tirto.id - Aksi unjuk rasa mahasiswa yang dikomandoi BEM Universitas Tanjungpura bersama beberapa elemen masyarakat lainnya di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak, Rabu (28/8/2025) berakhir ricuh. Kericuhan terjadi saat aparat kepolisian membubarkan pedemo menggunakan water canon dan gas air mata.
Aksi protes bertajuk "Kalbar Bergerak" itu awalnya berlangsung tertib. Massa menuntut lima hal. Mulai dari mencabut tunjangan DPR RI yang dinilai berlebihan dan menyakiti rasa keadilan rakyat. Lalu mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai langkah nyata pemberantasan korupsi.
Massa juga meminta kenaikan gaji guru dan dosen, demi kesejahteraan tenaga pendidik yang berperan vital. Penyelesaian persoalan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merusak lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Tuntutan terakhir yaitu menghentikan tindakan represif aparat terhadap rakyat maupun gerakan mahasiswa.
Dalam rilisnya, BEM Universitas Tanjungpura, merasakan ironi yang terjadi di Gedung DPR RI, yang dianggap tidak mewakili kondisi rakyat saat ini.
Di saat rakyat berpeluh, DPR RI justru berjoget. Di tengah krisis ekonomi, para wakil rakyat malah larut dalam keriangan.
"Bukankah ini sebuah ironi yang menampar akal sehat publik?” demikian kutipan pernyataan resmi BEM Untan.
Massa yang sudah berkumpul mulai melakukan orasi secara bergantian. Mereka juga sempat berusaha memasuki Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, namun dihalangi blokade polisi yang sudah berjaga dari awal.
Massa kemudian ditemui oleh salah satu Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Zulfydar. mewakili Ketua DPRD Kalbar yang tidak berada ditempat.
Zulfydar menegaskan, bahwa dirinya sebagai perwakilan rakyat akan mendengarkan tuntutan para mahasiswa.
”Saya di sini hadir ke hadapan mahasiswa, sebagai perwakilan ketua kami yang memang saat ini tidak dapat hadir,” kata Zulfydar di depan mahasiswa (27/8/2025).

Aksi memanas setelah massa diminta membubarkan diri, namun mereka masih menunggu jawaban atas tuntutan mereka.
Gas air mata mulai ditembakkan ke arah kerumunan dan dibalas dengan lemparan botol dan tanaman dari pihak mahasiswa. Sejumlah mahasiswa pun terluka.
Di temui di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Ketua BEM Politeknik Negeri Pontianak, Syariful Hidayatullah, menyayangkan sikap refresif polisi terhadap pedemo.
"Sayangnya hari ini polisi sedang melakukan refresitas sehingga banyak teman-teman termasuk saya sendiri [terluka]. Saya harap reformasi untuk Polri dan lindungi teman-teman yang ada disana dan selamat berjuang" pungkas Syariful.
==================
Kalbar_info adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Kalbar_info
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































