tirto.id - Gerhana bulan total akan segera terjadi pada 3 Maret 2026 bertepatan dengan malam 15 Ramadhan 1447 H versi Muhammadiyah atau 14 Ramadhan versi NU dan Pemerintah. Adakah arti khusus terjadinya gerhana bulan total saat bulan Ramadhan dan bagaimana umat Islam menyikapinya?
Gerhana bulan total pada 3 Maret 2026 akan dapat diamati di seluruh wilayah di Indonesia. Peristiwa ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga cahaya Matahari menuju Bulan terhalangi Bumi.
Puncak gerhana bulan total menjadi momen penting karena saat itu bulan akan tampak berwarna merah jika langit cerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, puncak gerhana bulan total 3 Maret 2026 akan berlangsung pada 19.03.23 WIB atau 20.03.23 WITA atau 21.03.23 WIT.
Kali ini gerhana bulan total akan berdurasi sekitar 5 jam 41 menit 51 detik. Ini dimulai dengan fase penumbra sejak pukul 15.42 WIB dan berakhir pada 21.24 WIB.
Apakah Gerhana Bulan Total Saat Ramadhan Dapat Ditafsirkan?
Peristiwa gerhana bulan bertepatan dengan Ramadhan bukan kali pertama terjadi. Dalam catatan astronomi, fenomena ini berulang secara periodik sebagai bagian dari siklus pergerakan benda langit, bukan kejadian luar biasa yang berdiri sendiri. Pada 2025 lalu, juga terjadi gerhana bulan total pada 14 Maret yang bertepatan dengan pertengahan bulan puasa.
Memang, dalam realitas sosial, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan gerhana dengan berbagai mitos atau pertanda tertentu, misalnya dihubung-hubungkan dengan semakin dekatnya hari kiamat atau tanda akhir zaman.
Namun pandangan seperti itu tidak sejalan dengan penjelasan para ulama klasik. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa keyakinan yang mengaitkan gerhana dengan peristiwa tertentu, misalnnya kematian, kelahiran, atau tanda-tanda khusus lainnya, merupakan sisa kepercayaan jahiliah yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Beliau menjelaskan bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda dari kebesaran Allah, dan gerhana terjadi bukan karena peristiwa di bumi, melainkan sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa takut dan kesadaran spiritual manusia. Oleh karena itu, respons umat Islam yang dianjurkan bukanlah menafsirkan atau meramal, melainkan memperbanyak ibadah.
Senada dengan itu, dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam Nawawi juga menekankan bahwa ketika gerhana terjadi, umat Islam dianjurkan untuk bersegera melaksanakan shalat gerhana, berdoa, beristighfar, dan bersedekah. Hal ini menunjukkan bahwa gerhana, termasuk jika terjadi di bulan Ramadhan, harus dipahami sebagai momentum untuk meningkatkan amal, bukan sebagai pertanda datangnya kiamat atau peristiwa gaib lainnya.
Dengan demikian, gerhana bulan total di bulan Ramadhan tidak perlu ditafsirkan secara mistis, melainkan disikapi sebagai fenomena alam yang sekaligus menjadi pengingat bagi manusia untuk kembali mendekat kepada Allah.
Imam Nawawi dan ulama-ulama lain merujuk pada hadis bahwa Rasulullah saw. menegaskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Gerhana matahari dan bulan justru merupakan sarana agar hamba Allah merasa takut dan kembali mendekat kepada-Nya.
Kisah Meninggalnya Ibrahim Putra Nabi Muhammad dan Hadits
Salah satu momen yang terjadi bertepatan dengan gerhana, tepatnya gerhana matahari yakni wafatnya Ibrahim bin Muhammad, putra Rasulullah saw. dan Mariyah Al-Qibthiyyah. Pada tahun ke-10 Hijriah, ketika Ibrahim berusia sekitar 16–18 bulan, dia sakit keras.
Nabi Muhammad saw. mengunjungi Ibrahim yang saat itu tengah melewati sakaratul maut dalam pelukan ibunya. Air mata Nabi seketika menetes melihat putranya mengembuskan napas terakhirnya.
Beriringan dengan peristiwa tersebut, terjadi gerhana matahari. Saat itu orang-orang Madinah kemudian menghubung-hubungkan kematian Ibrahim dengan fenomena alam tersebut dengan berkata, "Matahari sedang berduka dan mengalami gerhana karena kematian Ibrahim.”
Mendengar itu, Rasulullah tidak membiarkan kesalahpahaman itu berkembang. Beliau pun berkata di depan orang banyak meluruskan hal tersebut.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang [ula tidak karena hidupnya (lahirnya) seseorang. Maka, apabila kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Dari peristiwa tersebut, tampak jelas bagaimana Rasulullah saw. meluruskan pemahaman umat dengan menegaskan bahwa gerhana adalah fenomena alam yang terjadi sesuai ketetapan Allah, bukan karena peristiwa tertentu yang dialami manusia. Beliau tidak membiarkan fenomena tersebut ditafsirkan secara keliru atau dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistis.
Melalui penjelasan itu, Rasulullah juga meneguhkan bahwa gerhana merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang berjalan atau sunnatullah (hukum alam). Karena itu, sikap yang tepat bukanlah mengaitkannya dengan pertanda tertentu, melainkan menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan memperbanyak ibadah.
Pembaca yang ingin mendapatkan rekomendasi artikel seputar Ramadhan 2026, dapat mengaksesnya melalui tautan ini.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





























