Cerita Pedagang Pisangan Timur yang Terancam Tergusur Proyek KAI

Oleh: Mohammad Bernie - 27 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah pedagang yang ditemui reporter Tirto kompak menyatakan tidak menentang penggusuran dan pembangunan DDT. Mereka hanya minta waktu.
tirto.id - Iyus (47 tahun) mengaku telah berjualan pisang sejak 1991. Dia adalah generasi ketiga yang menjalankan usaha ini. Sementara Hamdun (52 tahun) memulai usahanya sejak 1985. Namun, tak ada yang tahu pasti kapan Pasar Pisangan di Jakarta Timur mulai berdiri.

“Dari awal saya di sini sudah banyak yang jualan pisang, cuma kebanyakan sekarang sudah penerus. Ibaratnya bapaknya sudah meninggal," kata Hamdun saat ditemui reporter Tirto, di kosnya, pada Selasa (26/11/2019).

Secara administratif, Pasar Pisangan terletak di Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Anda tentu bisa menebak dari mana nama kelurahan itu berasal.

Lokasinya tepat di pinggir jalan Pisangan Lama dan memanjang hingga sekitar 500 meter. Selain pedagang pisang, ada pula penjaja sayuran, kelapa mudah, singkong, hingga konter HP.

Di sisi belakang kios terdapat tembok beton yang memisahkan kios dengan rel kereta api Jatinegara-Klender.

Kini sekitar 80 pedagang tengah resah lantaran pasar tempat mereka mencari nafkah segera digusur dalam beberapa hari ke depan. Pangkalnya ialah rencana pembangunan Perlintasan Double Double Track (DDT) PT KAI pada beberapa waktu mendatang.

"Kami tidak menolak, tapi relokasi dan waktu yang diberikan itu terlalu mepet," kata Iyus.

Senin (18/11/2019) malam datang surat undangan untuk para pedagang agar datang dalam acara sosialisasi pembangunan perlintasan DDT di Aula Kecamatan Pulogadung yang digelar, pada Selasa (19/11/2019) pukul 09.00 WIB.

Namun, karena undangan datang mendadak banyak pedagang yang tak hadir.

Keesokan harinya, Camat Pulogadung Bambang Pangestu dan pegawai PT KAI mendatangi pasar.

Mereka menyampaikan surat imbauan pertama agar pedagang segera membongkar sendiri kios mereka dengan tenggat 7x24 jam sejak informasi itu disampaikan. Jika tidak, maka Satpol PP siap diterjunkan untuk menggusur paksa.

Seluruh pedagang yang reporter Tirto temui kompak menyatakan mereka tidak menentang penggusuran dan pembangunan DDT. Sebab, mereka sadar itu memang tanah milik PT KAI.

Apalagi, pada 2013 pun telah ada perjanjian bahwa pedagang dibolehkan membuka kios, tapi mereka harus pergi kala PT KAI membutuhkan tanah itu.

Hanya saja mereka mengeluhkan soal tenggat waktu yang dinilai terlalu singkat dan tak adanya solusi untuk relokasi.

“Kalau dikasih beberapa bulan [tenggat], kami bisa cari tempat. Kami bisa cari pinjeman dulu dari mana," kata Doyok (30 tahun).



Pihak kecamatan sempat menawarkan agar para pedagang direlokasi ke lantai dua Pasar Klender. Akan tetapi, posisi di lantai 2 akan menyulitkan untuk mengangkut barang dagangan yang bisa mencapai 100 tandan pisang.

Sementara di lokasi lama mereka cukup berhenti di pinggir jalan dan menurunkan muatan dari bajaj atau truk langsung ke kios mereka.

Selain itu, lokasi yang tidak strategis membuat para pedagang khawatir kehilangan langganan. Hamdun bercerita dari langganan pisang ia bisa meraup omzet Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta per hari.

Lain cerita dengan Jubaedi (42 tahun), penjual kelapa. Ketika sedang ramai ia bisa meraup lebih dari Rp5 juta per bulan.

Menurut Jubaedi, itu jumlah yang besar bagi dirinya yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Bahkan dari kios itu ia telah menyekolahkan tiga orang anaknya hingga sekolah menengah.

"Pedagang yang di Klender-nya saja pada turun ke jalan karena sepi," ujar Jubaedi membeberkan alasan mereka tak mau pindah ke Klender.

Para pedagang ini berharap pemerintah merelokasi pedagang menuju lahan di dekat food station Depo Cipinang. Alasannya, karena lokasi yang masih berdekatan dengan Jalan Raya Pisangan Timur.

Sayangnya sampai saat ini tak ada forum dialog yang setara untuk mencari win-win solution dalam masalah ini.


Situasi Pasar Klender


Saya pun mendatangi Pasar Klender, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Selasa, 26 November 2019.
Gedung pasar sendiri terbagi menjadi tiga lantai, yakni: basement untuk kios sayur dan buah-buahan, lantai satu untuk pedagang sandang dan toko emas.

Sementara lantai dua diproyeksikan untuk pedagang dari Pasar Pisangan. Di sana memang sebagian besar kios tak berpenghuni. Hanya ada sejumlah kios makanan matang yang tersedia, salah satunya milik Anti Juhaeni (65 tahun).

Anti awalnya adalah berdagang makanan di Stasiun Klender, lalu bergeser ke kolong jembatan dekat stasiun.

Namun karena penertiban, sejak 2016 Anti dipindah ke lantai 2 Pasar Klender beserta para penjual lain, termasuk pedagang buah.

"Ibu disuruh pindah ke sini, dikasih gratis 1 tahun karena keadaan di atas sini, kan, sepi," kata Anti.

Benar saja, satu per satu pedagang mulai minggat hingga menyisakan Anti dan beberapa pedagang makanan matang lainnya. Mereka bisa bertahan lantaran yang jadi pelanggan ialah para pedagang dan pegawai kios di lantai bawah.

Jika bukan karena mereka, kata Anti, tentu dirinya tak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan membayar kewajiban pada pengelola pasar.

Anti mengaku tiap bulan harus membayar kontrak Rp500 ribu dan biaya listrik Rp300 ribu, plus biaya administrasi untuk pengelola pasar Rp125 ribu.

"Ibu hanya pasrah, kami usaha. Namanya orang usaha itu pasti diberi rezeki yang penting kami berdoa sama Tuhan jangan sampai lupa dengan Tuhan," kata dia.

Di luar pasar juga telah berjejer sejumlah pedagang sayuran dan beberapa penjaja buah. Salah satunya, Abdul Rohim (30 tahun.

Rohim mengaku pernah mendapat tawaran untuk berjualan di dalam pasar. Beberapa kawannya menerima tawaran itu, tapi Rohim bergeming dari tenda buahnya yang berlokasi tepat di depan Pasar Klender.

"Pelanggannya maunya di sini. Pembelinya enggak mau [ke dalam pasar]," kata Rohim.

Rupanya naluri Rohim benar. Kawan-kawan dia yang semula berjualan di dalam pasar, perlahan keluar. Ada yang berpindah pasar dan ada juga yang menjadi pedagang kaki lima seperti dia.


Respons Camat Pulogadung


Camat Pulogadung Bambang Pangestu mengatakan tidak mungkin pedagang pisang direlokasi menuju lahan di dekat food station. Sebab belum ada kerja sama pemerintah dengan pemilik lahan.

Selain itu, kata Bambang, food station masuk dalam zona VIP yang tidak sembarang pedagang bisa berjualan di sana.

“Tidak mungkin bisa, tanahnya milik PT Telkom, belum ada kerja samanya dengan kami (Pemkot Jaktim). Kalau pedagang ada kerja sama, silakan saja,” kata dia seperti dikutip Antara.

Keputusan untuk merelokasi pedagang menuju lantai dua Pasar Klender dikarenakan status lokasi itu sebagai tempat transaksi jual beli.

“Pasar Klender itu pasar, tempat orang bertransaksi jual beli, bukan di pinggir jalan," imbuh Bambang.

Bambang berharap seluruh pedagang segera mengosongkan lahan di Jalan Raya Pisangan Timur paling lambat akhir November 2019. Sebab, kata dia, pada 1 Desember 2019, proyek DDT akan dimulai.

Sejak 2013, kata Bambang, para pedagang bersama dengan otoritas terkait telah menandatangani perjanjian pemanfaatan lahan. "Bila suatu saat lahan yang mereka tempati diminta untuk dikosongkan, pedagang harus patuh," kata Bambang.

Pada 2015, kata dia, proyek DDT kembali bergulir di kawasan setempat untuk menyelesaikan sisa lintasan kereta sepanjang 9 kilometer dari Stasiun Jatinegara sampai Stasiun Cakung, Jakarta Timur.

Hingga saat ini, Dirjen Perkeretaapian telah merampungkan total 8,5 kilometer lintasan kereta.

"Sisanya sekitar 500-an meter lagi itu melintas di sisi Jalan Raya Pisangan Timur tempat pedagang pisang sekarang," kata dia.

Sejak Senin (18/11/2019), Bambang beserta jajaran terkait kembali menyosialisasikan rencana perluasan DDT dengan memberikan surat peringatan pertama (SP1) kepada pedagang.

“Kami sampaikan juga solusinya bahwa mereka akan ditampung di lantai dua Pasar Klender. Tapi mereka enggak mau, alasannya sepi dan susah angkut pisangnya," kata Bambang.


Baca juga artikel terkait PENGGUSURAN atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Abdul Aziz
DarkLight