Menuju konten utama

Belajar Sampai Negeri Cina: Pelajaran Bagi Indonesia

Bagaimana kebijakan gradualisme membawa Cina bangkit pasca-Mao? Simak pelajaran penting uji coba kebijakan bertahap ini untuk Indonesia.

Belajar Sampai Negeri Cina: Pelajaran Bagi Indonesia
Header Perspektif Belajar Sampai ke Negeri China. tirto.id/Parkodi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Siapa sangka Cina yang dulu sempat terpuruk di era Mao Zedong, kini bangkit menjadi raksasa baru.

Saat ini, Cina mulai menyejajarkan diri dengan negara-negara besar lainnya. Seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

Pernyataan Napoleon sering diulang-ulang untuk menggambarkan fenomena ini: “Let China sleep, for when she wakes, she will shake the world” (Mahbubani, 2020).

Kebangkitan Cina telah menggemparkan dunia, khususnya dunia Eropa dan Amerika. Pengaruh ekonominya yang luar biasa, kecakapannya dalam teknologi, hingga perusahaan-perusahaan multi-nasionalnya telah menyebar dan menguasai pasar global.

Pengembangan robot di Guangzhou

Insinyur menguji coba robot untuk keperluan industri di Guangdong Power Grid Robotics Laboratory, Guangzhou, Guangdong, China, Kamis (16/4/2026). Guangdong Power Grid Robotics Laboratory yang merupakan anak perusahaan listrik negara China Southern Power Grid tersebut fokus untuk mengembangkan robot yang dapat menggantikan manusia dalam penanganan pekerjaan berbahaya seperti saat berada di ketinggian, penanggulangan bencana alam hingga pengoperasian jaringan listik. ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/nym.

Padahal raksasa ini sempat babak belur dalam kurun waktu cukup lama. Persoalan domestik, mulai dari perang saudara hingga korupsi serta kemiskinan, sempat menyebabkan negeri Tiongkok ini lunglai tak berkutik.

Tapi kini, era baru Cina telah datang. Cina membuktikan satu hal: takdir bisa diubah dan progresivitas negara bisa dicapai melalui tekad dan kebijakan yang hati-hati. Momen itu dimulai sejak era Deng Xiaoping.

Di masa Deng, dari pengalaman buruk masa lalu yang pernah menimpa Cina sejak era kedinastian hingga periode modern tidak lalu membuatnya menutup mata atas kebobrokan yang terjadi dari dalam (koreksi diri). Cina belajar dari masa lalu dan mengambil ibrah bagi masa depan.

Cina juga tidak malu untuk belajar dari kesukesan negara besar lainnya. Banyak pengalaman pembangunan negara luar yang dijadikan bahan inspirasi oleh Cina. Belajar dari pengalaman sendiri dan belajar dari kesuksesan pihak luar adalah dua elemen kunci keberhasilan Cina era sekarang.

Bagi Cina, pelajaran bisa diambil dari siapapun, termasuk musuh ideologis. Tidak ada nilai yang perlu dihindari selagi bisa memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyatnya. Pragmatisme menjadi kompas penunjuk arah kebijakan Cina.

Sementara gradualisme (pelan dan bertahap) adalah panduan teknis penerapan kebijakannya. Jika pragmatisme Cina sudah banyak ditulis, kali ini kita akan fokus pada pentingnya kebijakan gradual dan apa yang bisa Indonesia dapatkan dari gradualisme semacam ini.

Kebijakan Gradual Cina

Benar, tidak semua yang dipelajari Cina dari luar ia telan mentah-mentah. Menyisakan sedikit ruang bagi keraguan, penting sebagai pengingat bahwa resep dan dosis kebijakan di setiap negara tidaklah sama.

Cina selalu mempertimbangkan kompatibilitas metode yang ditempuh negara lain dengan kondisi lokal.

Tidak semua nilai dari pihak lain diterima apa adanya, namun diuji perlahan sambil merasakan dampaknya sedikit demi sedikit bagi pembangunan domestik. Jika cocok dan berhasil, maka kebijakan tersebut dilanjutkan. Jika gagal, maka dihentikan atau terus diinovasi.

Ilustrasi Mozaik Deng Xiaoping

Ilustrasi Deng Xiaoping. tirto.id/Gery

Deng percaya satu hal: implementasi kebijakan apa pun harus dimulai dengan cara bertahap, tidak spontan. Pernyataannya yang terkenal “Crossing the river by stepping from stone to stone” menjadi mantra bagi model pembangunan Cina hingga hari ini.

Kebijakan pembangunan revolusioner yang spontan, serentak, terburu-buru, dan gagal, sebagaimana yang pernah diterapkan di periode Mao, yang terkenal dengan sebutan Great Leap Forward telah memberikan lecutan sekaligus renungan bagi Deng.

Menerapkan kebijakan ibarat mencicipi resep masakan sececap demi sececap dan terus menerus merevisi kekurangan yang ada sebelum benar-benar menyajikan hidangan final kepada khalayak. Dalam penerapan yang terburu-buru dan spontan, formulasi kebijakan seringkali menjauhi proses riset mendalam, di mana keputusan akhirnya diambil tanpa mempertimbangkan atau melewatkan (tanpa sengaja) banyak aspek.

Kebijakan yang berintensi baik saja tidak cukup. Kebijakan harus diimbangi perhitungan rasional agar tidak berakhir sia-sia.

Inilah yang membuat Cina tidak gegabah dan dewasa. Cina amat hati-hati dan detail mempertimbangkan dampak resiko, untung-rugi, dari setiap kebijakan yang hendak dijalankan. Dengan cara hati-hati, kegagalan bisa dicegah di tengah jalan. Dengan tanpa terburu-buru, kerugian bisa diperkecil seminim mungkin.

