Menuju konten utama

Dampak Terus Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Menurut INDEF

Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus melemah hingga Maret tahun ini.

Dampak Terus Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Menurut INDEF
Konsumen antre menukarkan mata uang asing di jasa penukaran uang asing Valuta Artha Mas ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2/2018). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

tirto.id - Nilai tukar rupiah terancam semakin melemah dengan kebijakan moneter luar negeri Amerika Serikat yang ingin menaikkan suku bunga acuan. Per Jumat (2/3/2018), nilai tukar rupiah berada di level Rp13.746 terhadap dolar. Semula suku bunga AS pada 2015 ada di kisaran 0-0,25 persen. Saat ini, sudah sampai di kisaran 1,25-1,5 persen.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan nilai tukar rupiah bisa terdepresiasi hingga level Rp14.000 terhadap dolar.

"Rupiah diprediksi akan terus melemah hingga Maret mendatang. Titik terendah pelemahan rupiah bisa mencapai Rp14.000 per dolar tahun ini," ujar Bhima kepada Tirto, Kamis (1/3/2018).

Melemahnya nilai tukar rupiah, menurut Bhima, tentu berdampak terhadap, pertama, aliran modal asing yang keluar dapat semakin tinggi. Saat ini, mencapai Rp 8,6 triliun (year to date/ytd) sejak awal 2018.

"Itu dampak dari yield treasury atau surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun loncat ke 2,9 persen tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Otomatis yield spread dengan SBN (Surat Berharga Negara) Indonesia makin sempit. Investor akhirnya mencatat penjualan bersih dan memburu surat utang AS," ungkapnya.

Kedua, daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor, menjadi melemah. Lantaran, beberapa sektor industri bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

"Kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik ujungnya harga barang jadi lebih mahal. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan, maka pengaruh ke profit ke pengusaha juga dapat semakin rendah," terangnya.

Risiko berikutnya adalah beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri pemerintah maupun korporasi makin besar. Risiko gagal bayar apalagi utang swasta yang belum dilindung nilai (hedging) akan naik.

Terakhir, Indonesia sebagai negara net importir minyak mentah sangat sensitif terhadap pergerakan dolar. Tercatat impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari, karena produksi dalam negeri tak mencukupi konsumsi BBM.

"Jika dolar menguat terhadap rupiah, harga BBM akan tertekan baik yang subsidi maupun non-subsidi. Efeknya penyesuaian harga BBM berbagai jenis diprediksi akan terus dilakukan," ucap Bhima.

Per 24 Februari kemarin, PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga BBM non-subsidi berkisar rata-rata Rp100-300 per liter, di semua wilayah. Sebelum kenaikan tersebut terjadi, harga acuan minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) telah naik terlebih dahulu.

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan, dari hasil perhitungan Formula ICP, harga rata-rata ICP Januari 2018 mencapai USD 65,59 per barel, naik sebesar USD 4,69 per barel dari USD 60,90 per barel pada Desember 2017.

Kemudian pada Februari, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas, Ego Syahrial menyatakan bahwa ICP telah turun dari Januari, yaitu menjadi USD 61,61 per barel. Namun, harga ICP saat ini lebih tinggi dari patokan APBN 2018, yang sebesar USD 48 per barel.

Oleh karena itu, pihaknya mencanangkan untuk melakukan perhitungan kembali terhadap patokan ICP dan alokasi subsidi energi untuk APBN-P 2018.

Dalam APBN 2018, pemerintah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp94,55 triliun. Dari angka itu, subsidi BBM dan LPG 3 kilogram sebesar Rp46,86 triliun dan subsidi listrik Rp47,66 triliun.

-------------------

Ralat

Pada paragraf terakhir berita tersebut sebelumnya tertulis:

Dalam APBN 2018, pemerintah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp94,55 triliun. Dari angka itu, subsidi BBM dan LPG 3 kilogram sebesar Rp46,86 triliun dan subsidi listrik Rp52,66 triliun.

Paragraf tersebut kami ralat, sebab data yang benar adalah subsidi listrik sebesar Rp47,66 triliun bukan Rp52,66 triliun.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Dipna Videlia Putsanra