Biarlah Sipon Menyimpan Sendiri Ingatan tentang Wiji Thukul

Oleh: Agung DH - 20 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sipon berbicara tentang Istirahatlah Kata-Kata, film yang mengisahkan sang suami Wiji Thukul.
tirto.id - Keluarga Wiji Thukul sudah lebih dulu menonton film Istirahatlah Kata-Kata. Siti Dyah Sujirah atau akrab disapa Sipon, istri Thukul, menonton ditemani dua anaknya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.

“Habis dari Jakarta lihat film itu, Fitri itu malah nangis di pangkuan saya, minta maaf ke saya” kata Sipon. “Biasanya tidak begitu, saya juga heran.”

Kata Sipon, mungkin kedua anaknya merasa bersalah karena selama ini belum bisa merasakan betapa berat beban ibunya ketika ayahnya pergi dalam pelarian.

“Ya saya jawab, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalau diibaratkan garis, itu baru setitik saja,” kata Sipon seraya mengatupkan ujung jempol ke ujung telunjuknya.

Sipon menerima kami di kediamannya pada Kamis siang, 19 Januari. Sebuah plakat menghiasi bagian depan rumah, bertuliskan 'Penjahit Nganthi Merah'. Rumahnya di satu permukiman padat, di kampung Jagalan, pinggiran Solo.

Ia menerima kami di ruang tamu, disesaki tiga kursi, sebuah pohon natal dengan lampu kerlip di pojok ruangan, dan rak kecil berisi belasan buku.

Kurang dari lima menit Sipon bercerita, ia sudah pamit ke kamar mandi untuk memandikan cucunya yang sedari kami datang sudah menggelendot di pelukannya. Telepon genggamnya, yang ia pakai untuk merayu cucunya agar anteng, dibiarkan tergeletak di kursi.

Tiga kali telepon itu berdering. Panggilan demi panggilan masuk. Menunggu Sipon mengangkatnya.

“Iya, nanti saya usahakan datang jam tiga, lagi cari teman, Fajar masih tidur, kayaknya kelelahan, Fitri katanya sibuk kerja,” kata Sipon di ujung telepon, setelah terburu-buru mengangkatnya.

Kata Sipon, panggilan telepon itu datang dari panitia nonton bareng Istirahatlah Kata-Kata di Grand 21 Solo Grand Mall. Panitia mengajak Sipon dan Fitri dan Fajar untuk nonton film itu pada Kamis sore, hari pertama penayangan di bioskop.

Wiji Thukul, penyair dan aktivis Partai Rakyat Demokratik, adalah 13 orang hilang pada 1997-1998 menjelang kejatuhan Presiden Soeharto. Thukul dikejar-kejar serdadu sesudah apa yang disebut Peristiwa 27 Juli 1996, aksi serangan terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jakarta pusat oleh orang-orang suruhan Soeharto. Ia dianggap subversif karena aktivitasnya dalam perlawanan terhadap Orde Baru. Selama pelarian, Thukul diketahui berpindah-pindah tempat persembunyian dari Yogyakarta, Magelang, hingga Pontianak.

Sepenggal kisah hidup Thukul saat di Pontianak itulah yang diangkat film Istirahatlah Kata-Kata. Film itu tayang perdana di 19 bioskop di 15 kota termasuk di Solo.

“Dari kemarin, saya sedang siapkan mental, soalnya kali ini nonton bareng dengan orang banyak,” kata Sipon kembali memulai cerita.

Tapi, lagi-lagi, cerita Sipon terputus. Ia harus melakukan hal lain di tengah pembicaraan. Berulang kali ia minta maaf kepada kami karena harus mengantar cucunya yang merengek minta pulang, kadang menemui tamu lain, atau pergi membeli pulsa listrik.

Infografik HL Film Wiji Thukul


Sepanjang siang itu ia terlihat sibuk dan mondar-mandir dengan seabrek urusan rutin.

“Saya sudah nonton film itu Desember kemarin. Katanya sudah menang penghargaan di mana-mana,” ujar Sipon saat kembali mengobrol.

Ia mengaku tak terkesan tentang film itu. “Isinya cuma secuil kisah Wiji Thukul,” ujarnya, terkekeh.

Namun, bagi Sipon, sesederhana apapun cerita Istirahatlah Kata-Kata, kehadiran film itu tetap memiliki arti penting. Nilainya sangat berharga karena akan menjaga ingatan. Cerita muram nasib Thukul, katanya, menjadi pelajaran yang tidak boleh lenyap dari ingatan masyarakat Indonesia.

“Kalian para jurnalis, kan, juga bisa bernasib sama seperti Thukul,” ujarnya mengingatkan. “Sama-sama bisa terancam karena tulisan.”

Kisah Thukul tentu jauh lebih berwarna ketimbang apa yang dipaparkan selama 97 menit lewat Istirahatlah Kata-Kata, dan itu jadi milik Sipon. Ada banyak cerita, ingatan, dan kenangan, yang tak akan ia bagi kepada orang lain.

“Saya kenal Thukul sejak ia belum pintar sampai kemudian jadi kepinteran (terlalu pintar). Sebagian kisahnya tak akan saya bagi kepada orang lain, biarlah...” tutur Sipon.

Baca juga artikel terkait WIJI THUKUL atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Addi M Idhom & Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight