tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi cuaca ekstrem akibat kombinasi fenomena atmosfer global dan regional. Beberapa wilayah di Sumatra bagian utara tercatat mengalami curah hujan berintensitas tinggi.
BMKG menyebut hujan lebat dengan intensitas 50–100 mm per hari terjadi di berbagai wilayah sejak pertengahan November 2025. Dua daerah di Provinsi Aceh, yakni Kota Langsa dan Kabupaten Bireun, tercatat mengalami curah hujan yang termasuk kategori ekstrem. Di Kota Langsa, curah hujan tercatat mencapai lebih dari 300 milimeter.
Sebagai informasi, intensitas curah hujan dibagi dalam 4 kategori: rendah (0–100 mm), menengah (100–300 mm), tinggi (300–500 mm), dan sangat tinggi (>500 mm).
“BMKG mencatat hujan lebat dengan intensitas 50-100 mm/hari di berbagai wilayah sejak pertengahan November 2025, bahkan di Kota Langsa mencapai 311 mm dan Kabupaten Bireun 295,8 mm,” tulis BMKG dalam keterangan resmi yang diterima Tirto, Sabtu (29/11/2025).
Data yang diterima Tirto menunjukkan Kota Langsa merupakan wilayah dengan curah hujan tertinggi, yakni 311 milimeter berdasarkan pencatatan Automatic Rain Gauge Bibitan Kebun Baru pada Selasa (25/11/2025) pukul 20.30 waktu setempat.
Beberapa daerah lain di Aceh juga mengalami curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan di Kabupaten Bireun tercatat 295,8 milimeter, Kabupaten Aceh Tamiang tercatat 290,8 milimeter, Kabupaten Pidie Jaya tercatat 272,4 milimeter, dan Kabupaten Aceh Timur tercatat 227 milimeter.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Jumat (28/11/2025) sore, total korban meninggal dunia di Aceh tercatat mencapai 35 orang, sementara 25 orang masih hilang dan 8 orang luka-luka.
“Sementara yang terdata ada 35 jiwa yang meninggal dunia, 25 hilang, dan 8 luka-luka,” ucap Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat sore.
Cuaca Ekstrem Jadi Faktor Dominan?
Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Pusat Riset dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan faktor cuaca ekstrem menjadi faktor dominan di balik musibah banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra.
“Kalau dari lihat aja dari hujannya, tanggal 23 itu hujan di wilayah daerah situ 160. Terus tanggal 24-nya 226. Kalau dijumlah itu hampir 400 mm turun dalam waktu 2 hari. Ya jelas, kalau dari hujan kan ekstrem,” ujar Erma saat dihubungi Tirto, Kamis (27/11/2025).
Erma menambahkan bahwa analisis banjir biasanya menggunakan pendekatan 50-50, yaitu 50 persen dipengaruhi oleh hujan atau cuaca ekstrem dan 50 persen oleh kondisi lingkungan di permukaan. Namun, kejadian kali ini menunjukkan cuaca ekstrem menjadi faktor yang jauh lebih dominan. Pasalnya, curah hujan hampir 400 mm dalam dua hari merupakan fenomena yang sangat langka.
“Intensitas hujannya yang hampir 400 mm dalam dua hari itu sudah kategori sangat ekstrem. Jadi, bukan menyumbang 50 persen lagi, tapi sudah dominan. Bisa dikatakan proporsinya, faktor utama cuacanya itu bisa 80 persen,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Ketua Program Studi Meteorologi, Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, menyebut wilayah Sumatra bagian utara secara klimatologis memang sedang berada pada puncak musim hujan. Berbeda dengan beberapa wilayah lain di Indonesia, daerah ini memiliki distribusi hujan sepanjang tahun dengan kemungkinan dua kali puncak musim hujan.
Rais juga menjelaskan bahwa karakteristik curah hujan di wilayah ini memang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan. Sumatra bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun dan saat ini berada pada puncaknya,” ujar Rais dilansir dari situs resmi ITB, Jumat (28/11/2025).
Meski demikian, Manajer Pencegahan dan Penanganan Bencana, Eksekutif Nasional WALHI, Melva Harahap, menilai rangkaian bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatra tidak dapat dilepaskan dari menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan pada kawasan-kawasan penyangga.
Dia menjelaskan bahwa meskipun benar ada faktor intensitas hujan meningkat akibat krisis iklim, kerusakan ekologis di buffer zone atau zona penyangga di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh lebih menjadi pemicu utama bencana besar yang terjadi saat ini.
Zona penyangga adalah area yang berfungsi untuk memisahkan atau melindungi suatu kawasan dari area lain agar meminimalisasi dampak bahaya. Zona ini biasanya berupa ruang terbuka hijau yang bisa berupa lahan alami seperti hutan atau rawa, atau sengaja dibuat seperti sungai.
“Jadi, tutupan hutannya itu sudah hilang. Satu sisi memang iya bahwa intensitas hujan meningkat. Pola-pola masuk di bulan November dan Desember memang mengalami peningkatan dan itu dipengaruhi oleh krisis iklim ataupun situasi iklim saat ini,” ujar Melva saat dihubungi Tirto, Kamis (27/11/2025).
“Batang Toru, misalnya, sejak awal berfungsi sebagai hutan penyangga hidrologis. Lima hingga sepuluh tahun lalu, banjir memang pernah terjadi, tetapi belum pernah menimbulkan kerusakan sebesar sekarang. Kini, dari Aceh hingga Sumatra Barat, tercatat 33 kabupaten/kota terdampak banjir,” ujarnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































