Menuju konten utama

Bos BI Minta Perbankan Turunkan Porsi Special Rate Nasabah Kakap

Tingginya special rate nasabah kakap menjadi salah satu penyebab lambatnya penurunan suku bunga kredit.

Bos BI Minta Perbankan Turunkan Porsi Special Rate Nasabah Kakap
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (kiri) dan Deputi Gubernur BI Juda Agung (kanan) menyampaikan paparan pada Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyoroti praktik pemberian suku bunga istimewa atau special rate kepada nasabah kakap di perbankan yang dinilai masih terlalu tinggi.

Ia meminta agar perbankan mulai mengurangi praktik tersebut guna mempercepat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil.

Data BI menunjukkan porsi pemberian special rate kepada deposan kakap masih mencapai 26,42 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK). Angka tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab lambatnya penurunan suku bunga kredit meskipun bank sentral telah agresif melonggarkan kebijakan moneternya.

"Upaya untuk mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini masih mencapai 26,42 persen dari total DPK, perlu terus dilanjutkan," kata Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Pasalnya, sepanjang 2025, BI telah memangkas BI-Rate sebanyak 125 basis poin (bps) disertai ekspansi likuiditas moneter. Hasilnya, suku bunga di pasar uang seperti INDONIA berhasil turun 211 bps ke level 3,92 persen per 18 Februari 2026.

Namun, transmisi ke sektor riil belum berjalan mulus. Data Januari 2026 mencatat suku bunga kredit perbankan hanya turun tipis 40 bps dari 9,20 persen menjadi 8,80 persen. Padahal, di sisi pendanaan, suku bunga deposito satu bulan sudah turun lebih dalam yakni 68 bps dari 4,81 persen ke 4,13 persen pada periode yang sama.

Perry menilai tingginya porsi special rate untuk nasabah besar menjadi salah satu biang keladinya. Ke depan, BI akan terus mendorong perbankan agar lebih berani menurunkan suku bunga kredit.

Perry menambahkan, penurunan imbal hasil instrumen lain seperti SRBI dan SBN tenor 2 hingga 10 tahun yang sudah turun lebih dari 200 bps semestinya menjadi acuan bagi perbankan untuk lebih kompetitif dalam menyalurkan pembiayaan.

“Upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama