tirto.id - Indonesia Investment Authority (INA) merampungkan 11 investasi baru sepanjang tahun lalu. Chief Executive Officer (CEO) INA Oki Ramadhana mengatakan, capaian tersebut menjadikan 2025 sebagai tahun paling aktif bagi lembaganya sejak didirikan sekitar lima tahun lalu.
Kini, INA memperluas cakupan sektor investasinya dengan masuk ke advanced material dan manufaktur, bertambah dari empat sektor prioritas yang sudah digarap sejak 2022—transportasi dan logistik, energi hijau, infrastruktur digital, serta kesehatan.
Ekspansi ini menjadi bagian dari strategi lima tahun ke depan yang disebut manajemen INA sebagai “INA 2.0”, menyusul rampungnya fase pembangunan fondasi kelembagaan dalam lima tahun pertama operasi INA sejak 2021.
Ia menyebut masuknya sektor ini merespons kesenjangan industrialisasi Indonesia yang selama ini masih banyak bergantung pada ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah domestik. “Advanced material and manufacturing. These are very critical sector for Indonesia, for our industry. Kita yang kurang adalah industrialisasi,” ujar Oki dalam acara media briefing di Tamu, Jakarta, Rabu (1/07/2026).
Oki menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini masih ditopang komoditas mentah, padahal potensi nilai tambah dari hilirisasi jauh lebih besar jika diolah di dalam negeri.
“Industrialisasi itu cuma kita eksporter raw material, kita benar-benar sekarang membuat value added-nya semua dari Indonesia. You just can imagine, kita yang cuma ekspor raw material aja, we can consistently grow at 5 persen,” kata Oki.
Selain advanced material, INA turut menambahkan sektor infrastruktur ke dalam daftar fokus barunya, melengkapi empat sektor prioritas yang sudah berjalan sejak 2022. “Jadi kita 4 hal, yang pertama itu kita akan ke dalam sektornya, dan kita continue to focus on those sector yang kita sudah prioritaskan, ditambah 2 lagi yang tadi saya mention, advanced material and infrastructure,” jelas Oki.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































