Alih Fungsi Lahan Pemerintah

Duduk Perkara Penggusuran SDN Pocin 1 & Tuntutan Orang Tua Murid

Reporter: Farid Nurhakim, tirto.id - 18 Des 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Penggusuran SDN Pocin 1 yang akan dialihkan menjadi bangunan masjid menuai polemik. Bagaimana duduk perkaranya?
tirto.id - “Mana gedung pengganti kami, pemerintah hanya obral janji.”

Begitulah salah satu tulisan poster yang tertempel di gerbang Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Cina 1, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Protes itu disampaikan usai adanya rencana alih fungsi lahan sekolah tersebut menjadi Masjid Agung Kota Depok.

“Tolak penggusuran atas nama pembangunan,” demikian tertulis di poster lainnya.


Reporter Tirto berkesempatan mengunjungi SDN Pondok Cina (Pocin) 1 pada Kamis (15/12/2022) siang. Saat itu tampak puluhan orang tua murid dan murid sekolah tengah berkumpul di halaman sekolah. Mereka semua menunggu kedatangan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Namun hingga sore hari, pria yang karib disapa Kang Emil itu tak kunjung datang.

Selain itu, terpampang jelas spanduk vertikal berwarna hitam bertuliskan #SaveSiswaSDN01PondokCina. Dengan kutipannya yaitu “Bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus.”

Di sisi sebelah kirinya dari depan gerbang sekolah, terdapat kain putih panjang yang dibentangkan di area halaman sekolah, serta diwarnai tanda tangan dan protes terkait relokasi ini.

“Pendidikan sekolah adalah hak setiap individu!! #SaveSDNPocin,” tulis salah satu protes di kain tersebut. Di bawahnya, terlihat tulisan dengan huruf kapital semua (capslock) berbunyi “Selain demokrasi, sekolah juga dibatasi.”

Merunut Lahan SDN Pocin 1 yang Akan Dibuat Masjid Agung Depok

Rencana alih fungsi lahan SDN Pocin 1 ini dinilai minim partisipasi publik, terutama protes dari para orang tua dan murid. Para guru dan murid sekolah ini terpaksa dipindahkan ke sekolah lain yang kapasitas kelasnya sudah tak memadai.

Pemerintah Kota Depok awalnya bakal mengalihfungsikan SDN Pocin 1 menjadi Masjid Agung Kota Depok. Wali Kota Depok, Mohammad Idris mengatakan, pembangunan masjid tersebut adalah program strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Citra Indah Yulianty menuturkan, rencana alih fungsi tersebut telah ada sejak 2019. Pemkot Depok memandang bahwa keberadaan SDN Pocin 1 di Jalan Raya Margonda bisa membahayakan keselamatan siswa, sehingga mereka memutuskan untuk relokasi.




Teranyar, Walkot Depok, Mohammad Idris mengatakan, pembangunan Masjid Agung Kota Depok di lokasi SDN Pocin 1 sementara ditunda. Hal ini menindaklanjuti hasil pertemuan Pemkot Depok dengan Menteri Koordinator Bidang PMK Muhadjir Effendy, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti, Inspektorat Jenderal Kemendagri, Ombudsman RI, Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya, kementerian atau lembaga, serta memperhatikan Surat Gubernur Jabar Ridwan Kamil tertanggal 12 Desember 2022.

“Pembangunan masjid di lokasi SDN Pondok Cina 1 untuk sementara ditunda, sampai dengan seluruh siswa SDN Pondok Cina 1 dapat direlokasi ke satu sekolah yaitu di SDN Pondok Cina 5,” kata Idris melalui keterangan video di Instagram resmi Pemkot Depok, @pemkotdepok pada Rabu (14/12/2022).

Idris menyebut bagi siswa yang masih belajar di lokasi SDN Pondok Cina 1 tetap akan difasilitasi belajar mengajar, sampai dengan terbangunnya ruang kelas baru (RKB) di SDN Pondok Cina 5 yang akan dijadikan tempat relokasi.

Bagi siswa SDN Pondok Cina 1 yang sekarang telah melaksanakan relokasi di SDN Pondok Cina 3 dan 5, kata dia, diperkenankan untuk memilih di SDN Pondok Cina 3 dan 5 atau dapat kembali ke SDN Pondok Cina 1 sesuai dengan kenyamanan siswa.

“Pembangunan RKB baru di SDN Pondok Cina 5 akan dibangun oleh pemerintah melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR dengan anggaran yang bersumber dari APBN tahun anggaran 2023. Untuk menjamin kenyamanan semuanya, agar pihak-pihak yang tidak berkepentingan yang saat ini menduduki SDN Pondok Cina 1 untuk segera keluar dari lokasi SDN Pondok Cina 1,” tutur Idris.

Polemik Penggusuran SDN Pondok Cina 1 Kota Depok
Kondisi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Cina 1, Kota Depok pada Kamis (15/12/2022). (Tirto.id/Farid Nurhakim)

Upaya Penggusuran Tidak Tersosialisasikan dengan Baik

Francine Widjojo dari Tim Advokasi SDN Pondok Cina 1 mengatakan, upaya penggusuran SDN Pocin 1 yang bakal menjadi Masjid Agung Kota Depok ini tidak tersosialisasikan dengan baik dan tidak melibatkan partisipasi masyarakat. Terutama yang sangat terdampak dalam hal ini adalah para murid dan orang tuanya.

“Dari sosialisasi yang dilakukan oleh Pemkot Depok itu belum menyerap aspirasi maupun keberatan dari para orang tua murid,” ujar Francine saat ditemui Tirto di samping SDN Pondok Cina 1 pada Kamis (15/12/2022) siang.

Dia menuturkan, sosialisasi terkait relokasi SDN Pocin 1 terjadi pada Agustus 2022, tapi saat itu orang tua sudah mengajukan keberatan dan terdapat keputusan untuk dilakukan sosialisasi berikutnya. Namun, tiba-tiba sudah ada keputusan untuk memindahkan murid-murid sekolah tersebut.

“Karena selanjutnya dari hasil sosialisasi tersebut disangkanya masih akan ada upaya lain untuk musayawarah lah ya, namun ternyata sudah dilakukan relokasi. Guru-gurunya dipindahkan, kemudian murid-murid juga terpaksa harus memilih antara mau sekolah di SDN Pondok Cina 3 atau 5, sementara sebagian besar murid masih senang sekolah di sini,” kata Francine.



Dia juga menyebut bahwa upaya relokasi ini dilakukan ketika masa belajar aktif. Alhasil, murid-murid SDN Pocin 1 menjadi terpisah-pisah dan bingung.

“Namanya anak SD, kan, ya enggak berpikir sampai sejauh itu mungkin, ya tahunya kan cuma sekolah, bergembira bersama teman-temannya, tapi terpisah-pisah. Dan ini juga mempengaruhi kondisi mental mereka, kadang sampai kemarin juga ada informasi dari orang tua anaknya sampai trauma,” sambung Francine.

Lanjut dia, Pemkot Depok pada awalnya mengatakan bahwa mereka akan memindahkan murid SDN Pocin 1 ke SDN Pocin 3 dan 5. Walaupun sebelumnya Pemkot Depok menyebut hanya akan memindahkan murid SDN Pocin 1 ke SDN Pocin 5 saja, tetapi tiba-tiba dipecah menjadi dua sekolah.

“Ternyata juga Pemkot Depok tidak merencanakan dan mempersiapkan dengan baik. Relokasinya itu seolah-olah dipaksakan dari segi waktu maupun dari segi lokasinya,” ujar Francine.

Dia menjelaskan, SDN Pocin 1 saat ini memiliki 12 kelas. Sementara di dua sekolah lainnya, yakni SDN Pocin 3 dan 5 hanya mempunyai enam serta sembilan kelas.

“Itu pun mereka untuk menampung murid-muridnya sendiri, ketika ada sebagian murid Pocin 1 ini yang pindah, mereka jadinya masuk kelas siang. Berarti, kan, memang ruang kelasnya tidak mencukupi, kemudian waktu belajarnya menjadi berkurang. Karena waktu belajar pagi itu jauh lebih panjang, mereka punya waktu ekstrakulikuler, dibandingkan dengan waktu belajar siang,” kata Francine.

Polemik Penggusuran SDN Pondok Cina 1 Kota Depok
Kondisi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Cina 1, Kota Depok pada Kamis (15/12/2022). (Tirto.id/Farid Nurhakim)


Akan tetapi, kata dia, sebenarnya orang tua murid SDN Pocin 1 awalnya tidak menolak untuk direlokasi. Mereka meminta jika terpaksa sekali direlokasi, sebaiknya murid-muridnya jangan dipisah dan disiapkan dahulu sarana serta prasarananya, termasuk bangunan sekolah yang memiliki jumlah kelas yang sesuai dengan kebutuhan.

