Kolumnis
National Working Group on Research and Development

Memperebutkan Wiji Thukul

Kolumnis: Andre Barahamin
23 Januari, 2017dibaca normal 2:30 menit
Pemutaran perdana film Istirahatlah Kata-Kata secara serentak di 19 layar di 15 kota berjalan sukses. Selain di pulau Jawa, film ini juga tayang di Medan, Pontianak, Kupang, Makassar dan Denpasar. Di hari perdana penayangan, tiket terjual habis. Tagar #IstirahatlahKataKata dan #ThukulDiBioskop ramai berhamburan di media sosial. Begitu juga foto lembaran tiket. Hari kedua, animo penonton belum jua surut.

Sosok Wiji Thukul yang diangkat dalam film ini, menjadi magnet yang efektif mendulang penonton. Sebagian besar penonton penasaran bagaimana kisah penyair yang dihilangkan secara paksa oleh junta militer Soeharto dihadirkan dalam film. 

Sebagian yang lain justru lebih tertarik mengkritisi mengapa film ini tayang di jaringan bioskop komersil. Mereka yang tidak bersepakat, menuduh film ini berupaya mengkapitalisasikan sosok Wiji Thukul dan menjauhkannya dari sejarah dan konteks sosial yang melahirkannya. Bioskop dianggap tak terjangkau oleh kalangan miskin yang menjadi latar kehidupn Wiji itu sendiri. 

Nalar seperti ini tidak adil. Membawa kisah Wiji Thukul ke layar bioskop hanyalah sebagian kecil dari ikhtiar melawan lupa. Bahwa di masa lalu, negeri ini pernah diperintah junta militer yang begitu ketakutan dengan kata-kata sehingga menelan dan menghabisi para pembangkang adalah satu-satunya cara yang mampu mereka lakukan.

Menggunakan jejaring bioskop komersil seharusnya dipandang sebagai upaya mengintervensi ruang produksi sinema kita. Aksi di batas minimal untuk menginterupsi dominasi tayangan-tayangan penggeruk laba yang selama ini mengajak banyak orang lupa bahwa lebih dari selusin orang belum jua kembali sejak Soeharto lengser. Menayangkan kisah orang-orang seperti Wiji Thukul di ruang komersil yang memiliki daya jangkau lebih luas, semestinya dilihat sebagai kemenangan kecil bagi semua yang tidak sepakat dengan penghilangan paksa dan tutup mulut penguasa.

Istirahatlah Kata-Kata, buat saya, serupa oase di tengah kegersangan dunia tontonan yang lebih banyak dimonopoli jajanan pornografi malu-malu atau film-film religius dan nasionalisme banal. Jenis tayangan yang tidak hanya abai pada kenyataan sosial, tapi secara terang benderang melakukan simplifikasi terhadap ragam persoalan di negeri ini.

Selayaknya oase, film ini secara sederhana merupakan hentakan kecil untuk menyegarkan kembali ingatan: bahwa Kamisan kini telah berusia satu dekade, namun belum ada kabar di mana Wiji, Suyat, dan mereka yang dihilangkan berada.

Berkontribusi terhadap upaya di ranah populer untuk memelihara ingatan adalah apa yang sedang berupaya dilakukan Istirahatlah Kata-Kata.

Pemutaran film ini di bioskop merupakan upaya menyasar kalangan menengah yang selama ini abai dan apolitis-- watak yang merupakan warisan paling lestari Orde Baru. Terutama generasi yang lahir dan tumbuh ketika partai politik sudah berjumlah lebih dari jari-jari tangan. Mereka yang menjadi Indonesia ketika tentara tak lagi dengan gampang makan tak bayar di warteg-warteg, memalak pengemudi bis sembarangan, atau petantang-petenteng di jalan macam koboi jalanan. Angkatan muda yang merasa tidak memiliki benang sejarah dengan kebangkitan populer 1998 sehingga terlanjur menjadi acuh dengan problem sosial di sekitar mereka.

Memperkenalkan Wiji Thukul di ruang-ruang komersil adalah upaya menantang diri dalam meluaskan dan mempertarungkan gagasan. Sebuah usaha menyodorkan Wiji pada mereka yang sebelumnya tak mengenal Wiji dengan segenap aktivisme dan syair-syairnya.

Melalui Istirahatlah Kata-Kata, isu orang hilang diharapakan dapat menjadi konsumsi publik dan pembicaraan yang lebih meluas. Agar perjuangan menemukan mereka yang hilang tak lagi hanya menjadi bisik-bisik terbatas. Tapi kerisauan semua orang yang melampaui batasan soal organisasi, lingkaran pertemanan atau ikatan darah. Dan jejaring bioskop komersil adalah langkah-langkah kecil, bukan akhir atau malah tujuan itu sendiri.

Film ini sedang berusaha menyodorkan bukti sejarah kepada publik bahwa bahwa negeri ini pernah memiliki penyair yang menggunakan kata-kata bukan sebagai pelumas kelamin tapi untuk menantang ketidakadilan secara langsung.

Wiji Thukul dan mereka yang hilang tidak lagi bisa hanya dianggap milik satu golongan saja. Mereka telah menjadi simbol semangat sebuah zaman. Mengkapling sosok Wiji -- apapun alasannya -- adalah fanatisme yang tidak sehat. Begitu juga dengan paranoia berlebihan bahwa pengkultusan melalui film komersil hanya akan berakhir sebagai ekstase kalangan menengah parlente. 

Meributkan tayangnya film Istirahatlah Kata-Kata di jejaring bioskop komersil bukan saja kekanak-kanakan, tapi lebih dari itu menggambarkan kepicikan yang sudah jelas akan ditentang Wiji Thukul seandainya ia ada di tengah-tengah kita hari ini.

Kita semua harus belajar melepaskan sosok Thukul. Seperti dicontohkan Sipon dan anak-anaknya yang merelakan Thukul untuk Indonesia tanpa junta militer.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword