Daftar Maestro Lukis Dunia yang Pernah Menghadapi Penyakit Mental

Oleh: Siti Ninda Lestari - 27 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sejumlah seniman, ilmuwan, dan politikus penting di dunia harus melawan penyakit mental di dalam hidupnya. Di antara mereka, ada beberapa maestro lukis.
tirto.id - Penyakit mental tidak menghalangi sejumlah maestro lukis dunia menghasilkan banyak karya seni rupa "raksasa." Mereka tetap mampu mengubah kanvas putih menjadi karya mengagumkan meski sempat mengalami masalah gangguan mental.

Penyakit mental (mental illness) merupakan kondisi kesehatan yang melibatkan perubahan emosi, suasana hati, pikiran, atau perilaku. Beberapa penyakit mental di antaranya depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya.

Gangguan kesehatan ini dapat diobati dengan perawatan yang baik dan dukungan sosial, terutama dari orang-orang terdekat. Banyak penyintas penyakit mental bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik dan normal karena mendapatkan perawatan yang tepat.

Di sisi lain, mengutip laman artsandculture.google.com, hubungan antara kreativitas dan penyakit mental telah menarik perhatian peneliti bertahun-tahun. Penyakit mental dapat membawa dampak besar terhadap kreativitas dan cara mengekspresikan diri seseorang yang mengalaminya.


Sejarah merekam tidak sedikit pelukis, sastrawan, musikus, hingga ilmuwan, dan politisi tersohor yang harus menghadapi penyakit mental dalam hidupnya.

Di antara mereka ada Judy Garland, Ludwig van Beethoven, Ernest Hemingway, dan Edgar Allan Poe yang melawan penyakit bipolar disorder. Selain itu, Isaac Newton dan Winston Churcill juga merupakan penyintas bipolar disorder.

Selain mereka, terdapat pula maestro lukis dunia dengan karya-karya monumental yang memiliki penyakit mental. Sebagai contoh, berikut ini tiga maestro lukis dunia yang tercatat harus melawan penyakit mental selama hidupnya.

Vincent van Gogh

Vincent van Gogh merupakan pelukis pascaimpresionis asal Belanda. Dia menghasilkan lebih dari 2000 karya seni, yang 800-an di antaranya lukisan, sebelum meninggal saat baru berusia 37 tahun (1890). Penyintas penyakit mental tersebut menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni di Eropa.

"Saya mencurahkan hati dan jiwa saya untuk karya-karya saya dan kehilangan pikiran saya dalam proses berkarya," kata van Gogh suatu kali.

Dalam hidupnya, van Gogh memiliki riwayat depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar. Dia juga pernah memotong telinganya sendiri karena masalah kejiwaannya tersebut.


Namun, karya-karya terbaik van Gogh justru dihasilkan saat dirinya menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Saint-Paul-de-Mausole. Salah satunya, lukisan Starry Night atau Malam Penuh Bintang yang lahir pada tahun 1889.

Lukisan itu terinspirasi dari pemandangan jendela kamarnya di RSJ Saint-Paul-de-Mausolet. Van Gogh masuk ke RSJ tersebut dengan sukarela pada tahun 1889.

Starry Night (La Nuit étoilée) kini terpajang di Museum of Modern Art di New York, AS. Mahakarya van Gogh yang menafsirkan pemandangan melalui emosinya tersebut seakan menjadi bagian dari kebudayaan populer. Bahkan tidak sedikit yang mengkomersialkannya; dari replika lukisan yang terpajang di rumah-rumah, menempel di gelas, kaos, casing ponsel, hingga kaos kaki.

Namun, selain menghadapi gangguan mental, van Gogh tidak hidup bergelimang harta dan harus bertahan dengan menjual lukisan. Selama hidupnya, van Gogh tidak pernah tenar apalagi menjadi sosok terpandang dalam dunia seni abad ke-19. Semua berubah sejak tahun saat van Gogh tutup usia, ketika para kritikus mulai menyadari unsur luar biasa di karya-karyanya.

Edvard Munch

Pelukis aliran ekspresionisme asal Norwegia, Edvard Munch (1863-1944) pernah membuat lukisan dengan judul yang sama dengan karya van Gogh, Starry Night. Lukisan yang kini dipajang di The Munch Museum, Oslo, Norwegia tersebut diperkirakan dibuat antara tahun 1922 dan 1924.

Karya Munch yang paling populer adalah The Scream, nama 4 versi lukisan yang menjadi referensi paling penting bagi para pelukis ekspresionis.

The Scream karya Munch dianggap menggambarkan sosok manusia modern yang tercekam oleh kecemasan eksistensial dengan latar langit berubah warna setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Lukisan ini dibuat pada tahun 1910 dan dipamerkan di The Munch Museum, Oslo, Norwegia.

Munch juga penyintas gangguan mental, yakni kecemasan dan halusinasi. Mental breakdown yang pernah dialaminya melatarbelakangi kreativitasnya dalam membuat The Scream, demikian dikutip dari laman van Gogh Genova.

Claude Monet

Claude Monet merupakan pelukis yang mempelopori gerakan French Impressionist. Dia dikenang sebagai salah satu pelukis paling berbakat pada akhir abad 19 dan awal abad 20.

Meski tidak ada rekam medis bahwa Monet memiliki riwayat penyakit mental, dia pernah mencoba bunuh diri ketika memiliki masalah finansial. Pada saat itu, dia berada di bawah tekanan karena kariernya sedang merosot.

Monet menghasilkan berbagai karya besar, di antaranya Rocks at Belle-lle, Port-Domois, Villas at Bordighera, dan The Japanese Footbridge and the Water Lily Pool, Giverny.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT MENTAL atau tulisan menarik lainnya Siti Ninda Lestari
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Siti Ninda Lestari
Editor: Addi M Idhom
DarkLight