Intinya, identifikasi atas kelemahan bisa dideteksi sedini mungkin sambil berjalan sehingga sistem sosial tidak terdisrupsi dengan tiba-tiba dan menyebabkan krisis besar. Gradual dan hati-hati merupakan kunci Cina dalam mengarungi dunia pasca Mao.

Kebijakan yang bertahap dan uji coba terbatas karenanya merupakan dua pedoman yang Cina selalu praktikkan sebelum kebijakan diadopsi dan diterapkan secara masif (Shixiong Cao, 2012). Keberhasilan sebuah kebijakan terletak pada keterujian, penerimaan publik, dan keberlanjutannya, bukan sekadar pada ekspansi dan eskalasinya dalam waktu cepat.

Uji Coba Perubahan Kebijakan Secara Terbatas

Satu contoh paling awal penerapan kebijakan gradual Cina adalah implementasi sistem pasar terbatas. Saat di bawah Deng, Cina tidak langsung menerapkan sistem pasar di seluruh wilayah. Hanya ada empat kota yang menjadi uji coba laboratorium kapitalisme awal Cina: Xiamen, Shantou, Shenzen, dan Zhuhai.

Praktik ekonomi pasar bukan hanya masih asing, namun Cina sengaja menyimpan keraguan apakah sistem ini cocok dengan kultur lokal. Menerapkan kebijakan yang telah (benar-benar) berhasil di satu tempat bukan berarti kebijakan yang sama pasti akan berhasil di tempat lain.

Struktur sosial, ekonomi, politik, serta kondisi budaya merupakan beberapa hal yang juga patut diperhitungkan. Tidak semua wilayah di Cina memiliki karakter yang sama sehingga tantangan dan rintangan di dalamnya sudah tentu berbeda.

Setiap lokasi, menurut catatan Cao (2012), memiliki keunikan tersendiri yang perlu didekati dengan metode yang sesuai agar resistensi terhadap sesuatu yang dianggap baru bisa diredam. Pasalnya, dengan cara bertahap dan hati-hati, Cina bukan hanya memiliki waktu untuk mempelajari pendekatan yang lebih sesuai dan ramah terhadap kepentingan setempat (elite dan masyarakat lokal), namun juga mampu mengoreksi kelemahan serta mengatasi tantangan yang muncul dengan lebih bijak.

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Xi Jinping

Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) saat pertemuan di Balai Besar Rakyat, Beijing, China, Rabu (3/9/2025). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/rwa.

Saat suatu kebijakan uji coba teruji dan berhasil, baru ekspansi bisa dilakukan. Manfaat lainnya, uji coba yang sukses di satu tempat akan semakin memperkecil perlawanan kelompok konservatif yang anti terhadap perubahan dan eksperimen-eksperimen kebijakan baru di tempat yang lain.

Gradualisme, bagaimana pun, telah menjadi filosofi pembangunan Cina hingga kini.

Pelajaran bagi Indonesia

Pengalaman Cina tentu dapat menjadi panduan berharga bagi arah kebijakan dan pembangunan Indonesia. Memperhitungkan kebijakan dan pembangunan dengan hati-hati merupakan karakter bangsa dewasa. Bangsa tersebut artinya telah matang dalam bersikap.

Perencanaan kebijakan karena itu seharusnya tidak didasari pertimbangan sempit jangka pendek, namun jangka panjang dan berkelanjutan. Pemimpin tidak bisa memaksakan kebijakan tertentu hanya karena ingin dikenang atas warisan politik mercusuarnya.

Pemimpin tidak bisa hanya mengedepankan aspirasi pribadi tanpa mendengarkan masukan dari berbagai kalangan.

Proses perumusan kebijakan harus menggabungkan aspek ilmiah para ahli (analisis perhitungan risiko, dampak jangka panjang, keberlanjutan, dsb) dengan aspirasi publik secara keseluruhan. Publik adalah hakim terakhir dari kebijakan yang hendak diputuskan.

Memaksakan kebijakan tertentu tanpa perhitungan matang dalam konteks Indonesia, sama bahayanya dengan konteks Cina yang pernah mengalami sejarah panjang perang sipil.

Di lapangan, Indonesia juga berhadapan dengan kompleksitas budaya serta lanskap wilayah yang rumit. Keragaman budaya yang melebihi kondisi Cina, dan lanskap geografis yang juga lebih kompleks, semestinya membuat Indonesia memegang prinsip gradual dan hati-hati.

Tantangan yang Indonesia hadapi tidak bisa dianggap remeh. Perencanaan harus dilakukan dengan cermat dan sesuai dengan urgensi lokal.

Dengan cara bertahap dan uji coba (sedikit demi sedikit) paling tidak itu akan memberikan Indonesia waktu untuk menghasilkan kebijakan yang benar-benar ideal bukan hanya untuk saat ini namun masa depan.

Ukuran kebijakan yang baik adalah kebijakan yang diakui manfaatnya oleh semua, bukan klaim pemimpin semata. Saat rakyat merasakan manfaatnya, kebijakan yang baik tentu akan terus dipertahankan.

Tatkala kebijakan dipandang buruk, ia akan ditinggalkan. Kebijakan-kebijakan yang mangkrak adalah contoh kebijakan gagal. Dan kita sudah punya banyak contoh soal itu.

*AhmadNurcholis, S.Sos., LL.M adalah dosen Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya.

Baca juga artikel terkait CHINA atau tulisan lainnya dari Ahmad Nurcholis

tirto.id - Perspektif
Penulis: Ahmad Nurcholis
Editor: Rina Nurjanah