Menuju konten utama

Dedi Mulyadi ke Farhan: 2027, Masalah di Bandung Harus Rampung

Muhammad Farhan menilai arahan dari Demul sudah sejalan dengan program Pemkot Bandung.

Dedi Mulyadi ke Farhan: 2027, Masalah di Bandung Harus Rampung
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menghadiri rapat paripurna Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-215 tahun di ruang rapat DPRD Kota Bandung, pada Kamis (25/9/2025). tirto.id/Amad NZ.

tirto.id - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi (Demul), perintahkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, untuk segera menyelesaikan sejumlah masalah di Kota Kembang. Dia pun menargetkan penanganan masalah di Kota Bandung rampung pada tahun 2027.

"Bandung mah pokoknya geulis (cantik),” ujar Demul usai rapat paripurna Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-215 'Bandung UTAMA Harmoni, dan Kolaborasi' di DPRD Kota Bandung, pada Kamis (25/9/2025).

Demul menyinggung kondisi sarana dan prasarana di Kota Bandung. Dia ingin agar drainase segera dibersihkan. “Sehingga tidak terjadi penyumbatan ketika hujan, airnya meluap dan jadi hitam. Itu yang pertama," sebut Demul.

Ia juga meminta adanya penataan wilayah bangunan yang dianggap kerap sebabkan banjir. Menurutnya, sejumlah bangunan yang merusak estetika pun harus menjadi sorotan. Demul juga mengatakan agar Pemkot Bandung mulai kembali menggencarkan penataan pasar-pasar.

Selain pembangunan infrastruktur bangunan, ia juga mendorong perbaikan sejumlah fasilitas umum. Di antaranya seperti perbaikan ruas jalan, serta penerangan jalan umum yang lebih terang.

Ia pun menilai, pemkot mesti memperbanyak jumlah tenaga kebersihan. Dengan alokasi anggaran Pemkot Bandung yang relatif besar, kata Demul, maka hal tersebut harus menjadi perhatian.

“Kalau [anggaran] yang dari kota cukup, saya lihat anggarannya hampir Rp7 triliun. Wah, banyak. Kalau provinsi nanti kami menyiapkan. [Target] tahun 2027 sudah kelar semuanya," lontarnya.

Demul mendambakan Bandung yang dapat tumbuh jadi kota pusat kuliner dan pertunjukkan seni. “Karena Bandung itu kan [kota yang menarik] kunjungan. Jadi saya ingin bangun nanti [ada pusat kebudayaan] konser musik itu di mana. Nanti biar Pemprov Jabar bangun," tambahnya.

Bandung yang memiliki julukan Kota Kembang, kata Demul, semestinya mencerminkan hamparan taman yang indah. Di samping, bangunan-bangunan heritage yang tertata.

Dia lantas menyinggung penataan transportasi yang harus mengedepankan keindahan Kota Bandung. "[Jadi] transportasi publik nanti harus konektivitas. Tidak bisa pakai pola menggunakan kota besar. Kenapa? Karena jalan Bandung sempit. Banyak pohon. Jangan sampai nanti transportasi publik yang besar, yang massal itu menghancurkan tata Kota Bandung," tandasnya.

Muhammad Farhan di HJKB ke-215

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan usai menghadiri rapat paripurna Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-215 tahun di ruang rapat DPRD Kota Bandung, pada Kamis (25/9/2025). tirto.id/Amad NZ.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai arahan dari Demul sudah sejalan dengan program pemkot. Di antaranya perbaikan sejumlah jalan dan drainase. Hal itu yang merupakan salah satu kegiatan utama dari program Siskamling Siaga Bencana yang sudah memasuki hari keempat pada hari ini.

"Jadi alhamdulilah nih program beliau [gubernur] sama Kota Bandung tuh matching. Dan juga cagar budaya, beliau sangat konsen dengan cagar budaya. Insya Allah persoalan cagar budaya sedang, hari ini, dirapatkan," ujarnya.

Adapun terkait masalah sampah, kata Farhan, pihaknya saat ini sedang memasuki tahap evaluasi dari Pemerintah Provinsi Jabar. Hal ini berkaitan dengan jumlah ritase yang masuk ke TPA Sarimukti. Per hari ini, berdasarkan catatannya, pemkot baru bisa memilah, mengolah, memanfaatkan, dan memusnahkan seberat 100 ton per hari.

"Jadi memang kami harus mempercepat agar di akhir tahun bisa meningkat sampai ke 20 persen. nanti karena awal tahun, itu pasti ritase-nya bakal jauh berkurang lagi," katanya.

Ia menegaskan, pihaknya pun bakal terus mempercepat proses dari program ‘Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan (Kang Pisman)’. Berdasarkan data lapangan, status capaian program Kang Pisman mengalami penurunan. Semula ada sebanyak 400-an RW, sekarang tinggal 300-an RW.

"Jadi kami akan kebut lagi. Turun itu statusnya. Tadinya KBS (Kawasan Bebas Sampah) mengolah minimal 30 persen sampah, sekarang udah kurang dari 30 persen kan. Nah itu dievaluasi lagi," tegasnya.

Baca juga artikel terkait PENATAAN KOTA atau tulisan lainnya dari Amad NZ

tirto.id - Flash News
Kontributor: Amad NZ
Penulis: Amad NZ
Editor: Siti Fatimah