“Tetapi yang menjadi pertanyaan dan keberatan juga, mengapa sih sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1946 ini harus digusur. Sedangkan kebutuhan pendidikan di Depok ini, kan, cukup banyak, bahkan dari dinas pendidikan pun juga mengatakan dalam surat tertulisnya pun juga ada menyatakan bahwa ada kebutuhan untuk SMP Negeri,” ujar Francine.

Dia juga mempertanyakan mengapa SDN Pocin 1 tidak dipertahankan saja sebagai tempat pendidikan. Apalagi bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah.

“Kami tentunya akan mengawal kasus ini dan upaya terdekat itu sebenarnya kami, kan, waktu itu dari yang hari Minggu (11/12/2022), yang ketika Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) berupaya untuk melakukan pemusnahan, itu kan kita minta waktu audiensi dengan wali kota. Kemarin (14/12/2022) kami sudah bersurat, minta jadwal hari ini pukul 10 pagi, namun diminta diundur pukul 2 siang,” kata Francine.

Ketika ia meminta konfirmasi apakah Idris bakal hadir untuk melakukan audiensi, tapi Pemkot Depok menyebut masih diupayakan. Sehingga, mereka meminta untuk dijadwalkan kapan waktunya Idris bisa mendengarkan warganya.


Apa Kata Wali Murid & Pihak SDN Pondok Cina 1?

Hendro, salah satu orang tua murid SDN Pocin 1 mengatakan, para wali murid menilai relokasi ini kurang sesuai dan kemungkinan agak bersingungan dengan undang-undang terkait pendidikan. Dia sebut, Pemkot Depok tidak ada tawaran sejak awal terkait relokasi, mereka hanya mau merelokasi murid SDN Pocin 1 ke dua sekolah yaitu SDN Pocin 3 dan 5.

“Selayaknya merelokasi, kan, harusnya dibikin tempat baru dulu sih, pengennya kita seperti itu. Ini alasan mereka (Pemkot Depok), mereka enggak ada dananya,” kata Hendro kepada reporter Tirto ketika ditemui di depan gerbang SDN Pondok Cina 1 pada Kamis (15/12/2022) siang.

Dia pun menyebut bahwa sosialisasi Pemkot Depok yang lalu itu hanya bersifat satu arah dan tidak berupa forum dialog. Di mana mendadak mereka ingin langsung eksekusi atau melakukan penggusuran.

“Tuntutan orang tua murid sih sebenarnya kalau bisa, sih kita pengennya sekolah kita tetap di sini, cuma apalah daya, [tempat] kami ini mau dibangun masjid, kami pun enggak menolak pembangunan masjid. Tapi relokasinya, kalau bisa, permintaan kami adalah relokasi satu gedung untuk satu sekolah ini semua,” ucap Hendro.

“Ya harapan terendahnya itu, harapan terbesar kami tetap di sini bahkan kalau bisa ini diperbaiki,” imbuh dia.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Pocin 1, Sri Widayati menerangkan, sosialisasi soal relokasi itu telah dilakukan pada 20 Agustus 2022. Dia pun saat itu diundang dan menyebut sudah ada sosialisasi ke orang tua murid.

“Memang orang tua itu mintanya dibuatkan gedung yang baru dulu, baru anak-anak pindah. Cuma untuk buat gedung yang baru secepat itu, itu kan enggak bisa. Jadi sementara dititipkan gitu dengan pertimbangan tetap memberikan hak anak untuk belajar,” jelas Widayati kepada awak media saat dihubungi via sambungan telepon pada Kamis (15/12/2022) sore.

Dia mengatakan, sosialisasi itu dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Depok, kelurahan, kecamatan, Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), orang tua murid, serta Kepala Sekolah Pocin 3 dan 5.

Widayati pun berharap orang-orang yang tidak berkepentingan jangan terlalu ikut campur soal relokasi SDN Pocin 1 ini.

“Sebetulnya, kalau murni dari orang tua, mah enggak separah ini [penolakan]. Masalahnya kemarin itu, kan, terus bawa-bawa media, terus ada pihak-pihak yang tidak berkepentingan nimbrung di situ, jadi ramai,” kata Widayati.

Tirto sudah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Disdik Kota Depok, Wijayanto soal polemik penggusuran SDN Pocin 1 ini. Namun hingga berita ini diterbikan, belum ada tanggapan sama sekali.


Baca juga artikel terkait SDN 1 POCIN atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Abdul Aziz

DarkLight