Cekcok Bikin Pening Tinggal di Apartemen

Oleh: Reja Hidayat - 24 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Urusan bertetangga di apartemen sama sepele dan sama rumitnya dengan mereka yang tinggal di permukiman biasa.
tirto.id - Tinggal di rumah susun maupun di apartemen sama baik dan sama buruknya dengan tinggal di perumahan biasa. Sebagaimana orang mulai menetap secara berkelompok, pada akhirnya mereka pun mengenal konflik. Tinggal taruhannya: apakah mereka bisa mengelola konflik sebagai pintu untuk membangun lingkungan yang ramah bagi sesama.

Kesadaran macam itulah kira-kira yang coba dirintis Arsi Aryanto, penghuni apartemen Green Pramuka City. Bersama rekan sesama penghuni apartemen di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Timur itu, ia ingin membuat suasana hidup bertetangga layaknya lingkungan permukiman tapak. Maka, langkah pertama, mereka membentuk rukun tetangga dan rukun warga. Tujuannya, mereka ingin relasi antar-penghuni jadi guyub, bisa menghubungkan mereka yang tersekat-sekat.

Bagaimanapun, alasan mereka, pembentukan RT/RW adalah amanat hukum. Mereka juga ingin mengamalkan peraturan gubernur mengenai pedoman RT/RW. Urusan sosial macam ini, ujar Arsi, bukan jadi tanggung jawab utama pengembang. Pihak developer hanya mengelola urusan operasional apartemen macam air, listrik, lift, parkir, dan kebersihan.

Mereka juga belajar dari pengalaman karena bila ada masalah antar-tetangga, kata Arsi, penghuni lama yang harus mendamaikan. "Yang senior ini jadi bumper," tambah Arsi, 52 tahun, yang tergolong penghuni lama apartemen tersebut sejak 2013.


Urusan bertetangga di apartemen yang kerap dia tangani menggambarkan perkara sepele tapi krusial bagi hubungan antarsesama, seperti suara karaoke yang berisik di satu unit hingga bikin penghuni di unit sebelah terganggu, atau buang sampah di koridor. Rata-rata dalam sebulan, ujarnya, ada 5-10 kasus konflik antar-tetangga.

Masalah serupa terjadi juga di Apartemen East Park, permukiman bertingkat berkapasitas seribu unit di bilangan Buaran, Jakarta Timur. Hidayat, salah seorang penghuni, mengatakan masalah itu bisa macam-macam, misalnya perkara jemuran, sepatu, sandal, dan sepeda yang ditaruh sembarangan di koridor.

Meski perangkat RT/RW di apartemennya sudah mengimbau agar para penghuni menempatkan barang secara tertib sesuai tempatnya sejak tahun lalu, tapi tetap saja ada yang melanggarnya.


Infografik HL Indepth Tetangga

Berbenah Mandiri

Bayangan Arsi dan rekan-rekannya di Green Pramuka City soal pentingnya mereka punya RT/RW bisa tergambarkan dari pengalaman para penghuni Casablanca East Residences, sebuah apartemen empat menara berkapasitas sekitar 2.800 unit di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Setahun lalu para penghuninya mulai berbenah sejak memiliki perangkat RT/RW.

"Sekarang tingkat kepedulian warga penghuni terhadap lingkungannya mulai tinggi. Ada hal yang tidak nyaman langsung dilaporkan ke grup forum RT," kata Indra Barley, salah satu pemilik unit apartemen tersebut.

Barley dan koleganya membuat aturan misalnya penghuni apartemen harus sewa unit minimal dalam tempo 6 bulan, penghuni baru wajib lapor 1x24 jam, dan larangan mereka menaruh barang pribadi di koridor.

Selama enam bulan, ujar Barley, aturan ini disebarkan ke semua penghuni. Bila ada yang kedapatan melanggar, forum RT melalui petugas keamanan akan menegur, menyita barang dan menyegel unit apartemen. Alhasil, aturan macam ini mulai dipatuhi meskipun tak seratus persen.

Bagaimanapun, kata Barley, "kami butuh waktu membangun kesadaran penghuni lain agar sama-sama peduli."


Perubahan macam ini dirintis sejak lingkungan penghuni apartemen dikelola secara mandiri dan lepas dari naungan pengembang. Sebelumnya ada kecenderungan unit asal terisi penuh, thus menguntungkan bagi pengembang, sementara relasi kehidupan bertetangga—dalam ungkapan Barley—"siapa elu, siapa gue."

Meski aturan sudah dibuat, selalu ada celah. Misalnya, pemilik unit atau agen unit menyewakan ke orang lain dengan sewa harian secara diam-diam atau kurang dari 6 bulan. Agen unit yang dimaksud Barley adalah pihak kedua yang membantu pemilik unit mencari penyewa apartemen.

Menurut Barley, agen-agen nakal ini bakal ditegur dan didata. Jika kembali melanggar, pemilik apartemen akan dipanggil dan diberikan sanksi penyegelan unit selama 1-3 bulan; tergantung ringan atau beratnya pelanggaran. Paling berat, kata Barley, jasa si agen dicabut dari apartemen tersebut. Aturan soal tempo sewa minimal 6 bulan tersebut untuk meminimalisir unit apartemen digunakan sebagai "sarang prostitusi dan narkoba," menurut Barley.

Kesepakatan lain juga menyangkut perkara suara yang terlalu berisik, yang akan ditegur oleh security atas perintah forum RT. Hal lain bahkan mengatasi perkara kekerasan rumah tangga, yang akan diselesaikan oleh Ketua RT. Dalam pengalaman Barley, jika ada kasus kekerasan domestik begitu, forum RT akan meminta pelaku untuk keluar dari unit apartemen dan akan diizinkan lagi atas sekeinginan hati si korban.

"Selama belum mengizinkan, RT tak akan mengizinkan. Ini bentuk saling mengawasi sesama tetangga," kata Barley.


Kembali ke cerita Arsi dkk di Green Pramuka City, apartemen yang memiliki sekitar 3.000 penghuni itu. Mengingat kesempatan bertatap muka dan silaturahmi antar-penghuni apartemen sangatlah jarang, keputusan para penghuni lama akhirnya membuat jalur solusi alternatif sendiri.

Salah satu jalannya ialah menyelesaikan konflik antar-penghuni dengan mengajaknya bertemu di tempat umum. Jalur lain, Arsi dan rekannya membuat Grup WhatsApp.

Arsi menerangkan setiap menara ada sekitar 200 unit yang ditempati penghuni lama dan baru. Di tiap menara inilah mereka membentuk grup WhatsApp. Penghuni lama seperti dirinya yang jadi mediator bila ada masalah antar-tetangga seperti berisik, pasangan yang berantem, buang sampah sembarangan, atau meletakkan benda-benda pribadi di koridor.

Menempatkan diri sebagai senior, demikian klaim Arsi, ia mendengarkan tetangga yang bertikai. Lalu mereka akan mencari solusi terbaik. Biasanya sesudah itu suasana dalam grup kembali cair.

"Hidup kita sudah ditekan sama pengelola, kenapa antar-tetangga saling bertengkar? Kita harus bersatu," kata Arsi memotivasi diri.

Motivasi macam itulah yang kerap ia lontarkan juga kepada teman-temannya yang cekcok gara-gara masalah "sepele".

Baca juga artikel terkait ADAB BERTETANGGA atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight