Menuju konten utama

BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami di Sulut & Malut

Pengakhiran peringatan dini ini menjadi penanda penting bagi tim penyelamat untuk mulai melakukan penanganan di lapangan.

BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami di Sulut & Malut
Petugas BMKG memperlihatkan pusat titik lokasi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulut dan Malut melalui layar monitor di Kantor BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026). Gempa bumi yang terjadi pukul 06.48 WIT tersebut berlokasi di koordinat 1.21 lintang utara dan 126.25 bujur timur pada kedalaman 18 km di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara tersebut mengakibatkan bangunan rumah warga di Kelurahan Gambesi Ternate mengalami kerusakan ringan. ANTARA FOTO/Andri Saputra/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri peringatan dini tsunami di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara setelah gempa berkekuatan 7,6 magnitudo yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) pagi.

Peringatan dini tsunami dihentikan pada pukul 09.56 WIB atau 10.56 WITA, setelah tidak ditemukan kenaikan muka air laut yang signifikan di wilayah terdampak.

“Kemudian peringatan dini keempat berisi pengakhiran peringatan dini pada pukul 9 lewat 56 menit Waktu Indonesia Bagian Barat. Perlu kami sampaikan bahwa untuk peringatan dini keempat atau pengakhiran peringatan dini tsunami ini juga sangat penting,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Kamis.

BMKG menjelaskan bahwa pengakhiran peringatan dini ini menjadi penanda penting bagi tim penyelamat untuk mulai melakukan penanganan di lapangan. Tim SAR dan BPBD dapat segera masuk ke lokasi terdampak.

Langkah ini memungkinkan dilakukannya asesmen terhadap bangunan serta upaya pertolongan bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Sebelumnya, BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah titik berdasarkan hasil pemantauan di berbagai wilayah pesisir.

Beberapa wilayah yang terdeteksi mengalami kenaikan muka air laut antara lain Halmahera Barat, Bitung, hingga Sulawesi Utara, dengan variasi ketinggian yang berbeda.

“Berdasarkan hasil pemantauan tinggi muka air laut tsunami telah terdeteksi, kami sampaikan di Halmahera Barat 0,3 meter, lalu di Gita 0,24 meter, di Bitung 0,2 meter, di Halmahera Barat 0,15 meter, di Tagulandang Sulawesi Utara 0,19 meter,” jelas Teuku.

Selain itu, BMKG juga mencatat data tambahan dari wilayah lain seperti Sidangoli, Belang, dan Bumbulan. Data tersebut menunjukkan fluktuasi tinggi gelombang yang relatif kecil.

Hingga saat ini, tidak ada laporan kenaikan signifikan yang berpotensi memicu ancaman lanjutan. Kondisi ini menjadi dasar utama penghentian peringatan dini tsunami.

“Kemudian Sidangoli 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, di Belang 0,68 meter, serta di Bumbulan 0,13 meter. Ini yang tercatat di pencatatan kita,” ucap Teuku.

BMKG memastikan akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi pascagempa. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait juga akan terus dilakukan.

“Kemudian hingga pukul 9 lewat 50 Waktu Indonesia Bagian Barat, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock dengan magnitudo antara 3 hingga 5,5 dan gempa dirasakan berjumlah 2 gempa,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BADAN METEOROLOGI atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Hendra Friana