tirto.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, mengatakan bahwa seluruh pimpinan PBNU yang sempat bertikai, saat ini sudah kembali damai setelah melakukan islah.
Pria yang akrab disapa Gus Yahya itu menyebut, proses islah atau perdamaian sudah dilakukan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada 25 Desember 2025 lalu.
“Kesepakatan bersama adalah bahwa islah diterapkan untuk menghapus semua perbedaan dan perselisihan, dan kembali kepada default, kembali kepada asal keberadaan PBNU ini sebelum terjadi perselisihan,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers yang digelar di Kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026).
Gus Yahya menyatakan, kesepakatan perdamaian itu juga kembali ditekankan melalui pernyataan salah seorang Rais Syuriah PBNU, Muhammad Nuh, yang menyerukan kepada semua pihak yang bertikai untuk datang menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 tahun.
“Pak Muhammad Nuh juga menyerukan kepada semuanya untuk bisa hadir berpartisipasi di dalam puncak resepsi peringatan Harlah 100 tahun Nahdlatul Ulama menurut kalender Masehi ini, yaitu besok pagi pada jam 9 pagi di Istora Senayan,” tuturnya.
Gus Yahya menambahkan, kesepakatan perdamaian itu terjadi setelah para pihak yang bertikai bertemu dengan para kiai sepuh NU, yang meminta agar seluruh pihak menahan diri.
“Arahan dari para kiai sepuh yang kemudian menjadi kesepakatan bersama adalah bahwa islah diterapkan,” sebutnya.
Sebagai informasi, konflik di kalangan petinggi PBNU ini berawal dari surat hasil rapat pengurus harian Syuriah PBNU, Kamis (20/11/2025), di Hotel Aston City Jakarta, yang beredar di publik. Surat tersebut ditandatangani Rais Aam, KH Miftachul Akhyar.
Gus Yahya diminta mundur dari jabatan ketum. Jika tidak mundur dalam tiga hari, maka akan dilengserkan.
Gus Yahya dinilai telah melakukan pelanggaran karena menghadirkan narasumber yang dianggap terkait jaringan zionisme internasional dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU). Diketahui, narasumber yang dimaksud adalah Peter Berkowitz, akademisi pro-zionis Israel.
Akan tetapi, Gus Yahya tidak menggubris surat tersebut dan menolak untuk mundur dari jabatannya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































