Berita soal Jual Beli Ijazah Bodong: Hak Jawab dari STIE ISM

Oleh: Redaksi - 1 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bobby Reza, Ketua STIE ISM, mengklarifikasi bagian-bagian artikel yang diterbitkan Tirto soal skandal jual beli ijazah bodong.
tirto.id - Berikut hak jawab dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia School of Management:

Kami sangat terkejut dengan pemberitaan Tirto pada 26 November 2018 yang begitu piawai menyusun kalimat per kalimat sehingga dapat menggiring opini publik terhadap kampus yang saya kelola dengan serius dan profesional.

Kami adalah perguruan tinggi di daerah pinggiran Jakarta yang berupaya secara terbaik menawarkan kuliah dengan biaya murah, di gedung yang representatif dan nyaman, serta difasilitasi oleh dosen yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Klarifikasi soal Upaya Menyuap

Wartawan Anda menulis bahwa kami berniat menyogok dan memberikan proyek. Padahal pertemuan di pagi hari di salah satu kafe itu dilaksanakan di bilangan Senayan, Jakarta pusat, dekat gedung Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, sebelum kami memenuhi undangan Biro Hukum dan Organisasi Kementerian. [Baca artikel ini pada sub judul "berusaha menyuap"]

Pada pertemuan itu, kami berusaha menjelaskan kedatangan kami ke Kementerian untuk memenuhi undangan Biro Hukum dan Organisasi guna menjelaskan semua permasalahan yang pernah membelit kami pada 2014.

Saya menjelaskan bahwa kami sudah banyak melakukan perbaikan. Perbaikan itu yang kami akan sampaikan dalam undangan yang kami terima. Belajar dari tahun 2014, komitmen kami adalah memberikan pendidikan yang baik sebagai keharusan dan dijalankan sesuai koridornya.

Saat itu, kami memberikan ajakan kepada wartawan Anda untuk datang dan melihat proses pendidikan kami di Tigaraksa, kampus pusat STIE ISM. Saat itu ditimpali oleh rekan kami, saudara Bambang Librianto, bahwa silakan kita bekerja sama, ada banyak kegiatan positif yang bisa diliput, ada banyak “proyek” yang bisa kita kerjakan bersama.

Terminologi “proyek” dalam hal ini adalah liputan media untuk semua kegiatan kampus.

Setelah wawancara, rekan kami berinisiatif memberikan uang transportasi kepada wartawan Anda. Hubungan kami dengan media cukup dekat dan cukup baik adalah hal biasa. Tujuan kami untuk mengganti biaya transportasi.

Anda bayangkan saja, masak Rp300.000 tidak dimasukkan ke dalam amplop adalah sogokan?

Kalaupun itu sogokan, betapa murahnya harga diri wartawan Anda, terpikirkan pun tidak.

Buat kami untuk menyogok wartawan Anda, tidak ada suatu alasan apa pun yang membuat kami harus menyogok karena wartawan Anda datang dengan niat baik dan membuat janji dengan sopan.

Mulanya kami pandang positif bahwa wartawan Anda memiliki integritas, tapi setelah kami membaca pemberitaan dan tertulis kami berniat menyogok, kami meragukan niat tulus Anda sebagai media untuk memperbaiki sistem yang ada.

Klarifikasi soal lokasi kampus

Perkuliahan STIE ISM hanya terpusat di Komplek Perumahan Sudirman Indah, Kav. 1, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Dalam hal ini tidak ada perkuliahan di tempat selain STIE ISM. Brosur yang tercetak menampilkan semua kampus yang menjadi sister kampus STIE ISM.

Untuk menuju pembentukan Universitas Pelita Bangsa, kami sudah menyiapkan brosur dengan istilah kampus Cikokol, Kampus Tigaraksa, akan tetapi sebelum izin Universitas Pelita Bangsa turun, kami tidak mencampuradukkan kampus, yang jadi tempat kuliah mahasiswa baik dari Program Studi Manajemen Strata 1 dan Program Pascasarjana Magister Manajemen Strata 2 STIE ISM, berkuliah di Tigaraksa.

[Baca artikel ini pada bagian pembuka]
[Baca juga artikel mengenai aktivitas kuliah di STIE ISM]

Klarifikasi soal Memakai Dosen dari Luar

Kami menggunakan dosen dari luar seperti ditulis oleh wartawan Anda, sepenuhnya tidak benar.

Anda menulis ada dosen bernama Trison Jaya dan Zalzulifa dan mereka diperintah oleh Bapak Mardiyana. Kami sudah menelusuri hal ini: tidak ada instruksi dari Bapak Mardiyana kepada dosen tersebut untuk menguji.

STIE ISM tidak pernah melakukan ujian skripsi atau tesis di luar kampus utama. Ujian dilaksanakan sepenuhnya di kampus STIE ISM, Tigaraksa.

STIE ISM dapat saja mengundang dosen tamu untuk menjadi penguji sidang tesis dengan persyaratan dosen tersebut memiliki kompetensi yang sesuai topik penelitian mahasiswa. Dosen itu juga adalah dosen paruh waktu yang kami miliki atau pernah mengajar di STIE ISM Tigaraksa.

Berita Acara Sidang merupakan bukti yang bisa dilihat dan menjadi dasar untuk memberitakan hal ini kepada publik. Kami merasa bahwa wartawan Anda secara sepihak telah menghakimi kami tanpa melihat bukti-bukti yang kuat bahwa STIE ISM telah menggunakan dosen luar untuk melaksanakan ujian skripsi atau tesis.

[Baca artikel ini pada sub judul "memakai dosen luar"]

Klarifikasi soal Tesis

Tesis atas nama Arifudin, Eko Agus Santoso, I Wayan Bodan, AA Gede Waisnama Putra, Juju Jumardi, dan Bakir yang diberitakan oleh wartawan Anda sebagai tesis yang tidak jelas oleh Tim EKA Dikti, kami sudah mempersiapkan penjelasan kami sesuai undangan via WhatsApp dari Biro Hukum dan Organisasi Kemenristekdikti.

Akan tetapi, setelah pemberitaan yang ditulis oleh wartawan Anda, kami tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan kembali di Kementerian mengenai duduk perkara yang sebenarnya. [Baca artikel ini pada sub judul "skripsi jiplakan dan tesis tanpa tanggal"]

Yang terjadi sebenarnya: mahasiswa tersebut memberikan tesisnya dan setelah diperiksa salinannya, belum ditandatangani oleh dosen pembimbing dan penguji. Temuan ini langsung kami infokan ke mahasiswa tersebut untuk segera menghadap tim penguji dan pembimbing. Adalah hal biasa ketika mahasiswa terburu-buru mengumpulkan salinan (hard copy) tanpa melihat kelengkapan.

Undangan yang diberikan kepada kami dari Biro Hukum dan Organisasi Kementerian adalah upaya pemangku kebijakan untuk melihat dan mengkaji serta memperbaiki sistem pendidikan di STIE ISM. Tujuannya, ke depan tidak timbul permasalahan baru setelah menjadi universitas.

Di mana letak kesalahannya bila perguruan tinggi di pinggiran Jakarta (60 km dari Jakarta), ketika banyak anak Indonesia di pinggiran Jakarta mendambakan pendidikan tinggi menjadi seorang sarjana, untuk bergabung menjadi Universitas dan menjadi besar, menjadi lebih baik dan menjadi lebih hebat untuk Indonesia yang lebih hebat?

Di mana juga letak kesalahannya apabila pemangku kebijakan ikut turun tangan membereskan hal-hal yang belum beres, mengarahkan kami menjadi lebih baik dan mengingatkan kami?

Bila setiap tindakan positif pemangku kebijakan selalu dikaitkan dengan sogokan, nepotisme dan kolusi, bila itu kesalahan besar, maka kami yakin pendidikan tinggi di Indonesia akan jalan di tempat dan tidak akan memberikan kontribusi yang positif dan signifikan kepada Indonesia.

[Baca artikel ini pada sub judul "anehnya: meningkat jadi universitas"]


Saat ini STIE ISM berbenah dengan menambah jumlah dosen yang memiliki kompetensi di manajemen bisnis, baik pada program strata 1 dan strata 2, meningkatkan sarana dan prasarana, merekrut profesional-profesional untuk mengelola kampus menjadi lebih baik. Hal ini komitmen Yayasan.

Lets By Gone Be By Gone.

Semua hal yang dilakukan untuk menjadi lebih baik dan lebih hebat membutuhkan proses dan bantuan semua pihak serta koreksi semua pihak. Seperti kami di STIE ISM yang selalu terus memperbaiki diri secara kualitas dan kuantitas, kami membutuhkan arahan dan bimbingan dari pemangku kebijakan baik L2DIKTI (Lembaga Layananan Pendikan Tinggi) wilayah IV (Jawa Barat dan Banten), BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), APTISI (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia), dan Kemenristekdikti.

Akan tetapi, bila arahan dan bimbingan tersebut disalahartikan dengan kolusi dan nepotisme, maka sudah pasti bukan cuma kami saja yang tidak bisa memperbaiki diri, tapi ada ribuan kampus di seluruh Indonesia, terutama di pinggiran kota besar dan pelosok, yang tidak bisa menjadi pelopor untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

Bila Anda berpikiran bahwa kampus bermasalah menjadi lebih baik lagi adalah kesalahan dan dipandang menjadi keanehan, sebuah ketidakbenaran, dan seharusnya pemangku kebijakan mematikannya, maka sesungguhnya Anda salah besar.

Sekali waktu, Anda bersama tim Anda berkunjung ke pelosok Indonesia untuk melihat betapa kami dan banyak perguruan tinggi swasta berjuang dengan segala keterbatasan untuk menjadi besar dan kuat, minim bantuan pemerintah. Ada baiknya Anda menulis dan menyelami arti perjuangan kami, pengelola pendidikan tinggi dan dosen, dalam mencerdaskan anak bangsa dengan honor dan segala keterbatasan yang kami terima.

Kami bangga menjadi bagian dari proses mencerdaskan anak bangsa dengan segala keterbatasan. Pendidikan adalah proses. Proses menjadi lebih baik. Dan tidak ada kampus di Indonesia yang tidak berniat untuk menjadi lebih baik.

Demikianlah komentar kami.

Tigaraksa, 28 November 2018

Dr. Bobby Reza, S. Kom, MM
Ketua STIE ISM

Baca juga artikel terkait HAK JAWAB atau tulisan menarik lainnya Redaksi
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: Redaksi
Editor: Redaksi
Artikel Lanjutan