Menuju konten utama

BI Optimistis Pelemahan Rupiah Tak akan Sampai ke Level Rp15.000

BI menilai penilaian lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) tentang potensi pelemahan rupiah bukan sebuah proyeksi. BI meyakini pelemahan rupiah tidak akan mencapai level Rp15.000 per dolar AS.

BI Optimistis Pelemahan Rupiah Tak akan Sampai ke Level Rp15.000
(Ilustrasi) Warga antre menukarkan uangnya di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

tirto.id - Bank Indonesia angkat bicara menanggapi pernyataan lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) bahwa pemerintah Indonesia harus berhati-hati agar nilai tukar rupiah tak mencapai level Rp15.000.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Doddy Zulverdi menilai pernyataan pihak S&P bukanlah sebuah proyeksi terhadap nilai tukar rupiah ke depan.

"Yang jelas setiap orang bisa bicara (mengomentari)," ujar Doddy di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, pada Rabu (14/3/2018).

Pernyataan lembaga rating Standard and Poor’s muncul di media pada Selasa kemarin. Direktur Senior S&P Global Ratings, Xavier Jean mengingatkan potensi nilai tukar rupiah melemah hingga level Rp15.000 per dolar AS terbuka sebab pernah terjadi pada 2015.

Saat itu, nilai rupiah merosot dari level Rp12.000 menjadi Rp15.000 hanya dalam beberapa bulan. Hal ini bisa berdampak pada kinerja perusahaan-perusahaan yang butuh valuta asing untuk operasional.

Akan tetapi, Doddy Zulverdi optimistis nilai tukar rupiah tidak akan melemah hingga ke level Rp15.000.

Dia berpendapat respon dari berbagai pihak, termasuk media, mengenai nilai tukar mata uang adalah efek psikologis pasar. Prediksi pelemahan nilai tukar rupiah dari S&P, menurut Doddy, hanya berdasar perhitungan dari aspek historis di tahun-tahun sebelumnya.

"Jadi dipandang mungkin bisa terjadi lagi. Tapi, itu bukan suatu yang akan terjadi, bukan suatu proyeksi," kata Doddy.

Dia menegaskan BI tidak melihat ada risiko yang dapat membawa nilai tukar rupiah hinggal level Rp15.000 terhadap dolar AS. Sebab, fundamental ekonomi Indonesia masih berada di kondisi aman.

Doody mencontohkan inflasi saat ini masih di bawah 3,5 persen dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2017 juga stabil di 5,07 persen.

Dia mengakui cadangan devisa Indonesia mengecil dari posisi Januari 2018 yang sebesar 131,98 miliar dolar AS. Pada Februari 2018, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 128,059 miliar dolar AS.

“Itu mencerminkan Bank Indonesia memenuhi dari dua kebutuhan, yaitu untuk melakukan stabilisasi rupiah dan penyediaan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah,” dia menambahkan.

Doddy menjelaskan BI masih melihat nilai tukar rupiah, yang berada di level sekitar Rp13.700, masih terhitung aman untuk menghadapi dampak dinamika perekonomian global.

"Kita akan jaga betul dengan dukungan otoritas lain untuk memastikan supaya nilai tukar rupiah kita stabil dan bahkan menguat daripada sekarang," kata Doddy.

Pendapat Doddy berbeda dari analisis peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara.

Bhima memprediksi rupiah berpotensi terus melemah hingga Maret mendatang. Ia memperkirakan titik terendah pelemahan nilai rupiah pada tahun ini bisa mencapai level Rp14.000 per dolar AS.

Bhima menyarankan BI menjaga nilai rupiah terendah di level Rp13.800 untuk menjaga psikologi pasar. Dia menyarankan BI mengintervensi pasar dengan cadangan devisa yang ada.

"Tapi konsekuensinya cadev (cadangan devisa) akan terkuras. Kondisi ini pernah terjadi November 2016 saat tekanan Fed rate naik, cadev terpaksa berkurang 4 miliar dolar AS agar rupiah tetap terjaga," kata Bhima kepada Tirto.

Dia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini memang tidak sebesar di tahun 2015. Namun, kondisi sekarang lebih berat ketimbang situasi pada 2016.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Addi M Idhom