Menuju konten utama
Seri Dana Pensiun 3

Berapa Dana Pensiun yang Cukup?

Padahal, semua orang berharap tetap sejahtera setelah pensiun. Memimpikan masa pensiun yang indah. Kenyataannya, tunjangan pensiun yang didapatkan jauh lebih kecil ketimbang penghasilan ketika masa produktif.

Berapa Dana Pensiun yang Cukup?
Ilustrasi perencanaan dana pensiun. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Hadirnya BPJS Ketenagakerjaan memang semakin membuka kesadaran pentingnya mempersiapkan dana pensiun. Terjadi peningkatan kesadaran dan literasi, terlihat dari hasil survei Otoritas Jasa Keuangan pada tahun 2016 dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya. Tetapi, peningkatan tersebut belumlah mencukupi.

Dari data yang ada hanya sebagian kecil dari pekerja formal yang turut serta dalam program pensiun. Apalagi pekerja informal, mungkin sama sekali belum terlintas dalam pikiran mereka tentang persiapan pensiun ini. Tidak heran jika Otoritas Jasa Keuangan mendorong pemahaman tentang pensiun dengan menggelar serangkaian acara Pension Day sepanjang tahun ini.

Dari mereka yang turut serta dalam program pensiun, belum tentu juga program pensiun tersebut mencukupi kebutuhannya ketika pensiun kelak. “Struktur gaji kita agak aneh, gaji pokok kecil, sementara tunjangan besar, ketika pensiun mendapat penghasilan yang sangat kecil. Ada baiknya struktur seperti ini diubah,” kata Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Firdaus Djaelani ketika mencanangkan Pension Day di Jakarta akhir April lalu.

Apa dampak struktur gaji seperti itu? Ketika sudah tidak produktif akan terasa sekali perbedaan pendapatan, karena segala macam tunjangan akan dihapus ketika seseorang pensiun. Selain itu, dengan gaji pokok yang sebenarnya jauh lebih kecil ketimbang pendapatan total termasuk tunjangan, dasar perhitungan dana pensiun pun kecil pula. Ada selisih besar antara pendapatan dengan dana pensiun yang diterima.

Padahal, pengeluaran ketika pensiun tidak banyak berubah. “Biaya hidup setelah pensiun hanya turun menjadi 94 persen saja, penurunannya tidak signifikan,” kata Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja.

Padahal, semua orang berharap tetap sejahtera setelah pensiun. Memimpikan masa pensiun yang indah. Kenyataannya, tunjangan pensiun yang didapatkan jauh lebih kecil ketimbang penghasilan ketika masa produktif.

Tunjangan pensiun publik seperti BPJS Ketenagakerjaan dan tunjangan pensiun perusahaan biasanya tidak dapat menutupi kebutuhan setelah pensiun. Direktur SDM dan UMUM BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz memberikan gambaran, dengan penghasilan Rp3 juta per bulan, setelah membayar iuran selama 15 tahun manfaat pensiun yang diterima sekitar Rp1,5 juta per bulan. Hanya 50% penghasilan yang diperoleh dari tunjangan pensiun publik tersebut.

Persiapan Mandiri

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mendapatkan masa pensiun nyaman adalah dengan mempersiapkan dana pensiun sendiri. Tunjangan dana pensiun publik seperti BPJS Ketenagakerjaan, tunjangan dana pensiun perusahaan belum tentu cukup untuk membiayai masa pensiun kelak.

Kebutuhan orang ketika pensiun berbeda-beda. Ada yang anaknya semua sudah selesai sekolah ketika orang tua pensiun, sehingga orang tua tidak ada lagi beban untuk membayar biaya pendidikan. Ada pula yang anaknya masih memerlukan biaya pendidikan lumayan besar ketika orang tua pensiun. Ada pula yang sudah memiliki aset yang dapat memberikan penghasilan sehingga pada masa pensiun tinggal memetik hasilnya.

Untuk mencapai pensiun nyaman, persiapan sejak dini perlu dilakukan dengan perhitungan saksama, evaluasi setiap tahun dan penggunaan instrumen yang tepat. Persiapan pensiun mandiri, melengkapi fasilitas tunjangan pensiun publik maupun dari perusahaan. Malah, bisa jadi persiapan pensiun mandiri ini memberikan kontribusi paling besar untuk mendapatkan pensiun nyaman.

Persiapan pensiun mandiri dapat dimulai sejak dini, bahkan ketika kita mulai bekerja untuk pertama kalinya. Semakin lama persiapan semakin baik. Misalnya saja, seorang first jobber berusia 25 tahun mendapatkan gaji pertama sebesar Rp3 juta. Dengan asumsi inflasi sebesar 5% per tahun, gaji sebesar Rp3 juta setara dengan Rp13 juta pada 30 tahun yang akan datang ketika dia pensiun, dengan asumsi tidak ada kenaikan gaji.

Asumsi lainnya, setelah pensiun pada usia 55, hidupnya masih akan berlangsung hingga usia 75. Artinya ada masa pensiun 20 tahun yang harus dibiayai. Pertanyaannya, berapa dana pensiun yang harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pada masa pensiun tersebut?

Ketika memasuki pensiun, diharapkan gaya hidup tidak terlalu berubah. Sehingga kebutuhan setelah pensiun pun tetap pada kisaran Rp13 juta per bulan. Maklumlah, ketika pensiun salah satu pengeluaran besar adalah sektor kesehatan. Semakin tua, semakin banyak penyakit yang mengintai dan biaya kesehatan pun semakin besar.

Dengan kebutuhan Rp13 juta per bulan, berarti selama 20 tahun diperlukan biaya sebesar Rp3,1 miliar. Apakah mungkin untuk mendapatkan dana pensiun sebesar itu?

Mengapa tidak? Dana pensiun sebesar Rp3,1 miliar itu dapat dicicil dengan hanya Rp250.000 saja per bulan selama masa produktif yaitu 30 tahun. Asumsinya, selama satu tahun imbal hasil yang didapatkan 17,5%. Jika imbal hasil sebesar 10%, tiap bulan harus ditabung dana sebesar Rp1,3 juta selama 30 tahun.

Imbal hasil 10-15% bisa didapatkan dari dana yang diinvestasikan pada produk investasi di pasar modal seperti reksa dana atau saham. Reksa dana saham atau saham memang memiliki volatilitas tinggi, tetapi dalam jangka panjang, menjanjikan hasil yang tinggi pula. Dana persiapan pensiun tidak akan berkembang baik jika hanya ditempatkan pada produk perbankan seperti tabungan yang imbal hasilnya kecil.

Infografik Berapa Dana Pensiun Yang cukup

Bagaimana jika mempersiapkan dana pensiun dengan target sama, Rp3,1 miliar pada usia 40 tahun? Masa yang tersisa 15 tahun, sehingga dalam satu bulan dana yang harus disisihkan Rp3,5 juta dengan asumsi imbal hasil yang sama, 17,5%. Besar sekali bedanya.

Itu baru memperhitungkan gaji terakhir sebesar Rp13 juta saja. Bagaimana dengan asumsi gaji terakhir Rp30 juta dan ingin dipertahankan ketika pensiun? Dengan asumsi imbal hasil 17,5%, tabungan dana pensiun yang diperlukan dalam sebulan Rp 570.000 selama 30 tahun. Kalau waktu tersisa hanya 15 tahun, setiap bulan diperlukan Rp8,3 juta dengan asumsi imbal hasil sama. Jika aset hanya berkembang 10 persen, dana bulanan yang harus disediakan lebih besar lagi, Rp18 juta per bulan.

Ada dua hal yang penting dalam mempersiapkan dana jangka panjang ini. Pertama adalah asumsi imbal hasil dan jangka waktu. Semakin tinggi asumsi imbal hasil, semakin kecil dana yang harus disisihkan setiap bulan. Demikian pula dengan jangka waktu. Semakin panjang jangka waktu yang tersisa, semakin tinggi asumsi imbal hasil. Kelas aset saham memang berfluktuasi tinggi dalam jangka pendek tetapi dalam jangka panjang, imbal hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelas aset lainnya. Untuk menghindari kerugian, sebagian uang yang sudah dikumpulkan dapat dipindahkan kelas aset yang lebih rendah volatilitasnya seperti pasar uang atau pasar surat utang,

Dana pensiun ini bukanlah rencana yang tidak dapat dirancang ulang. Ada baiknya melakukan evaluasi setidaknya satu tahun satu kali karena perubahan beberapa asumsi seperti perubahan gaji, keadaan keluarga misalnya penambahan anak dan perubahan lainnya.

Mari kita menyongsong masa pensiun yang cerah dengan mempersiapkan dana pensiun sejak dini.

Baca artikel lain terkait dana pensiun:

Mengenal Industri Dana Pensiun

Tua Merana Tanpa Persiapan Pensiun

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Yan Chandra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Yan Chandra & Damianus Andreas
Penulis: Yan Chandra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti