13 September 1996

Hidup Tupac Shakur Berlumur Puisi, Musik, dan Antirasisme

Tupac Shakur. tirto.id/Nauval
Oleh: Nuran Wibisono - 13 September 2020
Dibaca Normal 4 menit
Tupac menyukai puisi dan teater sebelum terjun ke kancah musik. Terlibat dalam pertarungan kelompok gangster.
Brooklyn, New York, awal 1981. Pastor Herbert Daughtry seperti biasa menyambut jemaah gerejanya. Salah satu jemaah Daughtry adalah Afeni Shakur Davis yang membawa serta dua anaknya, Sekyiwa dan Tupac. Usia Tupac masih 10 kala itu.

“Jadi, Nak, apa cita-citamu?”

“Seorang revolusioner,” jawab Tupac.

Daughtry tak kaget mendengar jawaban itu. Dalam Rebel for the Hell of It: Life of Tupac Shakur (1997), Daughtry mengatakan dirinya paham betul silsilah keluarga Shakur. Di dekade 1960-an Afeni adalah salah satu anggota Black Panther. Lebih dari sekadar anggota biasa, Afeni adalah pemimpin rating Harlem dan orang yang mengurusi Panther Post, newsletter bagi organisasi antifasisme dan antirasisme ini.

Puncaknya mungkin terjadi pada 1969. Saat itu Afeni dan suaminya, Lumumba Shakur, ditahan bersama total 21 orang anggota Black Panther—dikenal sebagai Panther 21—atas tuduhan pembunuhan berencana dan konspirasi untuk meledakkan bom di beberapa gedung. Afeni memilih mewakili dirinya sendiri dalam persidangan, alih-alih memilih diwakilkan oleh pengacara. Selagi menunggu persidangan, Afeni menjalani hidup di balik jeruji selama total dua tahun dan baru benar-benar dibebaskan pada Mei 1971 karena tuduhan kepadanya tak terbukti. Saat melakukan sidang pada 1971, Afeni sedang hamil Tupac.

“Karenanya, ketika Tupac bilang dia ingin jadi seorang revolusioner, mungkin itu menjelaskan hidupnya,” kata Daughtry pada 20 September 1996.

Hari itu Daughtry berdiri di depan ratusan orang dengan wajah duka. Pada 7 September 1996 Tupac, yang sedang berada di mobil BMW 750iL hitam, ditembak di Las Vegas. Empat peluru menembus tubuhnya: satu di lengan, satu di paha, dan dua di dada—salah satunya menembus paru-paru.


Tupac yang koma langsung dilarikan ke University Medical Center of Southern Nevada. Pada 13 September 1996, tepat hari ini 24 tahun lalu, Tupac Shakur, salah satu rapper paling berpengaruh dan dihormati itu, meninggal dunia di usia 25.

Those Were Days of Roses, Poetry, and Prose

Nama aslinya Lesane Parish Crooks, lahir pada 16 Juni 1971 di Harlem, New York. Orang tuanya, Billy Garland dan Afeni Shakur, sama-sama anggota Black Panther. Ketika Lesane berusia setahun, Afeni mengubah nama anaknya menjadi Tupac Amaru Shakur, diambil dari Tupac Amaru II, pemimpin perlawanan masyarakat Andes pada Spanyol di Peru.

“Aku ingin memberinya nama dari seorang revolusioner, masyarakat asli di dunia ini. Aku ingin Tupac memahami bahwa dia adalah bagian dari budaya dunia, tidak sekadar terkungkung di lingkungan sekitar,” ujar Afeni.

Afeni membawa Tupac dan Sekyiwa pindah ke Baltimore pada 1984. Di sana, Afeni berjuang mengatasi banyak masalah—sendirian, membawa dua anak, dan banyak kawan dipenjara—sembari membesarkan dua anaknya.

