Menuju konten utama

Daftar 7 Kasus Keracunan MBG Pekan Ini, dari Rembang hingga Agam

Awal September 2026, setidaknya tujuh kasus keracunan MBG sudah terjadi dengan total korban lebih dari 2.000 orang. Simak ulasan kasusnya berikut ini.

Daftar 7 Kasus Keracunan MBG Pekan Ini, dari Rembang hingga Agam
Siswa membawa menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menuju ke dalam kelas di SDN 13 Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (24/8/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rentetan kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi pekan ini. Belum ada seminggu, total lebih dari 2.000 warga sekolah sudah jadi korban keracunan massal. Rentetan kasus ini juga terjadi secara meluas di berbagai daerah, berikut daftarnya.

Pekan ini, laporan kasus keracunan massal akibat menu MBG silih berganti mencuat. Jumlah korban keracunan terus meningkat dalam hitungan hari.

Terbaru, SMPN 1 Kabuh di Jombang terpaksa meliburkan para siswanya pada Kamis (3/9/2026) setelah 256 siswa dan guru mengalami gejala keracunan massal. Menu MBG yang disantap mereka pada Rabu (2/9) disinyalir menjadi penyebabnya.

Kasus yang terjadi di Jombang itu merupakan salah satu insiden terbaru dari rentetan kasus keracunan massal MBG yang bermunculan sejak Selasa (1/9). Sebelum kasus di Jombang, insiden keracunan massal juga melanda warga sekolah dari Tana Toraja di Sulawesi Selatan, Rembang di Jawa Tengah, hingga Agam di Sumatra Barat.

Badan Gizi Nasional (BGN) selaku lembaga pengelola program MBG belakangan mengakui adanya dugaan kelalaian dalam kasus-kasus tersebut. Namun, Kepala BGN Sudaryono menyebut bahwa, dalam mayoritas kasus, pihak pengelola SPPG atau dapur MBG adalah pihak yang bertanggung jawab.

Daftar Kasus Keracunan MBG Awal September 2026

Sejak Selasa lalu, kasus keracunan massal yang diduga akibat menu MBG terus bermunculan. Kasus tersebar secara sporadis di berbagai wilayah. Berikut adalah kasus keracunan massal MBG yang sejauh ini telah terungkap.

1. Rembang

Di Rembang, kasus keracunan massal terjadi di SMAN 1 Lasem pada Rabu (2/9). Sebanyak 777 siswa dan guru di sana mengalami gejala keracunan makanan dalam tempo bersamaan.

Seturut keterangan pihak SMAN 1 Lasem, ratusan warga sekolah itu diduga keracunan menu MBG yang disantap. Para korban dilaporkan mulai merasakan gejala sepulang sekolah, namun gejala tersebut tak mereda pada Kamis keesokan harinya.

Imbas hal tersebut, toilet sekolah disebut sampai tak mampu menampung jumlah siswa dan guru yang mengalami diare. Kepala SMAN 1 Lasem menyebut sekolahnya memiliki 30 toilet, namun pada Kamis jumlah tersebut tak cukup untuk menampung para siswa dan guru yang mengalami diare.

Pihak sekolah lalu meliburkan aktivitas pendidikan pada Kamis. Banyak dari mereka dibawa ke puskesmas dan klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan dengan sedikitnya 5 orang harus dirawat inap.

Berkaca dari insiden tersebut, SMAN 1 Lasem disebut tengah melakukan jajak pendapat kepada orang tua dan wali murid tentang program MBG. Mereka dimintai pendapat apakah program ini perlu dilanjutkan atau lebih baik dihentikan.

2. Sidoarjo

Sementara itu, di Sidoarjo, kasus keracunan massal terjadi di sejumlah instansi pendidikan pada Selasa (1/9) hingga Rabu. Insiden ini membuat puluhan orang harus dilarikan ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

Kasus keracunan terbesar yang terjadi di Sidoarjo berlokasi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin. Sedikitnya 730 santri menjadi korban keracunan setelah menyantap menu MBG.

Pada Kamis, Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa kasus keracunan massal di Sidoarjo diduga terjadi akibat tak diindahkannya SOP pengiriman menu MBG oleh pengelola SPPG. Menurutnya, menu yang disantap para santri itu diduga telah kelewat batas waktu konsumsi.

Dalam kasus ini, menu MBG disebut telah selesai dimasak pada pukul 05.00 WIB. Seharusnya menu tersebut harus sudah dimakan sebelum pukul 09.00 WIB. Namun, pada kenyataannya, menu baru dikirim pukul 11.00 WIB dan baru disantap setelah pukul 12.00 WIB.

“Ini adalah kelalaian yang disengaja. Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja,” tutur Sudaryono pada Kamis.

3. Jombang

Di Jombang, munculnya kasus keracunan massal ditengarai terjadi pada Kamis setelah siswa mengonsumsi menu MBG satu hari sebelumnya. Hal itu terjadi setelah 256 warga SMPN 1 Kabuh mengalami gejala keracunan massal pada jam sekolah.

Kasus ini serupa dengan kasus yang terjadi di Rembang. Ratusan siswa diduga telah keracunan menu MBG yang disantap sehari sebelumnya. Gejala mulai dirasakan mereka sepulang sekolah dan terus berlanjut ketika berangkat sekolah di hari berikutnya.

Imbas insiden ini, sertifikasi SPPG Mangunan sebagai penyedia menu MBG untuk SMPN 1 Kabuh dievaluasi Dinas Kesehatan Jombang. Dinas kesehatan juga mengambil sampel dari dapur MBG itu untuk diperiksa di laboratorium.

4. Nganjuk

Pada Rabu, 127 pelajar di Nganjuk juga dilaporkan mengalami gejala keracunan massal. Kasus terbesar yang terjadi di Nganjuk hari itu terjadi di SMAN 3 Nganjuk dengan total korban mencapai 100 siswa.

Menu MBG yang telah membusuk merupakan dilaporkan telah menjadi dalang dari insiden ini. Tim medis RS Bhayangkara Nganjuk belakangan menemukan adanya indikasi pembusukan pada dua komponen menu MBG yang disajikan kepada para siswa.

BGN kemudian menangguhkan izin operasional SPPG Begadung 2 imbas insiden ini. SPPG Begadung 2 merupakan dapur MBG yang bertanggung jawab atas penyediaan menu MBG untuk SMAN 3 Nganjuk.

5. Agam

Kasus keracunan massal juga dialami para pelajar di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ratusan warga sekolah tingkat TK, SD hingga SMP di sana diduga telah menjadi korban keracunan menu MBG.

Dinas Kesehatan Agam mencatat jumlah korban keracunan mencapai 344 orang. Sebagian dari mereka masih tercatat sebagai pasien rawat inap hingga Kamis.

Seturut keterangan Dinas Kesehatan Agam, para korban mulai merasakan gejala keracunan sejak Selasa malam. Kemudian pada Rabu, berangsur-angsur mereka dibawa ke fasilitas kesehatan setempat untuk diperiksa dan mendapat perawatan medis.

SPPG yang bertanggung jawab atas penyediaan menu MBG dalam kasus ini mendapatkan sanksi penangguhan izin operasi. Dinas kesehatan juga mengambil sampel dari dapur tersebut untuk diperiksa oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

6. Tana Toraja

Tak hanya di Jawa dan Sumatra, kasus keracunan massal warga sekolah juga dilaporkan terjadi di Sulawesi. Sebanyak 152 siswa dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale di Tana Toraja disebut mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG pada Rabu.

Setelah ditengarai sebagai kasus keracunan massal, para korban kemudian dilarikan ke tiga rumah sakit berbeda di Tana Toraja, yakni RSUD Lakipadada, RS Fatima Makale, dan RS Sinar Kasih. Mereka mengeluhkan sejumlah gejala yang serupa, termasuk mual, muntah, hingga diare.

Kesaksian siswa yang terdampak insiden ini menuturkan bahwa gejala-gejala tersebut muncul setelah menyantap menu MBG pada Rabu. Menurut mereka, menu MBG pada hari itu terasa aneh dan tidak seperti laiknya makanan yang biasa dikonsumsi.

7. Bener Meriah

Siswa di Bener Meriah, Aceh juga dilaporkan mengalami gejala keracunan dalam waktu yang bersamaan pada Rabu. Insiden ini dialami oleh 15 siswa SDN Bukit Mulie.

Pada Rabu, 15 siswa tersebut sampai harus dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat karena gejala gangguan pencernaan. Dinas Kesehatan Bener Meriah menduga bahwa kasus ini diakibatkan oleh menu MBG.

Pada Kamis, 15 siswa dengan keluhan keracunan makanan sudah diperbolehkan pulang dari perawatan medis. Namun, Dinas Kesehatan Bener Meriah menyebut bahwa proses penyelidikan atas kasus itu tetap berjalan.

BGN Janji Lakukan Pembenahan

Menanggapi rentetan kasus keracunan pada warga sekolah selama sepekan ini, Kepala BGN Sudaryono mengaku terpukul atas insiden itu. Dalam keterangannya pada Kamis, ia mengaku terpukul lantaran BGN kini tengah melakukan pembenahan internal.

Sudaryono menyebut bahwa kini BGN tengah melakukan pembenahan pada berbagai aspek, termasuk tata kelola sistem, peraturan, teknologi informasi hingga pelaporan dan pengawasan. Mekanisme kerja di dapur MBG juga disebutnya tengah dibenahi.

Pembenahan ini, kata Sudaryono, dilakukan setelah sebelumnya BGN diterpa persoalan kepemimpinan. Persoalan yang dimaksud Sudaryono itu adalah kasus korupsi besar-besaran di tingkat pimpinan BGN pada tahun ini.

Sebelumnya, pada Juni lalu, Ketua dan Wakil BGN ditangkap setelah terindikasi melakukan korupsi tata kelola program MBG. Kasus ini menyebabkan pergantian kepemimpinan di lembaga itu.

“Tapi kemudian di atas itu semua, tiba-tiba ada keracunan makanan. Itu kemudian kami, aduh, cukup sangat prihatin dan drop ya,” tuturnya.

Sementara itu, dalam rapat bersama Komisi IX DPR pada Kamis, Sudaryono menyebut bahwa pihaknya telah mengantongi temuan di balik maraknya kasus keracunan MBG. Di hadapan parlemen, ia menyebut mayoritas kasus keracunan diakibatkan oleh kelalaian pihak pengelola SPPG.

“Lebih dari 80 persen, itu adalah pelanggaran SOP. Yang paling banyak adalah SOP konsumsi waktu,” tuturnya kepada parlemen.

Namun, masalah itu sebenarnya bukan hal yang baru dalam sengkarut tata kelola program MBG. Pada Oktober 2025 lalu, Kepala BGN kala itu Dadan Hindayana juga mengeluhkan hal yang sama.

Juga di hadapan parlemen, Dadan kala itu menyebut bahwa masalah keracunan pada program MBG mayoritas dikarenakan SPPG yang tak mengindahkan SOP. Hal tersebut kemudian sempat memunculkan kewajiban sertifikasi laik higienis dan sanitasi bagi SPPG, namun kini masalah lama itu kembali terjadi.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar