Di Balik Nasib Sial PAN yang Tak Dapat Jatah Kursi DPR RI di Jateng

Oleh: Bayu Septianto - 18 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Secara mengejutkan PAN tak dapat jatah kursi DPR RI satu pun dari seluruh dapil di Jawa Tengah, padahal pada Pileg 2014 mereka sukses meraup 8 kursi.
tirto.id - Hasil pemilihan legislatif (Pileg) untuk Provinsi Jawa Tengah telah disahkan dalam rapat pleno rekapitulasi, di kantor KPU RI, Jakarta, Rabu (15/5/2019). Secara mengejutkan Partai Amanat Nasional (PAN) tak mendapatkan satu kursi pun untuk DPR RI.

Berdasarkan hasil rekapitulasi rersebut, PAN hanya mampu meraih 832.010 suara di seluruh daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah.

Partai berlambang matahari itu kalah bersaing dengan parpol berbasis Islam lainnya, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan raihan suara sebanyak 971.139 dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 1.116.942 suara. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bahkan menempati posisi kedua dengan raihan 2.726.730 suara.

Pada Pemilu 2019 ini, Provinsi Jawa Tengah masih menjadi wilayah yang dikuasasi PDI Perjuangan dengan meraup suara hingga 5.769.663 dan berhak mendapatkan 26 kursi dari 77 kursi DPR RI yang dijatahkan untuk dapil Jawa Tengah.

Padahal, pada Pileg 2014, PAN meraih delapan kursi di provinsi tersebut. Saat itu, PAN berhasil mendapatkan 1.208.202 suara dan mengirimkan delapan calegnya, yakni Muhammad Hatta, Yayuk Basuki, Abdul Hakam Naja, Teguh Juwarno, Taufik Kurniawan, Tjatur Sapto Edy, Ammy Amalia Fatma (di-PAW oleh Muhammad Hanafi) dan Laila Istiana.

Namun, suara PAN di Jawa Tengah benar-benar anjlok pada Pileg 2019 ini. Tak hanya di DPR RI, tapi juga di DPRD Provinsi Jawa Tengah. Bila sebelumnya PAN meraih delapan kursi pada Pileg 2014, kali ini PAN harus rela kehilangan dua kursinya.

Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Suparno mengatakan kekalahan yang diderita partainya di Jawa Tengah akibat banyaknya kecurangan, seperti penggelembungan suara untuk caleg tertentu sehingga mengakibatkan suara dari caleg PAN berkurang.

Tak mau tinggal diam, kata Eddy, PAN akan membawa masalah ini ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Banyak kecurangan di lapangan, khususnya penggelembungan suara. Ada beberapa kasus di Jateng yang akan kami bawa ke MK,” ujar Eddy kepada reporter Tirto, Jumat (17/5/2019).


Selain itu, PAN juga akan melakukan evaluasi terkait anjloknya perolehan suara di Jawa Tengah itu. Namun, Wasekjen PAN Saleh Daulay berkata, evaluasi baru akan dibahas setelah rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 tingkat nasional berakhir.

PAN pun mengakui keunggulan PDIP sebagai pemilik suara terbesar dan meraih kursi terbanyak dari Jawa Tengah. Sebab, kata Saleh, Jawa Tengah memang merupakan medan pertempuran berat, tak hanya bagi PAN, tetapi juga partai-partai lain untuk mengalahkan PDIP.

“Asumsinya bahwa Jateng adalah basis paling kuat PDIP. Karena itu, partai-partai lain agak kesulitan meraih dan mempertahankan kursi. Partai-partai lain pun banyak yang berkurang kursinya di Jateng,” kata Saleh saat dihubungi reporter Tirto.

Menurut Saleh, partainya akan kembali bekerja keras untuk menaikkan elektabilitas demi meraih kemenangan pada Pemilu 2024 mendatang.

“Hasil evaluasi kami nantinya yang akan dijadikan referensi untuk mengembalikan kekuatan elektoral kami di Jateng,” kata Saleh.


Minimnya Tokoh PAN di Jawa Tengah


Direktur Riset Populi Center, Usep S. Ahyar menilai jatuhnya PAN di Jawa Tengah salah satu faktornya adalah tak ada tokoh yang menonjol di PAN untuk bisa merebut hati rakyat Jawa Tengah, minimal para caleg petahana.

Faktanya, delapan petahana yang kembali mencalonkan dirinya juga tak bisa mengatrol suara PAN untuk bisa lolos ke DPR RI. Misalnya, Yayuk Basuki, mantan petenis yang kini duduk di Komisi X DPR itu hanya mampu menyumbangkan 27.206 suara di Dapil I Jawa Tengah. Sedangkan Teguh Juwarno yang meraih 51,000 suara, tapi tetap tidak lolos ke Senayan.

Sementara Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan, meski berstatus terdakwa, tapi masih mendapatkan suara pada Pileg 2019. Bertarung di Dapil VII Jateng, Taufik hanya mendapatkan 19.263 suara.

“Padahal petahana itu di beberapa tempat seharusnya jadi modal bagi mereka, juga partainya agar bisa kembali lolos," jelas Usep kepada reporter Tirto.

Bahkan nama-nama tenar, seperti putera mantan Ketua MPR sekaligus mantan Ketua Umum PAN Amien Rais, Ahmad Mumtaz Rais juga gagal melenggang ke Senayan dari Dapil Jateng VI yang meliputi Kabupaten/Kota Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, dan Purworejo.



Usep menilai, PAN saat ini tak memiliki elite di pengurus partai yang bisa dijadikan tokoh dan “dijual” ke masyarakat. Menurut Usep, masyarakat masih mengidentikkan PAN dengan Amien Rais, padahal posisi ketua umum saat ini dipegang Zulkifli Hasan.

Faktor ketokohan Amien Rais juga bisa menjadi salah satu sebab suara PAN anjlok di Jawa Tengah. Sebab, sikap Amien Rais yang kritis cenderung frontal terhadap capres petahana Joko Widodo membuat masyarakat Jawa Tengah terutama pengagum Jokowi enggan memilih PAN.

Pendukung atau simpatisan PAN juga banyak terbelah dalam dukungan di Pilpres 2019 ini. Meski PAN mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, tetapi banyak juga yang memberikan dukungannya kepada Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin.

“Apalagi PAN dulu koalisinya dengan Jokowi. Itu akhirnya berpengaruh bahwa banyak basis PAN tak hanya ke Prabowo saja, tetapi juga ke Pak Jokowi," kata Usep.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Bayu Septianto
(tirto.id - Politik)

Reporter: Bayu Septianto
Penulis: Bayu Septianto
Editor: Abdul Aziz