tirto.id - Consent. Kata ini terdengar sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang sering lahir dari kelelahan, dari ruang-ruang sempit di antara rasa takut dan kebutuhan untuk tetap dicintai. Consent, kata dalam Bahasa Inggris yang kerap diterjemahkan sebagai “persetujuan,” sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam.
Persetujuan dalam relasi intim sering dipahami sebagai keputusan individual: seseorang mengatakan “ya” atau “tidak,” lalu persoalan dianggap selesai. Cara pandang ini menyederhanakan proses yang jauh lebih kompleks. Karena dalam banyak situasi, persetujuan terbentuk melalui interaksi yang berlangsung dalam relasi kuasa tertentu.
Dalam konteks komunikasi interpersonal, akademisi W. Barnett Pearce dan Vernon Cronen menjelaskan melalui teori Coordinated Management of Meaning (CMM) bahwa makna dalam hubungan dikelola bersama melalui pola interaksi yang berulang. Apa yang dianggap normal, wajar, atau berlebihan dalam sebuah relasi muncul dari proses negosiasi simbolik yang terus-menerus.
Dalam relasi yang asimetris, misalnya karena perbedaan usia, pengalaman, atau posisi sosial, satu pihak memiliki kapasitas lebih besar untuk mendefinisikan situasi, sementara pihak lain cenderung menyesuaikan diri agar hubungan tetap stabil.
Broken Strings: Pergeseran Batas Personal
Kerangka ini relevan jika dikaitkan dengan memoar Broken Strings Fragments of a Stolen Youth karya aktris Aurelie Moeremans. Apa yang menonjol dari kisah tersebut adalah pola komunikasi yang menyertainya: batas personal digeser secara bertahap, penolakan ditanggapi sebagai ketidakdewasaan, dan rasa bersalah dibangun melalui bahasa afeksi.
Tidak ada dinamika dramatis yang eksplisit; yang hadir justru bujukan, normalisasi, dan tuntutan emosional yang terus berulang. Persetujuan muncul di akhir rangkaian interaksi yang panjang, bukan sebagai titik awal keputusan.
Konsep framing dari Erving Goffman membantu menjelaskan proses ini. Setiap interaksi sosial selalu berlangsung dalam definisi situasi tertentu: siapa yang berhak menentukan apa yang sedang terjadi, dan bagaimana peristiwa itu dipahami.
Dalam Broken Strings, relasi dibingkai sebagai cinta, kedewasaan, dan komitmen. Penolakan dipersepsikan sebagai kegagalan personal, sementara tekanan dipahami sebagai bagian dari dinamika hubungan. Bahasa membentuk batas realitas, sekaligus menentukan ruang gerak tindakan.
Pada tingkat yang lebih struktural, pemikiran Michel Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan bekerja melalui wacana dan normalisasi. Bahasa membentuk apa yang dianggap masuk akal, pantas, dan layak diterima. Dalam relasi intim yang timpang, wacana tentang cinta dan pengorbanan berfungsi sebagai mekanisme disipliner: individu menginternalisasi tuntutan relasi sebagai bagian dari identitas dirinya sendiri.
Adaptasi terhadap Ekspektasi Sosial
Dimensi gender memperkuat proses ini. Julia Wood, dalam kajian komunikasi feminis, menunjukkan bahwa perempuan disosialisasikan untuk menjaga harmoni relasi, menghindari konflik, dan mengutamakan kebutuhan orang lain.
Dalam konteks tersebut, pengalaman Aurelie merepresentasikan pola sosial yang lebih luas. Mengatakan “tidak” membawa konsekuensi simbolik: dianggap egois, tidak dewasa, atau tidak cukup peduli terhadap pasangan. Persetujuan terbentuk melalui kelelahan emosional setelah proses negosiasi yang berlarut-larut.
Dari sudut pandang ini, consent muncul sebagai produk interaksi: hasil dari bahasa, framing, relasi kuasa, dan norma gender yang saling bertaut. Ketika seseorang akhirnya mengatakan “ya,” pertanyaan analitisnya terletak pada proses komunikatif yang membentuk keputusan tersebut.
Jika dibawa ke dalam konteks kehidupan di Indonesia, dinamika ini diperkuat oleh budaya sungkan dan struktur relasi yang hierarkis. Perbedaan usia, status sosial, reputasi, atau posisi profesional sering dimaknai sebagai legitimasi simbolik untuk menentukan arah interaksi.
Ketidaknyamanan jarang diartikulasikan secara langsung sebagai penolakan, melainkan dipendam demi menjaga keharmonisan relasi. Dalam kerangka ini, persetujuan kerap terbentuk melalui adaptasi terhadap ekspektasi sosial, bukan melalui artikulasi kehendak personal yang setara.
Broken Strings menunjukkan bagaimana batas makna tentang diri dapat tergerus secara perlahan dalam relasi yang timpang. Ilmu komunikasi mengarahkan perhatian pada dinamika ini: bagaimana individu dibentuk melalui interaksi simbolik, hingga ruang untuk mempertahankan batas personal semakin menyempit. []
Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id
































