Banyak orang rela mengeluarkan uang kelewat lebih untuk mewujudkan impian pernikahan sempurna. Namun begitu, psikolog Sri Juwita Kusumawardhani menyatakan edukasi pranikah juga merupakan hal penting sebagai bekal pengetahuan dalam menjalani pernikahan.

"Kebanyakan orang hanya fokus ke hari H saja, untuk mewujudkan dream wedding. Pre-marital education ini seperti life vest ini perlu untuk mengetahui apa yang akan dilakukan nantinya," ujar Sri Juwita Kusumawardhani dalam talkshow "Ready to Say I Do," di Jakarta, Sabtu (15/9/2018) dilansir Antara.

Sri Juwita menyatakan edukasi pranikah juga dapat meningkatkan kualitas dan kepuasan pernikahan. Berdasarkan riset, Wita mengatakan, mereka yang menjalani edukasi pranikah memiliki hubungan pernikahan yang lebih baik.

"Pasangan saling menerima," kata dia.

Oleh karena itu, tambahnya, edukasi pranikah diharap dapat menghindari perceraian.

Sebelum menikah, psikolog Sri Juwita mengatakan seseorang harus menyejahterakan diri sendiri dalam hal mental, yakni harus memiliki konsep dan harga diri, kemandirian, kematangan emosi dan mengetahui isu pribadi. Konsep diri yang tidak sehat ditemukan sebagai faktor kesehatan mental dan hubungan romantis yang buruk.

"Jika tidak memiliki konsep dan kepercayaan diri kecenderungannya akan ada perselingkuhan karena ingin menunjukkan kehebatan kepada pasangan dengan cara selingkuh," ujar Sri Juwita.

Memiliki kemandirian finansial, menurut Wita, juga penting. Membiarkan adanya "stakeholder," misalnya orang tua, dalam sebuah pernikahan, artinya mengizinkan mereka untuk melakukan intervensi.

Kemandirian juga memiliki arti kemandirian dalam mengambil keputusan dan memiliki tujuan hidup pribadi. Tujuan hidup tidak hanya dalam hal materi, pasangan juga dapat memiliki target untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Salah satu ciri individu yang dewasa dan siap menikah ditandai dengan kemandirian," kata Wita.

Selanjutnya, kematangan emosional juga wajib dimiliki sebelum menikah. Menurut Wita, mengecilkan perasaan pasangan termasuk tanda kurang matang secara emosi. Oleh karena itu, seseorang harus memahami perasaan diri sendiri dan mengetahui isu pribadi, misalnya kebiasaan saat marah.

"Banyak orang yang memutuskan menikah padahal masih belum mengenal diri sendiri. Bagaimana mengenal pasangan, apalagi nantinya punya anak," ujar Wita.


Menikah adalah sebuah keputusan besar dan penuh tanggung jawab. Banyak yang akhirnya memutuskan menikah atas dasar cinta. Alasan lainnya mungkin karena telah menemukan sosok pendamping hidup.

Namun sayangnya, ada pula yang memutuskan menikah karena alasan-alasan yang kurang tepat. Berikut lima alasan yang salah saat memutuskan untuk menikah.

Sri Juwita menjelaskan bahwa umur tidak bisa dijadikan patokan bagi seseorang untuk menikah. Umur juga tidak pernah dapat menentukan apakah seseorang siap atau tidak untuk menikah.

Karena, menurutnya, tidak semua orang memiliki usia mental yang berjalan sama dengan usia kronologisnya.

"Misalnya usia 27 tahun, bisa jadi usia mentalnya di bawah atau di atas itu," ujarnya.

Ia juga menekankan lamanya waktu berpacaran tidak menentukan kualitas hubungan dari pasangan tersebut.

"Kualitas dan kuantitas hubungan tidak selalu berbanding lurus, bisa jadi berbanding terbalik," kata dia.

Banyak orang yang beranggapan bahwa menikah merupakan jalan pintas untuk terlepas dari masalah. Namun, kenyataan tidak demikian.

"Karena menikah tidak pernah jadi jawaban dari masalah. Kalau pasangan tepat tentunya akan meringankan, tapi kalau tidak tepat, pasti akan semakin berat," ujarnya.

Bagi seseorang yang mendapat banyak tuntutan dari keluarga, menganggap bahwa pernikahan menjadi cara agar tidak berurusan dengan orang tua.

"Bisa jadi (cara ini) berhasil, kalau kualitas hubungan dengan pasangan baik. Kalau tidak, belum tentu dia bahagia keluar dari keluarga asli," katanya

Selain itu, panik saat mantan pacar sudah menikah kerap turut memicu orang untuk segera menikah, yang menyebabkan terburu-buru dalam memilih pasangan.Jika ini terjadi, mereka cenderung menikah dengan orang yang tidak begitu dikenalnya. Dalam situasi ini, psikolog Wita mengatakan, kebanyakan orang hanya melihat pasangan dari faktor eksternal-nya saja, seperti kemapanan.

"Padahal itu hanya bungkus faktor. Memang tidak ada pasangan 100 persen cocok, tidak ada yang ideal. Tapi, untuk sesuatu yang long lasting tidak bisa dari packaging-nya saja. Kalau kita enggak kenal dalamnya terlalu berisiko," tambah dia.