Menuju konten utama

Banjir Beijing Sebabkan 34 Tewas & Puluhan Ribu Orang Mengungsi

Banjir besar di Beijing tewaskan 34 orang dan paksa puluhan ribu mengungsi. Curah hujan ekstrem rusak infrastruktur dan lumpuhkan aktivitas warga.

Banjir Beijing Sebabkan 34 Tewas & Puluhan Ribu Orang Mengungsi
Ilustrasi Gelombang Tinggi, foto.IStockphoto

tirto.id - Banjir besa melanda Beijing karena curah hujan ekstrem sejak 26 Juli 2025. Sedikitnya 34 orang dilaporkan tewas, 30 di antaranya berasal dari wilayah ibu kota, sementara puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat permukiman yang terendam.

Hujan deras dengan intensitas lebih dari 300 mm dalam hitungan jam membanjiri sejumlah distrik, termasuk Miyun dan Huairou, membuat sistem drainase tidak mampu menampung volume air yang masuk.

Selain korban jiwa dan evakuasi massal, dampak banjir terasa luas, baik secara material maupun non-material. Infrastruktur penting seperti jalan, jaringan listrik, dan saluran air mengalami kerusakan parah. Pemadaman listrik terjadi di lebih dari 130 desa, dan komunikasi terputus di beberapa wilayah.

Puluhan rumah rusak berat, sementara sektor sosial dan ekonomi terganggu, dari transportasi publik hingga kegiatan sekolah. Di sisi lain, warga terdampak menghadapi tekanan psikologis akibat kehilangan tempat tinggal dan ketidakpastian pasca-bencana.

Penyebab Banjir Beijing

Banjir besar di Beijing dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur sejak akhir Juli. Otoritas cuaca Tiongkok menaikkan status peringatan hujan deras dari orange menjadi merah, tingkat tertinggi dalam sistem peringatan empat level. Distrik Miyun dan Huairou mencatat curah hujan lebih dari 300 mm hanya dalam beberapa jam, menyebabkan air meluap dan sistem drainase tidak mampu mengendalikan aliran.

Kondisi ini diperburuk oleh arus udara hangat dan lembap dari wilayah subtropis, yang memicu hujan deras terus-menerus. Dua wilayah di Miyun mencatat curah hujan tertinggi, mencapai 540 mm atau setara 54 cm. Topografi Beijing yang bergelombang dan berbukit turut meningkatkan potensi banjir bandang, tanah longsor, serta genangan parah di daerah rendah.

Faktor tambahan seperti urbanisasi cepat dan infrastruktur air yang belum memadai juga memperburuk dampak banjir. Permukaan kota yang didominasi beton membuat air sulit meresap, mempercepat genangan.

Beberapa bendungan dan reservoir mencapai kapasitas maksimal dan harus melepaskan air, memperkuat arus di sungai dan kanal. Pemerintah daerah mengaktifkan sistem tanggap darurat tertinggi untuk menangani situasi ini.

Dampak Banjir Beijing

Banjir yang menerjang Beijing sejak 26 Juli telah menewaskan sedikitnya 34 orang. Sebagian besar korban berasal dari distrik Miyun (28 orang) dan Yanqing (2 orang). Di provinsi tetangga Hebei, empat orang tewas akibat tanah longsor di Luanping dan delapan lainnya masih hilang.

Lebih dari 80.000 orang telah dievakuasi, termasuk lebih dari 17.000 warga Miyun yang permukimannya terendam banjir.

Kerusakan material tercatat di ratusan titik. Lebih dari 130 desa mengalami pemadaman listrik, puluhan jalan utama rusak, dan berbagai fasilitas publik lumpuh. Komunikasi terputus di sejumlah desa seperti Huangyukou.

Infrastruktur vital seperti jalan, saluran air, dan jaringan listrik mengalami kerusakan parah, sementara puluhan kendaraan dan bangunan tersapu arus. Di Huairou, Pinggu, dan Yanqing, banyak rumah warga hancur, dan proses pemulihan masih berlangsung.

Sementara itu, dampak non-material dirasakan secara luas oleh warga. Banyak yang mengalami trauma, terutama mereka yang kehilangan rumah atau terjebak selama berjam-jam sebelum berhasil dievakuasi.

Sejumlah warga menggambarkan bagaimana banjir datang mendadak, menghanyutkan barang-barang pribadi tanpa sempat diselamatkan. Seorang warga Taishitun menyebut hanya sempat menyelamatkan diri ke lantai atas sebelum air datang menghantam rumahnya.

Pemerintah daerah, termasuk pejabat seperti Cui Di dari Shicheng Township, telah mengupayakan bantuan berupa tempat penampungan, makanan, dan kebutuhan dasar. Namun, gangguan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi belum mereda.

Layanan transportasi seperti kereta dan bus dihentikan sementara, destinasi wisata ditutup, dan kegiatan sekolah serta pekerjaan terganggu. Dalam jangka panjang, banjir ini diperkirakan menimbulkan beban pemulihan besar, baik secara fisik maupun emosional, bagi ribuan keluarga yang terdampak di Beijing dan sekitarnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Astam Mulyana

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Astam Mulyana
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Dipna Videlia Putsanra