Di kota ini Tupac masuk ke Baltimore School for the Arts (BSA). Ini bukan sekolah unggulan, malah bisa dibilang punya ceruk terbatas. Sekolah ini berdiri sejak 1979 dan ingin menjaring murid-murid yang punya ketertarikan pada seni. Pada awal dibuka, tak banyak yang mau bersekolah di sini. Setahun setelah berdiri hanya ada 68 orang yang belajar di BSA. Di sini pula Tupac bertemu dengan Jada Pinkett, yang kelak jadi sahabat baiknya dan inspirasi bagi beberapa puisinya, yang dimuat di bunga rampai puisi Tupac, The Rose that Grew from Concrete (1999).


U R my Heart in Human Form

a Friend I could never replace

(Jada)


The day u chose 2 leave me

it rained constantly outside

In truth I swore the rain 2 be

The tears in Cupid’s eye

(The Tears in Cupid's Eye)


BSA berperan besar dalam mendorong kegemaran Tupac terhadap teater dan puisi ke titik jauh. Idola Tupac adalah Shakespeare. Lakon favorit yang sering jadi bahan diskusnya adalah “King Lear” dan “Hamlet”. Dari dramawan asal Inggris itu pula Tupac banyak mendapat perspektif.

“Sekolah di sini beneran memengaruhi semua karyaku,” kata Tupac dalam wawancara bersama Los Angeles Times. “Coba kamu lihat Romeo dan Juliet. Lakon itu ghetto banget, lho. Bayangkan Romeo dari geng Bloods, yang jatuh cinta pada Juliet, perempuan dari geng Crisps, dan semua orang dari dua geng itu menentang mereka. Jadi mereka harus bersembunyi, dan pada akhirnya keduanya mati sia-sia. Beneran tragis.”

Tupac juga rutin membuat puisi, entah yang bernada hopeless romantic hingga puisi-puisi yang memperlihatkan ketertarikannya pada perlawanan dan revolusi. Sebagai seorang aktor, guru-guru dan kawan Tupac di BSA memujinya.

“Dalam bayanganku, dia bisa jadi Denzel Washington. Menurutku, dia mungkin bisa jadi salah satu aktor terbaik kita,” kata guru akting Tupac di BSA, Richard Pilcher.

Saking apiknya akting Tupac, tak banyak orang yang tahu bahwa Tupac menggemari musik hip hop. Beberapa bilang bahwa karier musik Tupac adalah salah satu akting terbaiknya—dan membuat Tupac tak bisa keluar karena sudah terlanjur dikenal. Tentu saja ini pendapat yang tak sepenuhnya benar. Sebab Tupac memang mencintai musik hip hop. Ia jatuh cinta pada rhyming dan adrenalin yang menyembur ketika melakukan rap battle. Di sekolah, dia dikenal sebagai MC New York.

Semua kehidupan di sekolah berbanding terbalik dengan kehidupan di rumah. Afeni sedang mengalami titik terendah dalam hidup. Tupac sering kali harus menghidupi dirinya sendiri dengan jadi pelayan dan tukang cuci piring di restoran Inner Harbor. Puisi, juga teater, adalah pelariannya.

“Aku mencintai sekolahku. Kami diajari semuanya. Teater, balet, mendengarkan berbagai jenis musik,” tuturnya dalam interviu di film dokumenter Tupac: Resurrection. “Lalu aku berpikir, gila ya, mungkin aku bakal jadi orang yang berbeda kalau tidak kenal dengan dunia seni.”


Me Against the World

Tupac harus meninggalkan masa berlumur puisi dan bunga mawar itu secara prematur karena harus pindah ke California pada 1988. Di sini, karier musik dan film Tupac mulai menanjak. Ia kenal Leila Steinberg, aktivis sosial dan pebisnis yang kelak jadi manajernya; bergabung dengan kelompok rap Digital Underground sebagai penari dan roadie; dan dengan nama panggung 2Pac ia berkontribusi pada lagu “Same Song” (1991) milik Digital Underground. Beberapa bulan setelahnya, ia tampil sebagai cameo di film Nothing but Trouble.

