tirto.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai literasi bisa menghidupkan ruang publik, ekonomi kreatif, sekaligus identitas kota. Hal itu menjadi semangat utama penyelenggaraan Jakarta Literaria, Festival Literasi Jakarta (FLJ) 2025 yang mengusung tema "Peta, Kata, Kita."
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekraf DKI Jakarta, Puji Hastuti, mengatakan bahwa festival ini dirancang sebagai platform strategis untuk menumbuhkan minat generasi muda yang inklusif.
“Melalui Festival Literasi Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menumbuhkan semangat generasi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Puji di PosBloc, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Lebih dari sekadar perayaan, FLJ 2025 dirancang sebagai ruang pertemuan yang produktif. Gelaran ini berusaha menjadi penghubung aktor-aktor dalam dunia literasi.
“Festival ini kami rancang sebagai ruang pertemuan para penulis, penerbit, ilustrator, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif untuk saling bertukar gagasan, berkolaborasi, dan menghasilkan karya yang mencerminkan dinamika Jakarta sebagai kota yang terus belajar dan berkembang,” ujar Puji.
Pendekatan ini sejalan dengan visi membangun ekosistem yang utuh. Literasi, menurut Puji, harus diiringi dengan penguatan ekonomi kreatif, termasuk juga perlindungan terhadap kekayaan intelektual (intellectual property/IP).
“Kami mendorong kesadaran akan pentingnya kepemilikan IP, peluang usaha bagi pelaku industri, dan pembangunan ekosistem yang adil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Tujuannya agar aktivitas literasi memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di DKI Jakarta.
Tema “Peta, Kata, Kita” dipilih untuk memperluas makna literasi. Puji menjelaskan, tema itu mengajak publik melihat literasi sebagai ruang mengeksplorasi gagasan, pengalaman, dan harapan. Tidak hanya melalui buku, tetapi juga konten digital dan ruang kreatif lainnya.
“Literasi harus menjadi energi kolektif yang membentuk identitas kota, menghubungkan berbagai sektor ekonomi kreatif, dan memunculkan ruang publik sebagai pusat literasi,” tuturnya.
Dukungan untuk festival tersebut juga datang dari sektor penerbitan. Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, menekankan bahwa Jakarta memiliki visi menjadi Kota Literasi dan Kota Global.
Untuk mewujudkan visi tersebut, menurut Hikmat, fondasi yang harus dikuatkan adalah pembangunan manusia. Sebagai ibu kota, sambungnya, Jakarta harus mampu menjadi barometer dalam hal itu.
“Hanya manusia-manusia kreatif dan berliterasilah yang mampu memantik Jakarta supaya jadi kota global. Kan saingan Jakarta itu bukan hanya kota-kota Indonesia,” ujarnya.
Hikmat menilai kolaborasi sebagai langkah strategis. Dengan kolaborasi yang melibatkan unsur pengambil kepentingan, para pelaku industri di bidang literasi, dan komunitas, cita-cita menjadikan Jakarta sebagai Kota Literasi dan Kota Global lebih mudah diwujudkan.
“Sebagai kota global, kita harus benchmarking ke kota-kota kreatif lain di dunia. Insyaallah dengan kolaborasi semua pihak, Jakarta sebagai kota kreatif, kota yang berbudaya, dan punya kemampuan literasi yang baik, akan berkembang dengan sangat maju,” imbuhnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id






























