Menuju konten utama

BI Ungkap Jasa Pesantren Bantu Jaga Inflasi Berbasis Komunitas

BI sebut pesantren juga memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi berbasism komunitas.

BI Ungkap Jasa Pesantren Bantu Jaga Inflasi Berbasis Komunitas
Pondok Pesantren Lirboyo. FOTO/Lirboyo.net

tirto.id - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyebut pesantren memiliki potensi besar untuk berperan aktif dalam mendukung pengendalian inflasi, terutama dari sisi pasokan pangan. Terlebih, ada sekitar 41 ribu pesantren di Indonesia, dengan total santri mencapai 5 juta orang, yang sebagian besarnya berbasis di desa.

“Mungkin dibutuhkan pesantren lebih besar. Tentunya pesantren yang bisa mendatangkan berkah," ujarnya dalam forum bertajuk Dukungan Ekosistem Holding Business Digital Pesantren dalam Mendukung Ketahanan Pangan, di Jakarta, Jumat (10/10/2025).

"Oleh karena itu, kami sangat berharap dari pesantren yang akan mempunyai peran aktif, baik dari produksi, contoh produksi pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengolahan dan distribusi pangan, khususnya yang berbasis komunitas,” imbuh Destry.

Tak hanya itu, menurut Destry, pesantren memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem ekonomi berbasis komunitas melalui Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Habitren), yang kini membina lebih dari 1.000 pesantren di berbagai daerah.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa sektor pangan merupakan salah satu pilar utama kedaulatan negara. Presiden, kata dia, selalu menekankan pentingnya tiga ketahanan utama: pangan, energi, dan pertahanan.

Bagi BI, ketahanan pangan memiliki keterkaitan langsung dengan mandat utama bank sentral, yakni menjaga stabilitas nilai rupiah. Menurut Destry, inflasi merupakan salah satu faktor domestik yang bisa dikendalikan untuk menjaga kestabilan tersebut.

“Kalau nilai tukar banyak dipengaruhi faktor global, inflasi bisa kita kelola di dalam negeri. Karena kalau inflasi tinggi, daya beli masyarakat akan turun,” jelasnya.

Per September 2025, inflasi Indonesia tercatat sebesar 2,65 persen, masih dalam target BI di kisaran 2,5 ± 1 persen. Namun, inflasi pangan atau volatile food inflation masih tinggi di level 6,44 persen.

Penyebabnya, menurut Destry, bukan hanya beras, tetapi juga komoditas lain seperti gula, cabai, dan bawang. Padahal, banyak di antaranya dapat diproduksi di dalam negeri. Karena itu, BI mendorong kolaborasi dengan pesantren untuk memperkuat produksi pangan di tingkat lokal.

“Banyak pesantren sekarang sudah memiliki greenhouse dan menjadi pusat produksi pangan untuk wilayah sekitarnya. Ini yang akan terus kami dorong agar pesantren bisa membantu meningkatkan pasokan bahan pangan,” ujarnya.

Ia berharap, inisiatif ini dapat membantu menekan inflasi pangan secara bertahap, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Forum ini bukan hanya untuk satu hari. Akan ada tindak lanjut di tingkat regional agar kolaborasi terus berlanjut. Kami ingin pesantren menjadi bagian dari upaya berjamaah dalam membangun ekonomi yang kuat, berkah, dan berkelanjutan,” pungkas Destry.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana