Menuju konten utama

BRIN Kembangkan Hasil Riset Budaya Papua Jadi Produk Kreatif

BRIN mengembangkan motif gerabah prasejarah Papua menjadi batik Yo’onomi dan desain kreatif modern berbasis AI untuk memperkuat ekonomi lokal.

BRIN Kembangkan Hasil Riset Budaya Papua Jadi Produk Kreatif
Acara “BRIN Goes to Industry 4: Riset Budaya, Berdaya” pada sesi Eksplorasi Rumpun Motif Warisan Budaya Nusantara (Wastra). Merlina Aryanti/Tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan hasil riset budaya menjadi produk kreatif bernilai ekonomi melalui acara “BRIN Goes to Industry 4: Riset Budaya, Berdaya” di Auditorium Soemitrodjojohadikusumo, Selasa (19/5/2026).

Dalam acara itu, peneliti BRIN memaparkan pengembangan motif gerabah prasejarah Papua hingga warisan tenun Pulau Ternate di Alor sebagai bagian dari penguatan identitas budaya Nusantara.

Peneliti Austronesia dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Erlin Novita Idje Djami, menjelaskan artefak yang ditemukan di Situs Gunung Serubu, Papua, tidak hanya menjadi benda temuan biasa, tetapi menyimpan konteks kehidupan masyarakat masa lalu.

Menurut dia, hasil survei dan ekskavasi menunjukkan jejak aktivitas ritual penguburan, pemujaan, hingga kehidupan domestik masyarakat kuno di Papua.

Ia mengatakan situs tersebut juga memperlihatkan pola konsumsi masyarakat melalui temuan cangkang moluska dan tulang hewan. Temuan itu menunjukkan masyarakat Gunung Serubu telah menjadikan moluska sebagai makanan utama dan memanfaatkan gerabah untuk alat pengolahan makanan.

Selain gerabah, tim peneliti menemukan berbagai alat batu yang menggambarkan aktivitas masyarakat masa lalu. Erlin menyebut masyarakat Serubu telah mengenal alat pemotong pohon, penokok sagu, hingga alat pengolah makanan sejak abad ke-4 Masehi atau sekitar 1.700 tahun lalu.

“Menokok sagu ternyata sudah dilakukan sejak abad ke-4 Masehi. Mereka juga sudah mengenal teknologi pengolahan makanan menggunakan alat batu,” kata Erlin dalam sesi Eksplorasi dan Kolaborasi Pemanfaatan Hasil Riset Arbastra.

Ia menambahkan, masyarakat Serui juga telah memiliki teknologi penangkapan ikan menggunakan mata pancing berbahan kerang. Bentuk mata pancing tersebut disebut mirip dengan teknologi modern yang masih digunakan saat ini.

Dalam penelitian itu, BRIN menemukan pertemuan dua budaya gerabah Austronesia di Situs Gunung Srobu. Gerabah selip merah diperkenalkan penutur Austronesia dari Mongoloid Selatan, sedangkan gerabah Lapita berkembang di kawasan Melanesia, tepatnya Pulau Bismarck.

Meskipun dipengaruhi oleh dua budaya besar, masyarakat Gunung Srobu dinilai mampu mengembangkan motif khas lokal Papua. Tim peneliti berhasil mengidentifikasi dan menggambar 280 motif gerabah yang kemudian diklasifikasikan menjadi motif geometris, flora, fauna, dan abstrak.

Menurut Erlin, motif-motif tersebut kemudian dikembangkan menjadi batik Yo onomi yang terinspirasi filosofi kehidupan damai masyarakat Papua. Batik itu menggabungkan simbol matahari, tumbuhan, biji-bijian, tanda pangkat adat, dan titik-titik yang merepresentasikan persatuan.

Ia menjelaskan setiap simbol itu memiliki makna tersendiri dalam budaya Papua. Motif matahari melambangkan kepemimpinan adat, tumbuhan menggambarkan kehidupan dan kesuburan, sedangkan titik-titik menjadi simbol persatuan masyarakat.

Pengembangan batik Yo onomi dilakukan melalui kerja sama dengan Sanggar Kongkongfa di Jayapura. Erlin mengatakan riset budaya tersebut diharapkan dapat membuka kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat terhadap potensi warisan leluhur di Papua.

Selain itu, BRIN juga mulai mengembangkan desain berbasis teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan pengembangan motif budaya menjadi produk kreatif modern, termasuk desain perhiasan.

Baca juga artikel terkait BRIN atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Addi M Idhom