Dunia baru melirik serius 2Pac saat dia merilis album debut 2Pacalypse Now pada November 1991. Di album itu, Tupac yang masih berusia 20 menuliskan lirik-lirik tajam yang amat relevan dengan kisah hidupnya dan orang-orang kulit hitam. Ia bicara lantang tentang represi dan kejahatan yang dilakukan oleh Amerika Serikat pada orang kulit hitam (“Words of Wisdom”), brutalitas polisi (“Trapped”), rasisme (“I Dont Give a Fuck”), hingga kehidupan keras di jalanan (“If My Homie Calls”).

Isu-isu serupa terus dibawa Tupac di album-album berikutnya, termasuk album ketiganya, Me Against the World (1995). Bisa dibilang album ini paling personal bagi Tupac, termasuk single paling sukses, “Dear Mama” yang merupakan persembahan bagi Afeni. Kemiskinan, kematian, geng, dan kejahatan polisi menjadi tema utama album yang masuk dalam daftar Definitive 200 Albums of All Time versi Rock and Roll Hall of Fame.

Ketika Tupac menjulang, tampak karakternya yang paradoks. Beberapa yang kerap dicatat oleh publik adalah Tupac tak mau dianggap sebagai gangster. Ini tentu bertolak belakang dengan beberapa catatan kriminal yang dilakukannya. Ia pernah terlibat beberapa tindak kekerasan, penyalahgunaan senjata api, menembak polisi, juga dipenjara karena pemerkosaan. Secara afiliasi, ia kerap dianggap sebagai tokoh sentral di kancah hip hop West Coast dan ia hidup di masa jaya gangsta rap—tentu saja tercermin pada lirik yang ia tulis.

“Tapi aku bukan gangster, dan tidak pernah menjadi gangster,” ujar Tupac. “Aku bukan orang yang merampok, membegal, aku hanya orang yang melawan balik ketika diinjak. Aku punya pekerjaan. Aku seniman.”

Dalam wawancaranya bersama Los Angeles Times, Tupac berpendapat nyaris semua orang di AS hidup berkelompok dan karenanya bisa disebut sebagai geng.

“Kita punya FBI, ATF, polisi, kelompok agama, Demokrat, Republik, semua punya kawan masing-masing, dan mereka gangbanging dengan cara masing-masing pula.”

Ketika Tupac ditembak, banyak orang menduga ini karena persaingan antar geng serta buah dari perseteruan kancah hip hop West Coast dan East Coast. The Notorious “Biggie” B.I.G—kawan yang lantas jadi rival Tupac—rapper dari kancah East Coast sempat jadi tersangka utama, sebelum ia juga tewas ditembak enam bulan setelah tragedi Tupac.

Greg Kading, mantan detektif Los Angeles Police Department yang menangani kasus pembunuhan Tupac dan Biggie, menyebut dia punya bukti bahwa dua orang rapper fenomenal ini adalah korban perseteruan dua tokoh kancah hip hop, Sean Combs dan Suge Knight. Hasil investigasi Knight bisa dibaca di buku Greg, Murder Rap: The Untold Story of the Biggie Smalls & Tupac Shakur Murder Investigations. Tuduhan ini dibantah oleh pihak Sean, sedangkan Suge memilih tak berkomentar.

Tupac sudah mangkat tiga windu lalu, namun mendengarkan Tupac hari ini tak ubahnya seperti teriakan yang terus menggema makin lantang. Karya-karya dan kritik pedas Tupac terasa makin relevan, apalagi di AS yang sejak beberapa tahun terakhir dihantam isu rasisme, supremasi kulit putih, dan brutalitas polisi. Isu-isu yang disuarakan oleh Tupac puluhan tahun lalu nyatanya tak hilang, malah makin membesar dan menginjak.

Dan di saat seperti ini suara Tupac makin keras terdengar dari dalam kubur.

Baca juga artikel terkait TUPAC SHAKUR atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight