tirto.id - Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono menilai, tarif 0 persen dengan skema kuota tertentu alias tariff rate quota (TRQ) untuk tekstil dan produk tekstil (TPT) justru berpotensi menimbulkan disrupsi pada rantai pasok industri.
Pasalnya, untuk mendapatkan pembebasan bea masuk ke AS, Indonesia harus memenuhi syarat kuota impor untuk produk kapas dan bahan baku produk TPT lainnya, serta cacahan pakaian bekas (shredded worn clothing).
Artinya, dengan adanya kesepakatan tarif resiprokal alias Agreement on Reciprocal Tariff (ART), para pelaku usaha dari industri TPT diharuskan untuk menggunakan bahan baku dari Negeri Paman Sam.
"Kalau dunia usaha dipaksa atau di-encourage paling tidak untuk menggunakan bahan baku dari Amerika, akan ada disrupsi yang cukup besar dari rantai pasok," tutur Riandy dalam Taklimat Media bertajuk Perjanjian Perdagangan Resiprokal: Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan? di Auditorium CSIS, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).
Sayangnya, harga bahan baku TPT baik itu kapas maupun poliester dari AS cenderung lebih tinggi dibandingkan Cina, yang kini menjadi pemasok terbesar bahan baku industri tekstil untuk Indonesia.
Bahkan, karena harga yang lebih tinggi tersebut, Indonesia hanya mendatangkan sekitar 8 persen kapas dari AS sebagai bahan baku TPT. Pun, Indonesia juga mengimpor lebih banyak poliester dari Cina dibandingkan AS.
"Harga dari US itu almost always lebih mahal. Contoh, bahan woven fabric of cotton [kode HS] 5208. Harga dari 20 dolar AS, tapi dari China 6 dolar AS. Ini kan hampir 3 kali lipat lebih mahal, harga dari Amerika. Terus [kode HS] 5211 yang di kanan, man-made fiber (poliester) itu woven fabric of cotton yang mana mix mainly, or solely with man-made fibers, kita lihat harga 16 dolar AS, harga Chinanya 7 dolar AS," papar Riandy.
Kondisi ini lantas membuat tarif 0 persen dengan skema TRQ untuk TPT tidak lebih baik dari tarif resiprokal 19 persen yang diterapkan Trump kepada Indonesia.
"Mahalnya bahan baku Amerika 2 kali lipat, 3 kali lipat, 4 kali lipat lebih mahal. Tapi kehilangan tambahan 0 persen itu, kan kita dari 19 ke 0 persen, kan tambahannya 19 persen. 19 persen ke 0 persen itu lebih marginal daripada mahalnya bahan baku itu tadi, yang hampir 2 kali lipat. Jadi, bisa jadi benefitnya juga nggak bisa ter-realize di sana," terang Riandy.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































