2 Februari 1943

Hitler yang Gelap Mata Bikin Fasis Jerman Keok di Stalingrad

Ilustrasi Mozaik Stalingrad. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 2 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Hitler tak perbolehkan pasukannya untuk bergerak bebas. Tak heran jika Jenderal Paulus yang ditekan Hitler akhirnya lebih nyaman jadi tawanan.
tirto.id - Pada 23 Agustus 1942, Angkatan Darat Keenam balatentara Nazi Jerman pimpinan Letnan Jenderal Friedrich Wilhelm Ernst Paulus (1890-1957) berhasil mencapai pinggiran kota Stalingrad. Dengan didukung Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), pasukan itu terus merangsek ke wilayah Federasi Uni Sovyet hingga menimbulkan kehancuran kota yang namanya diambil dari nama Joseph Stalin tersebut.

”Paulus memprediksikan bahwa pengambilalihan kota (Stalingrad) dapat dilakukan pada pagi hari tanggal 24 Agustus,” tulis Franz Schneider dan Charles Gullans dalam Neraka di Stalingrad (2007:31).

Adolf Hitler memang begitu bernafsu menguasai Moskow, jantung dari Sovyet. Padahal pada tahun 1939, Hitler dan Stalin pernah membuat perjanjian tidak akan saling serang. Bahwa kemudian perjanjian tersebut dilanggar, masih menurut Schneider dan Gullans dalam Neraka di Stalingrad (2007:23), hal itu lantaran "permusuhan alami antara kaum fasis di Jerman dan komunis di Rusia."

Sementara dari sisi ekonomi, Jerman juga sangat butuh bahan mentah, seperti minyak dan logam, untuk industri yang mendukung kekuatan militer mereka.

Cuaca dan Hitler yang Gelap Mata

Kekuatan militer Jerman di Perang Dunia II memang amat berbahaya bagi Sovyet. Pada periode sebelum 1942, taktik perang kilat (Blitzkrieg) yang dikembangkan Jerman telah dengan mudah melahap beberapa negara di Eropa bagian barat seperti Perancis, Belanda, Belgia, dan lainnya.

Selain itu, terdapat pula tentara Italia, Rumania, dan Hungaria yang berpihak pada Jerman untuk menjadi pelindung Angkatan Darat keenam di garis belakang. Pada 19 November 1942, Tentara Merah meluncurkan Operasi Uranus untuk melemahkan pasukan kecil Rumania dan Hungaria yang melindungi Pasukan Keenam tersebut.

Stalin mengerahkan armada Sovyet--yang dikenal sebagai Tentara Merah--dengan dikomandoi oleh Jenderal veteran Perang Dunia I, Georgy Konstantinovich Zhukov (1896-1974), untuk mempertahankan Stalingrad. Selain ribuan prajurit, penduduk Stalingrad pun juga ikut turun ke jalan untuk membuat barikade yang mempersulit tentara Jerman.

Kokohnya pertahanan Sovyet membuat armada Hitler kewalahan. "Pertahanan Stalingrad terbukti tidak dapat ditembus. Semua penghalang ibarat benteng, dan semua rumah ibarat kamp musuh," tulis Schneider dan Gullans (2007:31). Alhasil, pertempuran di Stalingrad tersebut berlangsung selama berbulan-bulan dan memakan begitu banyak korban.

Jerman makin frustasi ketika pertempuran berlanjut di fase musim dingin. Hitler yang gelap mata mengulangi ketololan Jenderal Napoleon Bonaparte dari Perancis lebih dari seabad sebelumnya. Kala itu, Napoleon coba-coba menyerang Rusia sepanjang periode Juni-Desember 1812, hingga membuat pasukannya terjebak dalam dingin lalu kalah. Selain dingin, salju juga jadi penyebab terhambatnya gerak pasukan dan jalur logistik.

Kepada Jenderal Friedrich Paulus, sosok veteran PD I yang memimpin Angkatan Darat Keenam Jerman dalam pertempuran di Stalingrad, Hitler menekankan agar pasukan Jerman harus maju terus tanpa boleh mundur sedikitpun. Paulus sempat mencoba mengeluarkan pendapat, tapi ia juga kena maki Der Führer.

"Paulus meminta untuk diberi kebebasan bertindak (dalam bermanauver) mendapatkan penolakan ketus dari Hitler,” tulis Geofrey Jukes dalam Hitler Stalingrad Decisions (1985:133). Bagi Hitler, mati lebih terhormat daripada mundur dan tersungkur.

Situasi tersebut sempat digambarkan dalam film Enemy at the Gates. Bercerita soal penembak jitu legendaris Sovyet, Vasily Grigorevich Zaytsev, film ini fokus pada bagaimana Stalingrad jadi ajang adu sniper yang bersembunyi dalam reruntuhan bangunan. Selain itu juga terdapat scene di mana para serdadu Sovyet, dengan amunisi terbatas diperintahkan menyerbu tentara Jerman, dan akan ditembak jika mundur.

Terputusnya jalur logistik menjadi penyebab utama kekalahan Jerman. Pasukan yang kelaparan dan musim dingin yang kian membeku membuat kondisi fisik mereka terus menurun. Paulus pun tidak bisa berbuat banyak karena sikapnya dibatasi oleh perintah Hitler. Alhasil, pasukan Sovyet yang dipimpin Jenderal Zhukov dengan mudah melakukan pengepungan.

Dalam kondisi terdesak tersebut, salah satu perwira Sovyet, Konstantin Rokossovksy, sempat membujuk Paulus agar menyerah. Hal itu dianggap menjadi jalan terbaik demi terhindarnya korban lebih banyak lagi dari pihak Jerman. Memasuki akhir tahun 1942, pasukan Jerman tak lagi sanggup berbuat apapun.



Hitler, di sisi lain, memberikan Paulus kenaikan pangkat menjadi Generalfeldmarschall (Jenderal Besar) karena keteguhannya membawa pasukan Jerman untuk terus berjuang di Stalingrad. Akan tetapi, menurut Jukes dalam Hitler Stalingrad Decisions (1985:134), hal itu diduga merupakan ajakan Hitler agar Paulus bunuh diri ketimbang menjadi tawanan.

”Paulus dijadikan Marsekal Medan (Jenderal Besar), kemungkinan sebagai ajakan untuk melakukan bunuh diri daripada menjadi marsekal medan Jerman yang pertama kali ditangkap,” tulis Jukes.

Pemberian pangkat tersebut terjadi pada 30 Januari 1943, ketika pasukan Sovyet di bawah Jenderal Zhukov menyerang kota Stalingrad. Namun, pada akhirnya, Pulus lebih memilih berpihak kepada kenyataan daripada terus menuruti kemauan gila Hitler yang membuat ribuan tentaranya menderita. Tercatat ada sekitar 90 ribu tentara Jerman yang juga memilih menyerah.

Ketika bertemu dengan panglima tertinggi Soviet, Georgy Zhukov, Paulus mengakui bahwa dirinya adalah otak dari Operasi Barbarossa, selain komando Jerman dalam Pertempuran Stalingrad. Bahkan Paulus juga bersedia bersaksi di Pengadilan Nuremberg nantinya.

Pada 2 Februari 1943, tepat hari ini 77 tahun lalu, pertempuran benar-benar selesai. Mengetahui hal ini, Hitler tentu berang bukan kepalang. Terlebih kekalahan Jerman ini menjadi awal dari berbagai kekalahan selanjutnya yang diderita Jerman kala melawan Sekutu.

Sementara itu, hingga akhir hayatnya Paulus tak pernah diadili, baik oleh pihak Sovyet, Sekutu, atau Jerman, sekalipun ia tetap dianggap sebagai penjahat perang.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA II atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight