Menuju konten utama

Defisit APBN Melonjak 342% di Februari, Ini Penjelasan Purbaya

Pelebaran defisit lebih disebabkan oleh akselerasi belanja di awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Defisit APBN Melonjak 342% di Februari, Ini Penjelasan Purbaya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kiri) dan Menteri PU Dody Hanggodo (kanan) menyampaikan paparan saat mengikuti rapat koordinasi pemulihan pascabencana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Dalam rapat tersebut Satuan Tugas (Satgas) DPR RI dan pemerintah memutuskan untuk memperlancar dana tanggap darurat dalam penanganan bencana guna menghindari birokrasi yang berbelit-belit. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga /nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN sebesar Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada Februari 2026. Realisasi tersebut melonjak 342,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) yang hanya sebesar Rp30,7 triliun.

Meski demikian, menurut Purbaya, kondisi tersebut tak berarti pemerintah mengabaikan disiplin fiskal. Menurutnya, pelebaran defisit lebih disebabkan oleh akselerasi belanja di awal tahun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Jadi ada yang bilang tahun lalu kan surplus, kenapa tahun ini defisit? Ya memang desain APBN kita defisit dan sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain terhadap perekonomian lebih terasa," ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTA, Rabu (11/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga memaparkan pertumbuhan belanja negara yang signifikan hingga akhir bulan lalu, yakni mencapai Rp493,8 triliun atau tumbuh 41,9 persen yoy. Realisasi belanja negara tersebut setara dengan 12,8 persen dari pagu APBN 2026 yang sebesar Rp3.842,7 triliun.

"Jadi belanja tahun ini memang kita percepat supaya ekonominya didorong dari sisi fiskal sejak awal tahun sampai akhir tahun secara lebih merata dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Sementara itu, di sisi pendapatan negara, realisasi hingga 28 Februari 2026 mencapai Rp398 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN. Angka ini mencatat pertumbuhan 12,8 persen secara tahunan.

Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama dengan realisasi Rp290 triliun, tumbuh 20,5 persen dibanding periode sama tahun lalu. Secara rinci, penerimaan pajak mencapai Rp245,1 triliun dengan pertumbuhan mencapai 30,4 persen.

Sedangkan, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp44,9 triliun atau 13,4 persen dari target. Meski mengalami kontraksi 14,7 persen yang dipengaruhi dinamika harga komoditas dan produksi industri, Purbaya menyebut data terakhir menunjukkan perbaikan.

"Tapi informasi terakhir data kemarin sudah tumbuh lagi, secara yoy untuk cukai itu tumbuhnya sudah 7 persen. Jadi kita ke depan masih mengharapkan target dari penerimaan bea cukai tercapai bahkan mungkin bisa melebihi," jelasnya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana