Mozaik

Dua Mahasiswa UI Mencalonkan Ali Sadikin sebagai Presiden

Reporter: Yus Ariyanto, tirto.id - 5 Feb 2024 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Mereka ingin menembus kebekuan politik dan mencegah Soeharto menjadi presiden seumur hidup.
tirto.id - Dipo Alam dan Bambang Sulistomo memakai kaus putih. Ada gambar Ali Sadikin di bagian dada, plus teks berikut: "Dia terbaik, kita pilih pemimpin terbaik".

Mereka mejeng di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Wartawan, dalam dan luar negeri, diundang pada Senin, 20 Juni 1977 tersebut. Dalam pertemuan, Dipo dan Bambang mencalonkan Ali Sadikin sebagai pengganti Presiden Soeharto.

Apakah mereka menilai Soeharto gagal setelah berkuasa sejak 1967? Ternyata tidak.

"Justru keberhasilan Soeharto itu yang harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin," kata Dipo seperti dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977.

Bambang menambahkan, mereka tak punya agenda politik. Mereka hanya ingin arus bawah bisa berpartisipasi. Aksi mereka bermaksud merangsang iklim baru dalam kebudayaan politik.

Jagat politik gempar. Ali Sadikin saat itu Gubernur DKI Jakarta. Masa jabatannya selesai sekitar tiga minggu dari deklarasi tersebut. Bang Ali, sapaan akrabnya, dianggap berhasil memimpin Jakarta sejak 1966.

Kedua mahasiswa itu sama-sama 27 tahun. Dipo berstatus mahasiswa Ilmu Kimia Universitas Indonesia (UI) dan Ketua Dewan Mahasiswa (DM) UI periode 1975-1976. Sementara Bambang mahasiswa Ilmu Politik UI. Anak sulung Bung Tomo ini pernah ditahan setelah Peristiwa Malari.

Dalam biografinya, Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin (2022), Dipo menyatakan merancang aksi tersebut sebaik mungkin. Salah satunya tidak ingin organisasi tempat dia bernaung, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), terdampak. Karena itu ia mengajak Bambang yang bukan kader HMI.

Dipo menilai, Bambang punya karakter yang kuat dan unik. Ketika dihadapkan ke pengadilan dalam kasus Malari, misalnya, dia memakai baju tradisional Jawa, surjan, lengkap dengan belangkon.

Petisi yang memuat pernyataan mereka lantas disebar ke sejumlah pihak. Di antaranya ke MPR dan DPR, DPRD DKI Jakarta, Kopkamtib, juga ke para pimpinan partai politik. Dipo dan Bambang menyebut aksi mereka sebagai Gerakan Pemikiran.


Reaksi Ali Sadikin

Sekitar dua pekan setelahnya, Dipo bertemu Ali Sadikin dalam sebuah acara yang dihelat DMUI. Saat itu Bang Ali menanyakan alasan Dipo dan Bambang mencalonkannya sebagai presiden.

Dipo menjawab mereka ingin menembus kebekuan politik yang berkembang saat itu. Jangan sampai Soeharto, lantaran telah mendapat mandat MPRS, ingin terus menjadi presiden. Sebagai rakyat, Dipo ingin Soeharto tahu bahwa ada rakyat yang menghendaki calon lain.

"Saya hanya ingin mengingatkan Pak Harto. Saya tidak ingin Pak Harto yang berjasa besar akan senasib dengan Bung Karno, yang juga besar sekali jasanya. Kita tahu, Bung Karno pernah diangkat menjadi presiden seumur hidup, tetapi toh kemudian dijatuhkan juga oleh rakyatnya," papar Dipo ke purnawirawan Letjen Marinir tersebut.

Dipo melanjutkan, jika Soeharto terpilih kembali, ada kecenderungan dia akan menjadi presiden seumur hidup seperti Bung Karno. Padahal, bukan demikian imajinasi kolektif tentang Orde Baru.

"Oke saya sudah paham ide kamu. Tapi bagaimana kalau kamu ditangkap dan ditahan Soeharto dan Benny Moerdani?" ujar Bang Ali.

"Tidak ada perjuangan yang tanpa risiko, Pak. Masalahnya sekarang apakah Pak Ali setuju saya calonkan sebagai presiden atau tidak?"

"Baik. Saya siap mendukung ide kamu."

"Tapi bagaimana kalau akibat aksi saya Bapak juga ditangkap?"

"Sama jawabannya dengan kamu, semua perjuangan ada risikonya."

Dalam memoar Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1995), ada bab khusus tentang momen tersebut. Saat itu ia sedang sibuk persiapan menyerahkan jabatan. Ali Sadikin sama sekali tidak tahu sebelumnya.

Setelah kejadian tersebut, ia pun dikejar pers yang meminta tanggapan. Bang Ali mengatakan, aksi itu merupakan hak Dipo dan Bambang sebagai warga negara. Kebetulan saja namanya yang dibawa-bawa.

"Yang penting bukan nama yang dicalonkan, tapi maknanya. Kebetulan saja nama saya yang dicalonkan... Dipo dan Bambang, sebagai anak muda, di mata saya, berani menyatakan pendapat. Itu bagus. Mereka beda dibandingkan orang-orang tua yang masih terikat feodalisme," kata Bang Ali.

Wartawan melempar pertanyaan susulan: "Apakah Bang Ali bersedia dicalonkan?"

"Saya tidak peduli dengan omongan orang. Soal Presiden dan Wakil Presiden mendatang, itu urusan MPR. Tanyakan saja kepada MPR."


Dipo Ditahan

Sehari setelah ujian skripsi, 8 Februari 1978, Dipo Alam masuk bui. Berbeda dengan saat Peristiwa Malari, Bambang tak menjadi target dalam heboh politik 1977-1978 ini.

Justru ayah Bambang, Bung Tomo, yang ditahan bersama puluhan tokoh lain. Saat Bambang menggelar resepsi pernikahan pada Juni 1978, Bung Tomo absen. Sosok masyhur dalam Peristiwa 10 November 1945 itu dilarang meninggalkan rumah tahanan Nirbaya, Jakarta Timur.

Bersama Dipo, ratusan aktivis mahasiswa lain juga dicokok. Beberapa kampus besar, seperti ITB, dimasuki aparat militer. Beberapa pekan sebelumnya sejumlah koran diberedel.

Pangkal kemarahan rezim jelas. Sejak akhir 1977, mahasiswa di berbagai kampus berdemonstrasi menolak pencalonan kembali Soeharto. Para mahasiswa mendapat sokongan dari para senior seperti Bung Tomo.

Jika menengok kronologis, sebenarnya Dipo dan Bambang mendahului, cuma memang individual, sporadis, dan masih "halus" meminta Soeharto berhenti.

Dipo dibawa Laksusda Jaya ke markas Batalyon Infanteri 202 Tajimalela di Bekasi. Seorang perwira, Letkol Kiemas, menginterogasinya.

Ada satu momen ketika Kiemas membuat Dipo naik pitam, yaitu ketika si perwira merendahkan penyair dan dramawan, Rendra.

"Kok bisa ya mahasiswa dibodohi Rendra, bahkan sampai mengelu-elukannya?!" kata Kiemas.

Dipo sontak gusar. Ia tidak rela penyair yang sajak-sajak protesnya menginspirasi gerakan mahasiswa direndahkan.

Adegan saling bentak terjadi. Dalam benak Dipo, apa yang harus ditakutkan? Toh sudah mendekam di tahanan.

Kiemas mengalah dan keluar ruangan. Para jaksa yang hadir dalam pemeriksaan malah mengacungkan jempol ke Dipo, memperlihatkan ekspresi senang.

"Enak saja Laksusda menangkapi orang tanpa alasan, lalu meminta kami membuktikan bahwa kalian sudah melakukan perbuatan melawan hukum," bisik seorang jaksa kepada Dipo seperti dikutip Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin (2022).

Pada Agustus 1978, Dipo dibebaskan. Tak ada tuduhan yang dibawa ke pengadilan. Namun, beberapa pemimpin Dewan Mahasiswa diajukan ke meja hijau, misalnya Heri Akhmadi, Lukman Hakim, Bram Zakir, atau Sukmadji Indro Tjahjono.

Para mahasiswa diciduk untuk mengamankan Sidang Umum MPR yang salah satu agendanya menetapkan presiden dan wakil presiden. Aparat keamanan telah mengendus upaya menggagalkan pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden.


Infografik Mozaik Ide Suksesi Era Orba
Infografik Mozaik Ide Suksesi Era Orba. tirto.id/Mojo


Asisten Intel Laksusda Jaya, Kolonel Eddie M Nalapraya, mengundang Dipo untuk meminta maaf. Dari pengakuan Eddie, para mahasiswa itu disekap sampai Sidang Umum MPR selesai agar tidak mengganggu pencalonan kembali Soeharto.

Dua hari setelah bebas, Dipo dipanggil Panglima Kopkamtib, Laksamana Sudomo, ke rumahnya di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat. Sejak Dipo menjabat Ketua DMUI, Sudomo telah mengenalnya.

"Pak Domo, apa sebenarnya alasan saya ditahan?" tanya Dipo.

Jari telunjuk Sudomo mengarah ke keluar, ke arah rumah Ali Sadikin. Rumah Sudomo dan Bang Ali kebetulan berseberangan.

"Begini, Dipo, saya punya nasihat untuk kamu. Kamu boleh mengkritik para menteri dan para jenderal di Indonesia, siapa saja, asal jangan mengkritik jenderal yang satu itu dan keluarganya,” kata Sudomo sambil terkekeh.

"Jenderal yang satu itu" tentu adalah Soeharto.

Beberapa tahun kemudian, Dipo melanjutkan studi ke Amerika Serikat sampai meraih doktor di George Washington University. Ia lalu berkarier di Badan Perencanaan Nasional (Bappenas). Terakhir, di ranah publik, ayah dua anak ini menjabat Sekretaris Kabinet pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Barangkali tak banyak lagi yang ingat ide suksesi itu. Kepada TEMPO edisi 2 Juli 1977, Dipo mengaku tidak membikin kaus bergambar Bang Ali untuk dirinya dan Bambang semata. Ia melempar ke pengurus senat-senat mahasiswa UI, yang lalu menjualnya kembali ke para mahasiswa.

Lumayan, kabarnya 100 lusin kaus laku. Ide pun tersebar. Meski, baru pada 1998, Soeharto akhirnya tumbang.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan menarik lainnya Yus Ariyanto
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yus Ariyanto
Penulis: Yus Ariyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight