tirto.id - Koordinator Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (Aruki), Torry Kuswardono, menilai komitmen iklim dan negosiasi Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara-negara kepulauan kecil dalam Alliance of Small Island States (AOSIS). Indonesia bahkan disebut tak memiliki proposal untuk menyelamatkan dunia dari krisis iklim.
Saat lebih dari 80 negara mendorong adanya kerangka kerja dalam Global Mutirão untuk keluar dari energi berbahan bakar fosil atau fossil fuel phase out roadmap, Indonesia dikatakannya justru absen.
"Indonesia tidak punya proposal untuk menyelamatkan dunia dari krisis iklim. Yang keluar dari Indonesia justru proposal untuk menyelamatkan bisnis karbon dalam negeri yang cuma akan menguntungkan segelintir orang. Ini sungguh mengecewakan," kata Tory dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (20/11/2025)
Dia kemudian mencontohkan negara Kolombia yang disebutnya memiliki ketergantungan dengan energi fosil. Menurut Tory, mereka justru memiliki komitmen dalam mendorong peralihan energi menuju sistem energi yang berkelanjutan atau transitioning away from fossil fuels.
Sementara itu, Ketua Tim Politik untuk Solusi Hutan Global Greenpeace, Rayhan Dudayev, mengatakan Indonesia sebenarnya mampu berperan dalam negosiasi iklim seperti perannya dalam negosiasi pasal terkait dengan skema tukar guling karbon. Akan tetapi, peran itu dinilainya tidak muncul dalam negosiasi untuk mendorong solusi nyata aksi iklim seperti penghentian bahan bakar fosil dan rencana menghentikan deforestasi.
"Hal-hal tersebut memang tidak mudah dalam negosiasi COP. Namun Indonesia bisa pula mengajak masyarakat sipil untuk bersama-sama mendorong aksi iklim yang nyata," kata Rayhan.
Menurut Rayhan, Indonesia seharusnya bisa mengambil peran penting dalam aksi iklim di waktu-waktu terakhir konferensi klim PBB COP30 di Belém, Brasil. Pemerintah Indonesia, katanya, tak boleh anyep bicara tentang rencana kerja kehutanan untuk menghentikan deforestasi.
“Dua langkah tersebut merupakan kunci utama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab krisis iklim dan melindungi keanekaragaman hayati,” ucapnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






























