Menuju konten utama

DPR Tanggapi Pigai soal 3 Pedemo Hilang: Yang Penting Temukan

Menurut Andreas, mengembalikan orang yang hilang pasca demonstrasi merupakan tugas negara yang harus dijalankan.

DPR Tanggapi Pigai soal 3 Pedemo Hilang: Yang Penting Temukan
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, (17/9/2025). Tirto.id/Rahma Dwi Safitri
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, merespons pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai yang memakai istilah ‘belum kelihatan’ bagi tiga orang demonstran yang hilang imbas demonstrasi akhir Agustus lalu. Menurutnya, hal yang terpenting adalah menemukan keberadaan mereka dan mengembalikan kepada keluarganya.

“Apapun istilahnya, yang penting temukan kembali dan kembalikan ke keluarganya. Menurut saya itu yang paling penting. Soal pendefinisian, soal orang hilang, tapi [kan] orang ini tidak ada di tempatnya,” kata Andreas saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, (17/9/2025).

Menurut Andreas, mengembalikan orang yang hilang pasca demonstrasi merupakan tugas negara yang harus dijalankan. Hal ini, kata Andreas, paling penting dibandingkan dengan istilah yang digunakan untuk ketiga orang yang tidak diketahui keberadaannya.

“Itu yang paling penting, bahwa kita kembalikan orang ini, dan tugas negara adalah mengembalikan kepada keluarganya, mengembalikan kepada tempat di mana dia berasal,” katanya.

Menurut Andreas, jika orang tersebut tidak sengaja dihilangkan oleh pihak tertentu, seharusnya para demonstran yang hilang dapat diketahui keberadaannya. Dia menyebut bahwa persoalan ini harus diselesaikan dengan cepat.

“Kita yakin bahwa kalau orang tersebut dalam tanda petik ya, tidak dihilangkan dalam arti yang lebih tragis, seharusnya dia bisa kembali sehingga di sini lah saya kira perlu kepastian dan tim pencari fakta sedang melaksanakan itu. Kita harus lebih cepat lebih baik menyelesaikan ini,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri HAM, Natalius Pigai, menyoroti kabar tiga orang massa demo saat aksi pada Agustus 2025 lalu yang masih belum diketahui keberadaannya. Pigai tidak ingin buru-buru menyimpulkan tiga orang tersebut adalah korban hilang atau korban penghilangan paksa seperti diungkap Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

"Kalau saya pakai (istilah) belum kelihatan, bukan. Terlalu dini untuk menyatakan orang itu hilang," kata Pigai saat ditemui dalam acara pembahasan DIM Revisi UU HAM di Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025).

Perlu diketahui, hingga kini, keluarga dari Reno Syahputradewo, Muhammad Farhan Hamid dan Bima Permana Putra masih belum mengetahui keberadaan mereka.

Menurut Pigai, tiga orang itu bisa saja panik saat berada di titik demonstrasi sehingga menyembunyikan diri. Asumsi ini dipakai karena dia memiliki cerita ada seseorang bersembunyi jauh dari rumah saat demonstrasi 1998 meletus.

Pigai berkata, perlu ada penelusuran lebih lanjut sebelum KontraS menyatakan orang hilang, termasuk upaya pencarian melalui CCTV tiap jalan di Jakarta.

"Siapa yang melihat posisi terakhir (tiga orang)? Kan kita tidak tahu. Orang yang melihat posisi terakhir (tiga orang) apakah sudah diminta keterangan?" tanya retoris Pigai.

"Jangan buru-buru berkesimpulan hilang apalagi pakai kata hilang paksa. Kata paksa itu adalah kata yang tindakan visual, siapa yang menyaksikan dia paksa, siapa pelakunya," imbuhnya.

Sama seperti organisasi sipil, Pigai mengklaim Kementerian HAM juga tengah melakukan upaya pencarian tiga orang tersebut. Tim dibentuk pada awal pekan ini atau dua pekan lebih setelah demonstrasi Agustus kelabu.

"Tim sudah datang ke pihak keluarga dan akan konfirmasi ke Polda Metro Jaya," katanya.

Baca juga artikel terkait AKSI DEMO atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher