tirto.id - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengklaim kasus keracunan makanan yang terjadi di masyarakat sudah tinggi sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini diungkapnya dalam Talkshow bertajuk "Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa melalui MBG" disaksikan melalui akun YouTube BGN, Kamis (23/10/2025).
Mulanya, Nanik menyinggung soal buruknya sanitasi di berbagai wilayah yang kerap menjadi persoalan utama pada kesehatan masyarakat.
“Saya juga ingin sampaikan bahwa persoalan kita memang terutama itu sanitasi yang memang buruk,” kata Nanik.
Nanin menyinggung data yang diperolehnya dari Kemenkes terkait dengan angka keracunan makanan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan MBG bukan menjadi penyumbang terbanyak kasus keracunan.
“Data dari Kemenkes mungkin belum bisa diakses di Kemenkes. Sebelum ada MBG, keracunan akibat makanan, bukan karena MBG, itu meningkat luar biasa, sampai tahun 2024 itu jumlahnya hampir sama dengan jumlah yang disebabkan oleh karena MBG,” ucap Nanik.
“Jadi, nah ini yang membuat kemudian makin parah, karena tidak ada MBG saja sudah meningkat, sekitar [berapa] ribu atau berapa gitu ya, Pak ya, di tahun 2024. Nah ditambah lagi dengan adanya MBG, inilah kemudian menjadi besar,” sambung Nanik.
Ia mencontohkan kasus keracunan di beberapa daerah yang bukan disebabkan karena MBG, tetapi karena konsumsi di luar program, seperti di kantin sekolah.
“Jadi, inilah yang kita juga harus memang hati-hati, karena memang sanitasinya jelek,” tutur Nanik.
Nanik menyebut keracunan MBG di Bandung Barat yang terjadi dipicu masalah air. Menurut data Departemen Kesehatan yang dikutipnya, sekitar 72 persen kasus keracunan di wilayah Bandung Barat disebabkan oleh air yang terkontaminasi.
“Kenapa sih kok bolak-balik terjadi di Bandung Barat? Ternyata kalau dari hasil lab, itu dari 72% itu kalau menurut Depkes itu dari air, salah air. Kenapa Bandung Barat? Mungkin ya, itu karena di sana itu kan pembuangan sampah itu dari Bandung kan mengumpul di Bandung Barat,” katanya.
Oleh karena itu, Nanik mengatakan pihaknya mewajibkan proses masak MBG menggunakan air galon. Hal ini katanya, bersifat sementara hingga air yang digunakan dipastikan berkualitas.
“Sementara sebelum mereka mempunyai air yang dipastikan mempunyai kualitas atau mereka membangun fasilitas air yang berfilter, pakai ultraviolet yang seperti itu yang kira-kira kualitasnya sama dengan air mineral,” pungkas Nanik.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































