tirto.id - Program Sekolah Rakyat yang telah berjalan hampir satu semester mulai memperlihatkan hasil nyata. Evaluasi awal menunjukkan kemajuan positif siswa, baik dari sisi fisik dan kesehatan, psikososial dan pengembangan talenta, hingga capaian akademik.
Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Muhammad Nuh menjelaskan, ketiga aspek tersebut menjadi indikator utama dalam menilai efektivitas penyelenggaraan Sekolah Rakyat sejak dimulai pada Juli 2025.
“Sekolah Rakyat sudah hampir satu semester berjalan. Oleh karena itu saat paling tepat sekarang ini melakukan evaluasi pelaksanaan dari Sekolah Rakyat,” ujar Nuh usai menghadiri Doa Bersama untuk Sumatra di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (29/12/2025).
Menurut Nuh, evaluasi dilakukan secara menyeluruh dan berlapis. Aspek pertama yang dinilai adalah kondisi fisik dan kesehatan siswa. Sejak awal masuk, setiap anak dipetakan kondisi kesehatannya, mulai dari tinggi dan berat badan, kebugaran, hingga kondisi medis tertentu. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi siswa setelah menjalani satu semester pembelajaran.
“Waktu masuk dulu seperti apa, berat badan, tinggi badan (hingga) tingkat kesehatan dan kebugarannya. Setelah satu semester apa yang berubah. Before and after dari sisi kesehatan dan kebugaran,” katanya.
Aspek kedua menyangkut perkembangan psikososial dan talenta siswa. Sekolah Rakyat, kata Nuh, menggunakan peta talenta sebagai dasar pendekatan pembelajaran. Dengan cara ini, setiap anak dipandang sebagai individu unik yang memiliki potensi berbeda-beda, tidak semata dinilai dari kemampuan akademik.
“Setiap anak punya kartu yang namanya talenta. Berangkat dari talenta inilah sebenarnya yang ingin kita kembangkan. Tidak hanya aspek akademiknya semata,” jelasnya.
Sementara aspek ketiga adalah capaian akademik. Ketiga pilar tersebut, fisik dan kesehatan, psikososial dan talenta, serta akademik, menjadi fondasi utama dalam menilai perkembangan siswa Sekolah Rakyat.
Nuh mencontohkan perkembangan Azril, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, yang saat pertama masuk belum mampu membaca dan menulis karena kondisi tertentu. Melalui pendekatan berbasis talenta dan motivasi, kemampuan Azril mengalami lonjakan signifikan.
“Itu tadinya tidak bisa baca-tulis karena kondisi tertentu. Tapi dengan dengan peta talenta, kita ketahui peta talentanya punya semangat yang kuat. Maka Alhamdulillah dengan pendekatan yang tepat akhirnya di bisa membaca dan menulis, bahkan ranking tiga di kelasnya,” ungkap Nuh.
Ia menegaskan, pendekatan tersebut menjadi ciri khas Sekolah Rakyat dalam menggali potensi siswa secara menyeluruh, hingga potensi yang semula tersembunyi dapat berkembang menjadi kompetensi nyata.
Hasil evaluasi menyeluruh program Sekolah Rakyat dijadwalkan rampung pada Januari 2026. Penilaian tidak hanya mengandalkan indikator konvensional, tetapi juga mengukur dampak sosial melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI).
“Sekolah Rakyat bukan profit oriented, tapi investasi sosial, maka yang kita ukur adalah SROI - nya berapa. Sehingga dari situ tidak hanya diukur dari jumlah lulusannya berapa. Tetapi nilai sosial berapa yang bisa kita telurkan dari Sekolah Rakyat itu,” jelas Nuh.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menilai penyelenggaraan Sekolah Rakyat sepanjang 2025 berjalan relatif baik di 166 daerah, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan pada tahap awal yang terus diperbaiki.
“Alhamdulillah secara umum penyelenggaraan Sekolah Rakyat tahun ini bisa terselenggara dengan baik. Hari ini kita lihat bagaimana proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat mulai menampakkan hasil-hasilnya,” kata Gus Ipul.
Ia mengungkapkan rasa haru melihat mulai munculnya bakat dan potensi siswa yang sebelumnya sulit teridentifikasi.
“Saya merasa terharu karena mulai nampak bakat-bakat dari siswa Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Gus Ipul menjelaskan, sejak awal siswa Sekolah Rakyat tidak diseleksi melalui tes akademik. Tahapan awal justru dimulai dari pemeriksaan kesehatan, dilanjutkan pemetaan talenta menggunakan teknologi DNA Talent berbasis kecerdasan buatan untuk membaca minat, bakat, dan potensi siswa.
“Dari situ kita bisa mengetahui dan sekaligus nanti membimbing serta mengarahkan sebaiknya mereka nanti berprofesi di bidang apa,” kata Gus Ipul.
Ia menegaskan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, lulusan Sekolah Rakyat diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau disiapkan menjadi tenaga kerja terampil, baik di dalam maupun luar negeri. Bagi siswa yang memilih jalur kewirausahaan, pemerintah juga menyiapkan skema pendampingan lintas kementerian.
“Pada prinsipnya, kita sudah memikirkan hilirisasi penyelenggaraan Sekolah Rakyat ini. Lulusannya seperti apa nanti, tindak lanjutnya dan proses-proses pendidikan yang harus dilakukan di lingkungan Sekolah Rakyat,” pungkasnya.
Hingga akhir Desember 2025, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 lokasi dengan daya tampung 15.820 siswa yang terbagi dalam sekitar 638 rombongan belajar. Program ini didukung oleh 10.500 guru serta 4.442 tenaga kependidikan di berbagai daerah.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































