik.

Kondisi ini dapat bersifat kronis atau lebih dikenal dengan istilah demensia. Biasanya, kata Arfik, penyakit ini sudah lama diidap pasien namun sering tidak dikenali gejalanya oleh keluarga maupun tenaga kesehatan.

Menurut Arfik, penurunan daya ingat disebabkan karena jemaah Lansia mengalami disorientasi atau gangguan penyesuaian.

“Selain itu kondisi dehidrasi, gangguan elektrolit, infeksi, gangguan atau kekurangan nutrisi, penyakit kronis yang tidak terkontrol baik, banyaknya konsumsi obat yang tidak tepat indikasinya, gangguan penglihatan dan pendengaran, juga dapat mencetuskan kondisi tersebut,” jelas Arfik.

Arfik menekankan jemaah lansia yang mulai pikun harus diberikan pengawasan tersendiri.

“Jemaah haji Lansia dengan penurunan daya ingat dan memiliki penyakit penyerta perlu pendampingan yang lebih ketat,” tambah Arfik.

Baca juga artikel terkait IBADAH HAJI 2023 atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Gilang Ramadhan