Menuju konten utama

Garap PSEL di Jakarta, Danantara Targetkan Investasi Rp17 T

Danantara sebut proyek PSEL di Jakarta akan mengolah sampah berkapasitas 8.000 ton per hari dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Garap PSEL di Jakarta, Danantara Targetkan Investasi Rp17 T
Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Roslan Roeslani memberi sambutan saat tasyakuran HUT Ke-1 Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (11/3/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memproyeksikan kebutuhan investasi sekitar Rp17 triliun atau setara 1 miliar dolar AS untuk membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di DKI Jakarta.

Proyek ini akan mengolah sampah berkapasitas 8.000 ton per hari dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan proyek ini menjadi prioritas utama dan masuk dalam tahap percepatan. Ia mengungkapkan, fasilitas PSEL tidak hanya akan dibangun di Bantar Gebang dan Kamal Muara, tetapi juga dipertimbangkan di lokasi lain seperti Sunter.

Namun, pihaknya masih mengkaji lokasi yang paling efisien dan cepat direalisasikan. “Targetnya paling tidak awal 2028 sudah bisa beroperasi,” ujar Rosan di Kemenko Pangan, Senin (4/5/2026).

Kapasitas fasilitas sejatinya bisa ditingkatkan hingga 10.000-12.000 ton per hari. Rosan menjelaskan, perluasan ini tidak hanya ditujukan untuk mengolah sampah baru, melainkan juga menyedot timbunan lama yang selama ini menggunung di Bantar Gebang.

“Dengan teknologi baru ini, sampah lama juga bisa diambil dan diolah, tidak hanya sampah baru,” katanya.

Teknologi yang digunakan memungkinkan pengolahan sampah tanpa proses pemilahan terlebih dahulu, sehingga mempercepat waktu dan efisiensi operasional.

Kendati begitu, ada pula opsi teknologi lain yang tetap memerlukan pemilahan. Pemerintah masih menimbang berbagai pendekatan dengan mempertimbangkan faktor lingkungan seperti bau, penggunaan lahan, dan dampak sosial.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa persoalan sampah Jakarta telah menjadi perhatian serius, bahkan langsung dipantau oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Beberapa minggu lalu kami bahkan ditelepon (Presiden) soal sampah, terutama Bantar Gebang,” ujarnya.

Volume sampah Jakarta saat ini diproyeksi mencapai sekitar 9.000 ton per hari. Sebanyak 87 persen di antaranya masih bergantung pada sistem open dumping di TPST Bantar Gebang, yang kapasitasnya sudah jauh terlampaui.

Menurut Zulhas, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa timbunan sampah di lokasi tersebut kini sudah menyerupai gedung setinggi 16 hingga 17 lantai.

Untuk mengatasinya, pemerintah mengandalkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi energi.

Melalui kebijakan ini, sampah tidak lagi sekadar ditimbun, melainkan diolah menjadi energi listrik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengusulkan Bantar Gebang dan Kamal Muara sebagai lokasi prioritas pembangunan PSEL.

Adapun, sebelumnya pemerintah telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) antara pemerintah daerah dengan tiga badan usaha pengembangan dan pengelola (BUPP) PSEL.

Tiga badan usaha ini pun telah membentuk konsorsium, yaitu BUPP PT Wangneng Bekasi Environment Nusantara yang akan mengelola PSEL di aglomerasi Kota Bekasi; PT Weiming Nusantara Bogor New Energy di aglomerasi Kota Bogor Raya; dan PT Weiming Nusantara Bali New Energy di aglomerasi Denpasar Raya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana