tirto.id - Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz akibat serangan AS dan Israel ke negaranya sejak akhir Februari lalu yang membuat dunia berada dalam kekhawatiran krisis minyak. Benarkah stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia hanya cukup untuk 20 hari?
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terjadi di kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi minyak dunia. Selat Hormuz adalah salah satu jalur terpenting karena menjadi tempat lewatnya sekitar 20% perdagangan minyak global.
Ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran memengaruhi perdagangan dan distribusi minyak global yang membuat harga minyak dunia melambung namun juga mengancam ketersediaan BBM di banyak negara, benarkah Indonesia terdampak?
Apakah Stok BBM Indonesia Hanya Cukup 20 Hari?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi aman.
Saat ini cadangan BBM nasional berada di kisaran 23 hari, yang berarti sudah berada di atas standar minimal cadangan nasional yang biasanya berkisar 20–23 hari.
Namun, pemerintah mengakui bahwa kemampuan Indonesia untuk menyimpan BBM masih terbatas, karena kapasitas tempat penyimpanan (storage) yang ada hanya mampu menampung cadangan maksimal sekitar 25 hari.
“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sudah sejak lama hanya maksimal di 25 hari, maksimal. Sehingga cadangan nasional kita itu minimal 20 sampai 23 hari. Sekarang BBM kita itu sudah 23 hari. Jadi sudah di atas standar minimal cadangan nasional yang sebagaimana lazimnya,” ujar Bahlil dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara, Kamis (5/3/2026).
Bahlil mengatakan keterbatasan kapasitas penyimpanan ini menjadi salah satu masalah utama yang perlu segera diperbaiki. Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan jajarannya untuk segera membangun fasilitas penyimpanan BBM baru agar cadangan energi nasional bisa diperbesar.
Menurutnya, selama ini pemerintah sebenarnya tidak kesulitan mendapatkan pasokan minyak, tetapi kendalanya adalah keterbatasan tempat untuk menyimpannya. Dengan pembangunan fasilitas penyimpanan baru, pemerintah menargetkan cadangan energi Indonesia ke depan bisa mencapai sekitar tiga bulan.
“Jadi kita tidak bisa, katakan lah, teman-teman menganggap harus Pak kita stok 60 hari. Mau isi taruh di mana? Kita tidak punya storage. Makanya sekarang arahan Bapak Presiden segera kita membangun storage. Jadi bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak?” lanjutnya.
Pemerintah saat ini juga sedang menyiapkan beberapa pilihan lokasi untuk pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut, dan salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah wilayah Sumatra.
Selain itu, pemerintah juga memantau perkembangan konflik global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia. Meski demikian, Bahlil memastikan bahwa pasokan energi Indonesia saat ini masih aman dan diperkirakan tidak akan terganggu dalam satu hingga dua bulan ke depan.
“Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu. Tapi ke depan kan pasti kalau perangnya lama pasti akan berdampak. Itu sudah pasti. Sampai dengan 1-2 bulan ke depan insyaallah kita masih clear. Insyaallah tidak ada masalah,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan di masa depan, pemerintah juga melakukan langkah mitigasi, salah satunya dengan mendiversifikasi sumber impor energi.
Misalnya, impor bensin Indonesia sebagian besar berasal dari kawasan Asia Tenggara, bukan dari Timur Tengah. Untuk pasokan LPG juga disebut masih dalam kondisi stabil, sehingga secara keseluruhan pasokan energi nasional dinilai masih aman untuk saat ini.
“Jadi kalau menyangkut LPG enggak ada masalah. Jadi relatif clear lah. Kalau menyangkut BBM yang kita impor kan tinggal bensin. Dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East. Jadi relatif insyaallah clear,” simpulnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































