4 dari 8
Puisiku Kabar Buruk Bagimu
tirto.id - Ada banyak label yang dilekatkan pada Wiji Thukul karena pilihan politik dan perjuangannya justru membuatnya tak sekadar disebut penyair. Ia seniman dan aktivis buruh. Ia pejuang reformasi. Ia dicap negara sebagai "dalang", yang membuatnya diburu dan ia harus bersembunyi dari kejaran para intel Orde Baru. Ia bekerja sebagai tukang becak, calo tiket bioskop, dan ia seorang suami dan seorang ayah. Ia orang hilang dan ia masih hilang.
Almarhum pembela HAM Munir, yang membuka kasus penghilangan orang secara paksa 1997-1998, menyebut sosok Thukul sebagai aktivis dan seniman rakyat yang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Dalam pengantar buku puisi Aku Ingin Jadi Peluru (2000), Munir menyebut pilihan Thukul untuk bergerak bersama petani, buruh, dan kaum miskin adalah kesadaran yang ia ambil sendiri.
“Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat,” tulis Munir.
Mumu Aloha, penulis dan redaktur Detik, menilai ada banyak lapisan kehidupan Wiji Thukul sehingga sisi kepenyairannya, salah satu yang paling kompleks, kurang dikaji secara serius. Ia lebih kerap dianggap aktivis ketimbang sastrawan, sehingga menenggelamkan diskusi tentang estetika puisi-puisinya. Mumu mengatakan sampai saat ini belum ada kritikus sastra yang membahas puisi Wiji Thukul dengan serius.
Salah satu dugaan mengapa estetika puisinya kurang dibahas serius karena anggapan puisi Wiji adalah puisi politik yang bicara tentang perlawanan, protes, dan pamflet.
“Pelabelan semacam itu menjadi penyakit dalam kebudayaan kita, sebab sekali seniman ditempeli label tertentu—misalnya "Rendra si Burung Merak, "Rendra si penyair pamflet"—maka hal itu mereduksi setiap upaya untuk memahami karya-karyanya,” tulis Mumu. Ini diperparah dengan pilihan pemberitaan media-media di Indonesia yang abai dan melanjutkan tradisi itu sehingga kepenyairan Wiji hanya terbatas pada peristiwa protes, bukan sastra.
Puisi-puisi Thukul memang cenderung mengabaikan kaidah estetik dan pakem. Mumu mencatat, dalam menulis puisi, Thukul memang cenderung tak peduli apa pun. Misalnya dalam segi bentuk, puisinya menabrak “aturan” tentang susunan bait, rima, metafora, pemilihan kosakata dan sebagainya. Dalam segi “aliran”, ia tak peduli apakah puisinya “surealis atau naturalis”. Ia juga menolak dijuluki sebagai penyair protes atau penyair kerakyatan.
Almarhum pembela HAM Munir, yang membuka kasus penghilangan orang secara paksa 1997-1998, menyebut sosok Thukul sebagai aktivis dan seniman rakyat yang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Dalam pengantar buku puisi Aku Ingin Jadi Peluru (2000), Munir menyebut pilihan Thukul untuk bergerak bersama petani, buruh, dan kaum miskin adalah kesadaran yang ia ambil sendiri.
“Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat,” tulis Munir.
Mumu Aloha, penulis dan redaktur Detik, menilai ada banyak lapisan kehidupan Wiji Thukul sehingga sisi kepenyairannya, salah satu yang paling kompleks, kurang dikaji secara serius. Ia lebih kerap dianggap aktivis ketimbang sastrawan, sehingga menenggelamkan diskusi tentang estetika puisi-puisinya. Mumu mengatakan sampai saat ini belum ada kritikus sastra yang membahas puisi Wiji Thukul dengan serius.
Salah satu dugaan mengapa estetika puisinya kurang dibahas serius karena anggapan puisi Wiji adalah puisi politik yang bicara tentang perlawanan, protes, dan pamflet.
“Pelabelan semacam itu menjadi penyakit dalam kebudayaan kita, sebab sekali seniman ditempeli label tertentu—misalnya "Rendra si Burung Merak, "Rendra si penyair pamflet"—maka hal itu mereduksi setiap upaya untuk memahami karya-karyanya,” tulis Mumu. Ini diperparah dengan pilihan pemberitaan media-media di Indonesia yang abai dan melanjutkan tradisi itu sehingga kepenyairan Wiji hanya terbatas pada peristiwa protes, bukan sastra.
Puisi-puisi Thukul memang cenderung mengabaikan kaidah estetik dan pakem. Mumu mencatat, dalam menulis puisi, Thukul memang cenderung tak peduli apa pun. Misalnya dalam segi bentuk, puisinya menabrak “aturan” tentang susunan bait, rima, metafora, pemilihan kosakata dan sebagainya. Dalam segi “aliran”, ia tak peduli apakah puisinya “surealis atau naturalis”. Ia juga menolak dijuluki sebagai penyair protes atau penyair kerakyatan.
1 dari 2
Selanjutnya
Baca juga
artikel terkait
WIJI THUKUL
atau
tulisan menarik lainnya
Arman Dhani
(tirto.id - dan/fhr)
Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Fahri Salam

