Menuju konten utama

BNPB: Waspada Bencana usai Ramalan Cuaca Hujan Lebat & Angin

BNPB meminta pemda dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah. 

BNPB: Waspada Bencana usai Ramalan Cuaca Hujan Lebat & Angin
Sejumlah petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari membantu guru menyemprot material lumpur di TK Dewi Sartika, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (18/5/2026). Pemkot Kendari memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir selama tujuh hari ke depan hingga 24 Mei 2026 karena dinilai masih membutuhkan perhatian dan penanganan lanjutan. ANTARA FOTO/Andry Denisah/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Hal ini menyusul adanya prakiraan cuaca BMKG terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan kesiapsiagaan di tingkat tapak penting mengingat cuaca ekstrem tersebut memicu ancaman bencana hidrometeorologi basah, seperti yang baru saja melanda Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

"Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Kami meminta pemda dan masyarakat tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana tersebut," ujar Abdul dalam keterangan di Jakarta, Minggu (24/5/2026) malam dilansir dari Antara.

Dia menjelaskan, dampak nyata dari faktor cuaca ekstrem dengan durasi panjang tersebut salah satunya memicu banjir yang merendam 35 rumah warga serta dua fasilitas pendidikan, yakni SD Mulyorejo 1 dan SMP 4 Cepu di Desa Mulyorejo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jumat (22/5) malam.

Meskipun kondisi genangan di Blora dilaporkan telah berangsur surut pada Sabtu (23/5) setelah diasesmen oleh BPBD setempat, BNPB mengingatkan bahwa dinamika atmosfer saat ini sangat fluktuatif karena beberapa wilayah lain justru mulai memasuki musim kemarau.

Oleh karena itu, lanjutnya, kesiapsiagaan yang diminta oleh BNPB tidak hanya berfokus pada ancaman banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem saja, melainkan juga pada potensi bencana hidrometeorologi kering seperti kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi resmi dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, BPBD, BMKG, maupun PVMBG. Langkah antisipasi dini dan respons cepat dari seluruh unsur dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko serta dampak kerusakan akibat bencana.

Baca juga artikel terkait BENCANA HIDROMETEOROLOGI

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto